Ayat “kutiba” dalam bulan Ramadan bukanlah sesuatu yang baru dibahas dalam sebuah tulisan. Sebenarnya sudah disampaikan jauh hari oleh penulis Muhammadiyah, Nur Cholis Huda. Ia telah menyinggungnya dalam buku WhatsApp Hasanah, WhatsApp Dlalalah 30 Kultum Ramadhan. Terbut pada tahun 2017.
Konon, spesialisasi kutiba Ramadan ini tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Alkisah, suatu hari seorang takmir masjid berkata kepada penceramah tentang kisi-kisi ceramah Ramadan. Judulnya bebas, asal bukan ayat kutiba. Karena, lanjut sang takmir sudah banyak penceramah menyampaikan ayat kutiba, dan sudah berlangsung selama tahunan.
Yang dimaksud ayat kutiba tersebut tentu saja QS al-Baqarah ayat 183. Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikum ash-shiyamu kamaa kutiba ‘alaladziina min qablikum la’allakum tattaquun. Karena transliterasi dari bahasa Arab, anggap saja tulisan ini benar. Artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Kutiba sebenarnya bukan ayat khusus kewajiban puasa. Menurut ahli, kata ini setidaknya termaktub dalam 13 tempat dalam Alqur’an dengan kewajiban beragam. Tentu saja akan lebih banyak tempat lagi jika merujuk pada akar kata “ka-ta-ba”.
Kutiba dalam al-Baqarah yang berdekatan ayat 183 saja ada dua tempat: 178 dan 180. Sementara ayat 183 ada 2 kutiba tersendiri. Keduanya berbicara tentang kewajiban qishash dan berwasiat. Tapi yang paling masyhur mendekati ikonik selama Ramadan tiba adalah al-Baqarah ayat 183. Tak heran jika muncul istilah ayat kutiba untuk menggambarkan kewajiban puasa itu.
Dalam satu masjid selama Ramadan, entah berapa kali ayat kutiba ini dibaca. Baik saat penceramah sedang mengisi khutbah Jum’at maupun kajian lainnya yang juga semarak selama Ramadan. Yang masyhur secara berutan adalah ceramah Tarawih ba’da Isya’, ceramah ba’da Subuh, dan ceramah jelang buka puasa. Ada yang kurang, dan ada yang lebih banyak.
Pada sisi lain, pertumbuhan masjid dan mushalla di Indonesia juga luar biasa. Sehingga dalam sebulan Ramadan, bukanlah fenomena aneh jika seorang penceramah punya jadwal cermah full sebulan. Dengan masjid dan mushalla yang berbeda setiap momennya. Lebih tidak aneh lagi penceramah mengisi 15 kali kali dalam sebulan.
Untuk mengindari ceramah yang membosankan, terkadang takmir masjid/musholla berinovasi. Bukan itu lagi itu lagi. Ada takmir yang membuat batasan pokoknya bukan ayat kutiba, bahkan ada yang membuatkan tema untuk masing-masing sesi ceramah. Tapi harus diakui jika lebih banyak yang sebatas mencatat jadwal imam-ceramah.
Selain ayat kutiba, juga ada fenomena unik lainnya (Semoga tidak terjadi pada penceramah Muhammadiyah). Ada seorang penceramah yang mendapat jadwal penuh sebulan, tapi di masjid dan mushalla yang berbeda. Anggap saja misalnya jadwal 30 kultum Tarawih. Namun dalam perputaran ceramah itu, materi yang disampaikan dalam 30 kali pertemuan itu tidak lebih dari 3 tema. Artinya, materi satu ceramah terus diulangi saat di tempat yang berbeda.
Sebagai iseng-iseng yang bermanfaat, sesekali adakan survei terbatas. Biar kelihatan agak ilmiah. Sesekali dalam sepekan di Ramadan, ikutilah jadwal ceramah Tarawih si Fulan. Tentu saja tanpa sepengetahuan si Fulan untuk menghindari adanya deviasi. Setelah sepekan mengikuti, Anda mungkin bisa menghitung berapa tema yang diceramahkan selama 7 hari itu.
Waspada Inflasi Ceramah
Tak heran jika Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti pernah mengingatkan untuk mewaspadai adanya inflasi ceramah selama Ramadan. Ceramah digelar di mana-mana dengan minimal sekali dalam sehari: masjid, mushalla, hingga sekolah. Inflasi terjadi karena pematerinya kekurangan literasi, dan materinya kurang mendalam. Kurang berisi, begitu bahasa sederhananya.
Inflasi ceramah selama Ramadan tentu saja bisa dicegah jika semua penceramah selalu punya literasi mendalam. Suka membaca, bukan hanya suka bicara. Ini menilik pada kesejarahan awal Islam, “membaca” adalah point penting bagi keberlangsungan sebuah peradaban. Hal ini secara jelas bisa dilihat dari wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, QS al-’Alaq: 1-5, yang secara garis besar berbicara tentang membaca (iqra’).
Dalam berbagai ayat lain, Islam juga secara vulgar menginginkan umatnya mempunyai kompetensi dalam membaca, meneliti, serta mengetahui. Dalam Surat al-Mujadalah/: 11, disebutkan bahwa ketinggian derajat seorang tidak bisa dicapai hanya dengan “beriman” saja, melainkan harus dilengkapi dengan syarat pengetahuan yang memadai.
Nabi Muhammad juga menunjukkan transformasi edukasi yang spektakuler dalam menciptakan masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Nabi pernah menghukum para tahanan untuk menjadi guru bagi sahabat-sahabat atau komunitasnya yang masih buta aksara. Kebijakan ini berbuah banyak sumber daya manusia berkualitas, sebagai tumpuan tegaknya peradaban Islam.
Selama Ramadan, arena ceramah digelar di mana-mana. Jangan sampai media pembelajaran umat itu mengabaikan kualitas dengan materi itu-itu saja. Apalagi materi itu-itu saja oleh seorang penceramah disampaikan ke berbagai tempat ceramah yang berbeda.
Dengan banyak membaca, lebih-lebih untuk penceramah, tentu akan mengindarkan Ramadan dari inflasi ceramah.






0 Tanggapan
Empty Comments