Dalam sambutannya, perwakilan AMM, Masyfiyatul Mufida, menegaskan pentingnya peran aktif pemuda.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton. Lewat kajian ini, kami ingin mengajak teman-teman muda untuk memahami bagaimana efek pertambangan, belajar cara merawat lingkungan, dan bijak dalam setiap aktivitas, termasuk di alam bebas,” ujarnya.
Acara kemudian resmi dibuka oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Nganjuk, Muhammad Maji. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan pesan mendalam.
“Merawat bumi itu kelihatannya sepele. Tapi kalau masing-masing individu tidak sadar atau peduli, pasti akan sulit. Mari kita bangun kesadaran pribadi untuk meminimalisir penggunaan sampah plastik, mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita,” pesannya.
Ia menutup dengan optimisme: “Merubah mindset itu perlu proses, tidak ada yang instan. Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Semoga kajian ini menjadi titik tolak gerakan nyata.”
Aksi Nyata Warga Muhammadiyah
- Di akhir paparannya, Niki Alma menawarkan langkah konkret yang bisa dilakukan warga Muhammadiyah: Menawarkan tafsir transformatif terkait isu ekologis, tidak hanya membaca teks tapi juga konteks kerusakan alam.
- Membawa isu ekologi ke dalam ruang dakwah, di mimbar Jumat, pengajian, hingga majelis taklim.
- Berdakwah tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hal (keadaan dan tindakan nyata). Menjadi teladan dalam gaya hidup ramah lingkungan.
- Terlibat aktif dalam isu-isu ekologis, baik melalui advokasi kebijakan, pelatihan da’i lingkungan, maupun aksi sosial seperti penanaman pohon dan pengelolaan sampah berbasis masjid.
Kajian berlangsung interaktif dengan diskusi hangat antara peserta dan pemateri. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga saleh secara ekologis, mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments