Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Iman yang Hidup Terlihat dari Amanah

Iklan Landscape Smamda
Iman yang Hidup Terlihat dari Amanah
Foto: islamicity.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dalam kehidupan yang serba cepat dan kompetitif hari ini, sering kali kita sibuk mengejar capaian, jabatan, dan pengakuan.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Islam mengingatkan satu akhlak mendasar yang menjadi fondasi kokohnya iman dan peradaban, yaitu amanah.

Pada kesempatan ini, mari kita merenungkan bersama satu akhlak mulia yang sangat penting dalam Islam: Amanah.

Secara sederhana, amanah berarti dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab dalam menjaga serta menunaikan titipan.

Titipan itu bisa berupa harta, jabatan, pekerjaan, ilmu, waktu, bahkan perasaan dan kepercayaan orang lain. Lebih dari itu, amanah juga mencakup seluruh kewajiban yang Allah Wa Ta’ala bebankan kepada hamba-Nya.

Allah Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah bukan sekadar norma sosial atau nilai moral biasa, tetapi perintah langsung dari Allah Wa Ta’ala. Menjaga amanah adalah bagian dari ketaatan, sementara mengkhianatinya adalah bentuk pembangkangan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahkan mengaitkan amanah secara langsung dengan kualitas iman seseorang. Beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang yang tidak amanah.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menggugah hati kita. Betapa iman bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan nyata.

Coba kita bayangkan seorang pegawai yang datang tepat waktu meski atasannya tidak hadir. Ia menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, bukan karena takut dimarahi, tetapi karena sadar pekerjaannya adalah amanah.

Atau seorang pedagang kecil di pasar yang tetap jujur menimbang barang, meski pembelinya tidak akan tahu jika ia mengurangi sedikit. Sikap-sikap sederhana ini adalah cermin amanah yang hidup.

Amanah juga hadir dalam keluarga. Seorang ayah yang bekerja keras menafkahi keluarganya dengan cara halal, seorang ibu yang menjaga rumah tangga dan mendidik anak-anak dengan penuh tanggung jawab, serta anak yang menjaga kepercayaan orang tua—semua itu adalah wujud amanah.

Bahkan dalam hal ilmu dan harta, amanah sangat menentukan. Ilmu yang dimiliki tidak disalahgunakan untuk menipu atau menindas, harta tidak dipakai untuk maksiat, tetapi dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan.

Karena itu, kualitas iman kita tercermin dari seberapa kuat kita menjaga amanah:

  • Amanah dalam pekerjaan
  • Amanah dalam jabatan
  • Amanah dalam keluarga
  • Amanah dalam ilmu dan harta

Tak heran jika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, jauh sebelum diangkat menjadi nabi, telah dikenal masyarakat Makkah dengan gelar Al-Amīn, orang yang sangat terpercaya.

Bahkan orang-orang Quraisy yang memusuhi dakwah beliau tetap menitipkan harta kepadanya. Ini menunjukkan bahwa amanah adalah akhlak universal yang diakui siapa pun.

Sebaliknya, mengkhianati amanah membawa banyak kerusakan. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap.

Hubungan antarindividu, keluarga, bahkan masyarakat bisa rusak. Lebih dari itu, pengkhianatan amanah mendatangkan murka Allah Wa Ta’ala.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Na’udzubillahi min dzalik. Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita tidak meremehkan amanah, sekecil apa pun bentuknya.

Lalu, bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang amanah dalam kehidupan sehari-hari?

Niatkan setiap tugas sebagai ibadah kepada Allah Wa Ta’ala. Dengan niat yang lurus, pekerjaan apa pun—besar atau kecil—akan bernilai pahala.

Laksanakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, meski tidak diawasi
Karena pengawasan sejati bukan dari manusia, tetapi dari Allah Yang Maha Melihat.

Biasakan jujur dalam hal kecil maupun besar. Kejujuran kecil yang dijaga akan melahirkan amanah besar.

Berani menolak amanah jika memang tidak mampu.  Menolak dengan jujur jauh lebih mulia daripada menerima lalu mengkhianati, karena itu berarti kita tidak menzalimi orang lain.

Ingatlah sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Amanah adalah kunci keberkahan hidup. Dengan amanah, Allah Wa Ta’ala akan menambah kepercayaan, melapangkan rezeki, memperbaiki hubungan, dan menenangkan hati kita. Hidup mungkin sederhana, tetapi penuh makna dan ridha-Nya.

Mari kita mohon kepada Allah Ta’ala agar dijadikan hamba-hamba-Nya yang kuat menjaga amanah, konsisten dalam kejujuran, dan istiqamah dalam tanggung jawab, hingga akhir hayat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu