Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

IMM Menyoal Urbanisasi, Ini Pesan Anggota DPRD Kota Surabaya

Iklan Landscape Smamda
IMM Menyoal Urbanisasi, Ini Pesan Anggota DPRD Kota Surabaya
Muhammad Saifuddin SSos ketika menyampaikan pemaparannya di Stadium Generale Pembukaan DAMNAS dan PID Regional PC IMM Kota Surabaya (Bayu/PWMU.CO)
pwmu.co -

PWMU.CO – Anggota DPRD Kota Surabaya Muhammad Saifuddin SSos menegaskan, Surabaya memiliki peran strategis sebagai pusat berbagai aspek penting di Jawa Timur.

Hal itu ia sampaikan dalam Stadium Generale Pembukaan Darul Arqom Madya Nasional (DAMNAS) dan Pelatihan Instruktur Dasar (PID) Regional Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Surabaya, Rabu (13/8/2025) di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Surabaya adalah sentral dari sentral di Provinsi Jawa Timur. Kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, dan pergerakan,” ujarnya di hadapan peserta yang datang dari berbagai provinsi, seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Kalimantan.

Menurutnya, peran sentral ini menjadikan Surabaya sebagai entitas penting yang perlu dirawat bersama. “Siapapun aktivis yang lahir di Surabaya, saya yakin akan menjadi kader bangsa. Tapi jika tidak memahami energi positif kota ini, maka akan tertinggal,” tegasnya.

Ia menambahkan, sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya membentuk karakter mahasiswa yang berproses di dalamnya. “Ketika lulus, mereka akan menjadi sarjana yang sujana, bukan sarjana yang diperbudak kapitalisme atau dieksploitasi neo-imperialisme,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung fenomena urbanisasi yang dinilainya sebagai keniscayaan. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mendorong masyarakat pindah ke kota, yakni kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan.

Ia mencontohkan pengalamannya pada 2004, ketika pindah dari kampung halamannya di Kabupaten Sampang ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Universitas Bhayangkara Surabaya. Proses ini, katanya, tidak semata mencari penghidupan, tetapi juga membangun kapasitas diri.

Banyak rekan dari berbagai organisasi mahasiswa di Indonesia, sambungnya, memilih menetap di kota hingga memiliki bekal pengetahuan dan sumber daya sebelum kembali membangun daerah asal.

Saifuddin
Penyerahan Cinderamata PC IMM Kota Surabaya kepada Muhammad Saifuddin SSos pada Stadium Generale Pembukaan DAMNAS dan PID Regional (Bayu/PWMU.CO)

Saifuddin berpesan kepada mahasiswa agar mampu mengelola pola pikir layaknya warga kota yang berilmu, meskipun berasal dari desa. Urbanisasi, menurutnya, tidak boleh membuat seseorang kehilangan etika dan prinsip gerakan. “Kalau sudah memegang etika dan prinsip, kita akan mampu mewarnai, tapi tidak bisa diwarnai. Urbanisasi itu baik jika diwarnai oleh hal-hal yang hasanah (baik), bukan yang dholalah (buruk)” pungkasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Saifuddin juga mengulas sejarah gerakan mahasiswa Indonesia dari era 1966, 1998, hingga masa kini. Ia menyebut, gerakan 1966 berhasil menurunkan rezim Orde Lama dengan isu utama pembubaran Nasakom. Gerakan 1998 menjatuhkan Orde Baru yang bercorak otoritarian dan diktator. Namun pasca reformasi 1998 hingga 2025, musuh utama gerakan mahasiswa menjadi tidak jelas.

“Setelah saya kaji, ternyata musuh utama pasca reformasi 1998 adalah sifat atau paham apatisme. Bung Karno pernah berkata, saya mudah menaklukkan kelompok imperialis, tapi sulit menaklukkan bangsa sendiri yang egocentris. Apatisme itu saudaranya egocentris,” tuturnya.

Ia menilai, sikap apatis banyak ditemukan di perkotaan. “Bayangkan, ketika ada yang kecelakaan, bukan menolong, malah selfie. Dulu kalau ada rakyat yang tertindas, kelompok pergerakan pasti bergerak. Sekarang, gerakan heroik 2020–2025 hampir tidak ada,” tambahnya.

Saifuddin mengingatkan, penguasa justru takut kepada kelompok pergerakan yang kritis dan memberi terapi sosial-politik, bukan kepada preman. Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak sekat organisasi.

Menurutnya, membaca, menganalisis, mengkaji, dan beraksi adalah jalan untuk memperkuat kapasitas gerakan. “Ketika teman-teman melakukan urbanisasi, jadilah kelompok hebat yang memberi jangkauan luas, bukan sekadar pulang kampung tanpa bekal. Jangan terlalu mendewakan bendera, tapi kuatkan kolaborasi,” pesannya.

Agenda DAMNAS dan PID ini dijadwalkan berlangsung hingga Ahad, 17 Agustus 2025, dengan berbagai kegiatan internalisasi ideologi dalam pengkaderan utama (DAM) dan pengkaderan khusus (PID).

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu