
PWMU.CO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Grabagan Tulangan Sidoarjo mengadakan kajian rutin setiap Sabtu ba’da Magrib di Masjid Al-Mahdi Perumtas 3, Grabagan, Kabupaten Sidoarjo.
Pada Sabtu (17/5/2025), kajian ini diisi oleh Dosen Kesehatan Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), dr Tjatur Priambodo MKes. Pada kajian ini, tema yang diangkat adalah “Ingin Sehat? Pahami 4G.”
Mengawali kajian, dr Tjatur, menceritakan pengalamannya saat bertugas di RS Aisyiyah Siti Fatimah.
Ia menyebutkan adanya lonjakan jumlah pasien pada bulan sebelum dan sesudah Ramadan, bulan Syawal, serta bulan Dzulhijah. Beragam penyakit diderita masyarakat; baik kasus ringan maupun berat, semuanya meningkat.
Ia juga menyimpulkan bahwa banyak penyakit muncul akibat pola makan yang keliru, yang ia rangkum dalam istilah “4G.”
1. Gula
Menurut dr Tjatur, tubuh tetap membutuhkan gula, tetapi asupannya sebaiknya dibatasi maksimal 200 kalori per hari. Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan kadar gula darah dan berujung pada diabetes. Solusinya adalah memilih sumber gula dengan indeks glikemik rendah atau membatasi konsumsi gula agar tidak berlebihan.
“Allah menciptakan setiap penyakit beserta obatnya,” tambah dr.Tjatur.
2. Garam
Selain itu, dr Tjatur juga mengungkapkan bahwa Garam terdiri dari unsur kimia natrium (Na), dan Tubuh sebenarnya sudah dapat mengatur serta memproduksi natrium secara mandiri meskipun menerima asupan garam dari luar.
“Apabila asupan garam dari makanan yang kita konsumsi terus-menerus berlebihan, tubuh akan terbebani. Hal ini dapat berujung pada penyakit hipertensi dan memicu timbulnya penyakit lain,” ujarnya.
3. Gurih
Menurut dr Tjatur, rasa gurih sering kali identik dengan bahan pengawet yang terdapat dalam produk seperti sosis, nugget, pentol, dan mie instan. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa di Indonesia, banyak orang salah paham saat mengonsumsi mie instan, terutama ketika mie instan dimakan bersamaan dengan nasi. Hal ini menyebabkan asupan karbohidrat menjadi berlebihan, ditambah lagi dengan kandungan bahan pengawet dalam mie instan.
“Makanan gurih sebaiknya dibatasi dan anak-anak perlu diedukasi, terutama mereka yang gemar mie instan seperti ‘mie Gacoan’. Banyak anak mengikuti tren makanan kurang sehat,” tambah Dosen Kesehatan Islam UMS tersebut.
4. Gorengan
Dr Tjatur bertanya kepada jamaah, “Menurut Anda, lebih banyak gorengan dikonsumsi sebelum atau selama Ramadan?.”
Serentak jamaah menjawab bahwa konsumsi gorengan meningkat pada bulan Ramadan saat berbuka, setelah shalat Tarawih, maupun kala tadarus. Kebiasaan berlebihan ini memicu penumpukan lemak jenuh atau lemak jahat.
“Dalam istilah kedokteran, kondisi ini disebut low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol LDL. LDL kerap dijuluki ‘kolesterol jahat’ karena kadar yang tinggi dapat menumpuk sebagai plak di dinding arteri, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan masalah kesehatan lainnya,” jelas dr Tjatur.
Salah seorang jamaah, Ridwan Ma’ruf, bertanya, “Dokter, mitos atau fakta, minum air hangat bisa melarutkan lemak yang kita konsumsi?.”
“Itu hanya mitos,” jawab dr Tjatur.
Ia juga menyebut bahwa baik air hangat maupun air dingin tidak dapat menghilangkan lemak.
“Dok, bagaimana kalau kita mengonsumsi gorengan yang dimasak dengan minyak terbaik dan hanya sekali pakai? Apakah tetap aman?” tanya salah satu jamaah, Sudirman.
dr. Tjatur menjawab bahwa pada prinsipnya, gorengan tetap harus dikonsumsi dengan bijak. Idealnya cukup sekali dalam seminggu. Misalnya Anda makan gorengan pada hari Sabtu, beri jeda dulu, puasa gorengan hingga setidaknya hari Rabu berikutnya.
Di akhir kajian, Dosen UMS ini mengharap jamaah untuk menilai diri sendiri apakah pola makan sudah sesuai anjuran Nabi atau belum.
“Hidup ini pilihan dan semoga jamaah Masjid Al Mahdi bisa memahami apa itu 4G serta senantiasa diberi kesehatan jasmani dan rohani,” tutup dr Tjatur di akhir kajian.
Kajian ini bisa diakses secara online cukup klik di chanel youtube almahdi tv. (*)
Penulis Sumardani Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments