PWMU.CO – Demonstrasi menggelora di mana-mana setelah tewasnya pengemudi ojek online atau ojol berusia 21 tahun, Affan Kurniawan. Tak terkecuali di Jember dan daerah-daerah lain di Jawa Timur.
Di Jember, Koalisi yang mengatasnamakan Amarah Masyarakat Jember (AMJ) pun tidak ketinggalan. Koalisi antara organisasi ekstra kampus yang terdiri dari: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang berada di Jember.
Bersama elemen masyarakat, mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Polres Kabupaten Jember, Jumat (30/08/2025).
Long March
Aksi unjuk rasa bermula dengan Long March dari Double Way Universitas Negeri Jember (UNEJ) pada pukul 11.06 WIB. Massa pengunjuk rasa bergerak dan berkumpul di bundaran DPRD Jember.
Di tempat ini, mereka bergantian melakukan orasi dan pembacaan puisi serta menyanyikan lagu-lagu perlawanan.
Hal ini sebagai simbol ekspresi kekecewaan terhadap penyelenggaraan demokrasi dan pemerintahan yang sewenang-wenang. Namun mereka sama sekali tidak ditemui oleh anggota dewan.
Pukul 11.37 WIB, massa aksi melanjutkan long march ke Polres Jember. Sesampainya di Polres, massa aksi tersambut kepolisian dan TNI yang telah bersiaga di halaman Polres Jember. Satu unit mobil water cannon turut disiapkan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Kapolres Jember, AKBP Bobby Adimas Candra Putra, turun langsung menyaksikan jalannya aksi. Orasi, yel-yel, hingga teatrikal menjadi cara massa menyampaikan kegelisahan mereka.
5 Poin Tuntutan
Pada kesempatan itu, massa aksi juga menyatakan sikap, mahasiswa menyampaikan lima poin tuntutan. Antara lain:
Pertama, Bebaskan seluruh massa aksi yang ditahan.
Kedua, Usut tuntas dan adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi perintahnya.
Ketiga, Evaluasi institusi polri secara menyeluruh.
Keempat, Copot Kapolri Sigit Listyo Prabowo karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian.
kelima, Presiden dan DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
Dari kelima tuntutan yang ada, hanya empat tuntutan yang disanggupi oleh Kapolres. “Untuk beberapa tuntutan, kami siap meneruskan ke tingkat lebih tinggi” ujar Kapolres Bobby di hadapan peserta aksi.
Kapolres Bobby menyatakan kesediaannya untuk meneruskan beberapa tuntutan massa ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun, situasi berubah ketika sampai pada poin keempat yang menuntut pencopotan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Kapolres Bobby menolak membacakan tuntutan tersebut dengan alasan hal itu berada di luar kewenangan institusinya di tingkat daerah.
“Mohon maaf, tuntutan tersebut tidak bisa kami penuhi. Hal itu di luar kapasitas kami di daerah” tegasnya, memancing reaksi keras dari pendemo.
Reaksi Massa
Penolakan ini memicu reaksi keras dari para pengunjuk rasa. Massa yang kecewa kemudian berteriak semakin lantang dan mendesak Kapolres untuk menandatangani seluruh poin tuntutan tanpa terkecuali.
Ketidakpuasan massa akhirnya berubah menjadi aksi anarkis; Kapolres yang awalnya turun untuk berdialog menjadi sasaran lemparan botol dan kayu. Beruntung anggota polres jember sigap dan segera mengamankan kapolres dari amarah pendemo.
Ketua bidang organisasi IMM komisariat Tawangalun Immawan Haikal menyatakan “sebagai mahasiswa kami adalah garda terdepan dalam menjaga nalar dan hati nurani, kami takkan diam melihat ketidakadilan” terangnya.
“Gerakan ini bukan hanya sekedar unjuk rasa melainkan tanggung jawab moral dan intelektual untuk menyurakan aspirasi rakyat yang tak terdengar, dan hanya ada satu kata LAWAN” tegasnya.
Massa aksi pun membubarkan diri ketika adzan Maghrib berkumandang.





0 Tanggapan
Empty Comments