Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Jember (UNEJ) sukses menggelar Diskusi Publik pada Sabtu (01/11/25) di Gedung Kewirausahaan UNEJ bertajuk “Muhammadiyah dan Spirit Intelektualisme di Perguruan Tinggi Negeri”.
Acara ini merupakan bagian dari upaya IMM untuk menegaskan peran organisasi dalam memajukan budaya berpikir kritis dan progresif di lingkungan kampus negeri. Diskusi yang menarik perhatian puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas ini berlangsung hangat dan interaktif di Gedung Kewirausahaan UNEJ.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber utama Ir. Khairul Anam, S.T., M.T., Ph.D, IPM., ASEAN. Eng. seorang Kepala Program Studi Magister Teknik Elektro dan Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra., S.TP., M.Eng., M.Ag., Ph.D. yang merupakan Kepala UPA TIK.
Ir. Khairul Anam, S.T., M.T., Ph.D, IPM., ASEAN. Eng. dalam paparannya menekankan bahwa spirit intelektualisme Muhammadiyah adalah roh dari gerakan tajdid. Ia menjelaskan bahwa kehadiran Muhammadiyah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yang diwakili oleh kader IMM, bukan sekadar untuk eksis secara organisasi, tetapi untuk menyuntikkan nilai-nilai keunggulan.
“Intelektualisme kita harus mampu menjembatani iman, ilmu, dan amal. Kader IMM harus menjadi contoh bagi mahasiswa lain dalam hal prestasi akademik, sekaligus memiliki komitmen sosial yang tinggi. Kita harus menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya cerdas, tetapi juga membawa solusi bagi masalah umat,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra., S.TP., M.Eng., M.Ag., Ph.D. menyoroti tantangan yang dihadapi oleh kader IMM dalam konteks PTN. Menurutnya, PTN adalah arena persaingan gagasan yang ketat. Oleh karena itu, IMM harus memanfaatkan peluang ini untuk menjadi pusat kajian strategis.
“Keunggulan SDM IMM terletak pada fondasi spiritualnya. Modal ini harus diterjemahkan ke dalam kemampuan hard skill dan soft skill yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat modern. Jika hanya berbekal semangat tanpa keahlian, kita akan tertinggal,” ujarnya.
Ia juga menekankan Al-Ahzab ayat 70 bagi seorang intelektual, qaulā sadiidā berarti menyampaikan ilmu dan data secara objektif. Menghindari plagiarisme dan berani menyuarakan kebenaran, meskipun pahit (prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar).
Acara yang dipandu oleh moderator Linda Handayani ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang membahas tentang perkembangan teknologi serta peningkatan spirit berorganisasi di IMM.
Haikal Azharil sebagai peserta kegiatan mengungkapkan bahwa kegiatan ini. “Suatu kebanggaan bagi kami bisa mempertemukan dosen dan tendik Muhammadiyah di forum besar ini yang pastinya bukan hanya ilmu akan tetapi juga ilmu,” tegasnya.
Diskusi publik ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi kader-kader IMM UNEJ untuk terus mengasah kapasitas intelektual mereka dan konsisten dalam menjalankan misi dakwah dan kemanusiaan.


0 Tanggapan
Empty Comments