Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ingat! Syirik Itu Lebih Halus dari Jejak Semut di Malam Gelap

Iklan Landscape Smamda
Ingat! Syirik Itu Lebih Halus dari Jejak Semut di Malam Gelap
Ilustrasi: Istimewa
pwmu.co -

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH Nadjih Ihsan, M.Si, menyampaikan ceramah yang menekankan kembali arti penting tauhid sebagai inti dari ajaran Islam.

Dengan bahasa yang lugas dan penuh ketegasan, dia mengingatkan jamaah bahwa kalimat la ilaha illallah bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sebuah ikrar mendalam yang menjadi penentu keselamatan seorang Muslim di akhirat kelak.

“Syahadat itu adalah kunci surga. Tetapi kunci ini bisa rusak, bisa patah, bahkan bisa hilang jika kita tidak berhati-hati. Dan yang paling berbahaya adalah syirik, karena syirik itu musuh utama tauhid,” ujar KH Nadjih Ihsan seperti dikutil dari kanal  Youtube Masjid Al Falah Surabaya Official.

Dalam penjelasannya, Kiai Nadjih membedah makna syahadat dengan sederhana namun mendalam. Dia menekankan bahwa di dalam kalimat la ilaha illallah terkandung dua aspek besar: nafi (peniadaan) dan isbat (penetapan).

La itu artinya meniadakan segala bentuk sesembahan selain Allah. Tidak ada berhala, tidak ada kekuatan gaib, tidak ada jimat, tidak ada manusia pun yang boleh dijadikan sandaran ibadah. Sementara illallah menetapkan hanya Allah yang berhak disembah. Jadi, syahadat itu bukan hanya pengakuan, tapi juga perlawanan terhadap segala bentuk kesyirikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, orang yang memahami tauhid dengan benar akan merasakan kebebasan sejati.

“Kalau tauhidnya lurus, manusia tidak akan takut kepada selain Allah, tidak akan terikat pada benda, tidak akan terjebak pada tahayul. Yang ada hanya ketundukan kepada Allah semata,” ujarnya.

Kiai Nadjih Ihsan kemudian menggambarkan bahwa seluruh ciptaan Allah sesungguhnya telah tunduk pada hukum-Nya. Tumbuhan, hewan, air, api, bahkan benda mati sekalipun tidak pernah melawan ketentuan Allah.

“Kertas kalau dimasukkan ke dalam air pasti basah, kalau dibakar pasti terbakar. Itu bentuk kepatuhan benda kepada Allah. Maka manusia pun semestinya lebih tunduk lagi, karena kita diberi akal dan hati,” katanya.

Namun, lanjut beliau, ketundukan manusia berbeda dengan alam. Alam tunduk karena sunnatullah yang tak bisa dilawan, sedangkan manusia dituntut tunduk dengan kesadaran, pilihan, dan keikhlasan.

“Inilah bedanya manusia dengan makhluk lain. Kita dituntut tunduk melalui tauhid dan mengikuti ajaran Rasulullah saw,” tegasnya.

Kiai Nadjih menegaskan, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw, semua dakwah para rasul berporos pada tauhid. Ajaran tentang salat, zakat, atau hukum-hukum lainnya datang belakangan setelah tauhid ditanamkan.

“Rasulullah saw di Makkah 13 tahun itu hanya fokus satu: tauhid. Beliau ajarkan manusia agar meninggalkan sesembahan selain Allah. Baru setelah hijrah ke Madinah, beliau ajarkan syariat yang lebih detail, seperti salat berjamaah, zakat, jihad, dan sebagainya,” tuturnya.

Sebagai penguat, Kiai Nadjih Ihsan mengingatkan pesan Rasulullah saat mengutus sahabatnya, Mu’adz bin Jabal, ke Yaman. Pesan pertama bukanlah tentang zakat atau hukum muamalah, tetapi ajakan kepada kalimat tauhid.

“Artinya, tauhid itu pintu masuk segalanya. Kalau tauhidnya rusak, amal sebaik apa pun tidak ada nilainya,” jelasnya.

Di tengah masyarakat, banyak keyakinan yang secara halus merusak tauhid. Misalnya, kepercayaan bahwa cincin, sabuk, atau benda pusaka bisa memberi keselamatan. Menurut Kiai Nadjih, keyakinan semacam ini harus diluruskan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Inilah tugas besar Nabi Muhammad saw, meluruskan akidah umat dari segala keyakinan kotor. Sebab, kalau orang masih percaya benda, berarti ia sudah menyaingi Allah. Padahal yang memberi manfaat dan mudarat hanya Allah,” ujarnya.

Selain meluruskan akidah, Nabi juga datang untuk meluruskan tata cara ibadah.

“Semua ibadah harus sesuai contoh Rasulullah. Tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi. Kalau mau salat, salatlah sebagaimana Rasulullah salat. Kalau mau zakat, zakatlah sebagaimana beliau ajarkan. Karena jaminan surga hanya untuk mereka yang mengikuti beliau,” tambahnya.

Kiai Nadjih juga mengisahkan bagaimana kaum Quraisy pernah menawarkan harta, kekuasaan, dan wanita agar Rasulullah menghentikan dakwah tauhid. Namun Rasulullah dengan tegas menolak.

“Andai matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti berdakwah sampai Allah memenangkan agama ini. Itu keteguhan Nabi. Bayangkan, dunia sudah ditawarkan, tapi beliau tetap memilih tauhid,” kata Kiai Nadjih.

Dia lalu menegur jamaah dengan halus. “Kalau kita yang ditawari miliaran rupiah untuk meninggalkan kebenaran, apakah kita masih bisa tegar seperti Nabi? Inilah ujian keimanan. Jangan sampai harga diri kita dijual murah karena tergoda dunia.”

Kiai Nadjih menekankan kembali bahwa tauhid adalah miftahul jannah (kunci surga). Namun, kunci itu bisa hilang dengan cara yang sangat halus, tanpa disadari.

Dia mengutip ucapan Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa syirik itu lebih samar dari jejak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam gelap.

“Maka jangan anggap remeh. Syirik itu bisa masuk lewat rasa riya, pamer amal, atau meyakini doa tertentu lebih manjur kalau ditempatkan di benda. Padahal semua hanya bergantung pada Allah,” jelasnya.

Dia juga menegaskan, syahadat tidak boleh diterjemahkan secara sederhana dengan “tidak ada Tuhan selain Allah.”

Menurutnya, terjemahan itu kurang tepat. Yang benar adalah “tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

“Kalau hanya sekadar mengakui ada Tuhan, orang-orang musyrik Quraisy pun sudah mengakuinya. Tapi masalahnya, mereka masih menyembah selain Allah. Nah, di sinilah letak perbedaan antara tauhid dan syirik,” paparnya.

Kiai Nadjih mengajak dengan penuh kesadaran kepada jamaah agar selalu memperdalam ilmu tauhid, membaca kitab-kitab akidah, dan tidak bosan mengulang kajian tentang syahadat.

“Kalau kunci rumah hilang, kita bisa buat lagi. Kalau kunci surga hilang, kita mau minta ke siapa? Jangan sampai kalimat la ilaha illallah yang kita ucapkan sejak kecil rusak karena perbuatan syirik. Itulah kunci keselamatan kita, dunia dan akhirat,” tandasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu