Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ingkar Sunnah di Era Media Sosial: Tantangan Serius bagi Studi Hadis

Iklan Landscape Smamda
Ingkar Sunnah di Era Media Sosial: Tantangan Serius bagi Studi Hadis
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Addelia. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Addelia Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pwmu.co -

Media sosial berkembang dan membawa perubahan yang besar, sebagaimana cara umat Islam mengakses, memahami, dan mendiskusikan tentang ajaran Agama.

Otoritas keagamaan banyak yang bertumpu pada ulama, lembaga pendidikan Islam, dan kitab klasik, dan sekarang ruang digital menghadirkan aktor baru yang sering kali tidak memiliki kompetensi keilmuan yang memadai.

Salah satu fenomena yang mencuat saat ini yaitu narasi ingkar sunnah, sebuah pemahaman yang menolak dan meragukan otoritas hadis sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Quran.

Di era media sosial seperti saat ini, ingkar sunnah bukan hanya menjadi perdebatan akademik, melainkan sudah berubah menjadi tantangan yang cukup serius bagi studi hadis dan pemahaman Islam secara menyeluruh.

Media sosial saat ini telah menggeser pola tradisional trasnmisi ilmu keagamaan. Belajar hadis dulunya memiliki proses yang cukup panjang, berguru pada ahlinya, mempelajari ilmu musthalah hadis, memahami konteks sanad dan matan, dan merujuk pada kitab otoritatif.

Namun sekarang, seseorang dapat mengklaim pendapat keagamaan hanya dengan modal potongan ayat, terjemahan hadis, dan logika personal yang dirangkum dalam sebuah video berdurasi kurang lebih satu menit. Hal tersebut menyebabkan munculnya sebuah otoritas keagamaan instan.

Dampak yang diberikan mencakup popularitas, jumlah pengikut, dan kemampuan retorika untuk menentukan pengaruh seseorang dibandingkan dengan kedalaman ilmu.

Ingkar sunnah saat ini menemukan ruang yang subur, media sosial memungkinkan penyebaran gagasan yang kontroversial tanpa melalui mekanisme verifikasi ilmiah lebih lanjut.

Algoritma platform lebih cenderung mengangkar konten yang provokatif, nilai yang lebih menarik dan menghasilkan sebuah interaksi lebih tinggi.

Pandangan yang menolak hadis sering kali tampil seolah-olah rasional, progresif, dan kembali ke al-Quran, namun kenyataannya menyederhanakan persoalan metodologis yang kompleks dalam studi Islam.

Narasi ingkar sunnah dimedia sosial memiliki ciri khas tersendiri. Seperti penggunaan bahasa yang persuasive dan simplistic, hadis sering kali digambarkan sebagai produk manusia yang penuh dengan kesalahan, bertentangan dengan akal sehat, tidak relevan dengan perkembangan zaman saat ini.

Adanya pertentangan yang tajam antara al-Quran dan hadis, yang seolah-olah keduanya berdiri berseberangan. Hadis diposisikan sebagai ancaman bagi kemurnian al-Quran, bukan sebagai penjelas dan penguatnya lagi.

Narasi ingkar sunnah juga sering mengabaikan tradisi hadis yang telah berkembang berabad-abad. Ilmu jarh wa ta’dil, kritik sanad dan matan, perdebatan ulama klasik dan kontemporer sering disederhanakan atau dihilangkan seluruhnya.

Ingkar sunnah juga kerap dibungkus dengan semangat antiotoritarisme, seolah-olah ulama hadis merupakan pihak yang mengekang kebebasan berpikir umat.

Ruang digital saat ini, narasi mudah sekali untuk diterima, terurama generasi muda yang bergantung pada pola konsumsi informasi yang cepat dan visual.

Tanpa menggunakan literasi keagamaan yang memadai, kritik terhadap hadis yang harusnya memiliki sifat akademik berubah menjadi penolakan total yang emosional dan ideologis.

Ingkar sunnah memberikan dampak yang sangat serius terhadap pemahaman Islam, hadis bukan hanya sumber hukum kedua setelah al-Quran, melainkan juga memperjelas praktik ajaran Islam.

Tanpa adanya hadis, umat Islam akan mengalami berbagai kesulitan untuk memahami tata cara shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya secara detail dan utuh. Al-Quran memberikan berbagai prinsip umum, hadis sebagai penjelas detail dalam pelaksanaannya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Hadis yang ditolak juga memiliki peluang untuk melahirkan pemahaman Islam yang sangat subjektif. Setiap orang merasakan berhak untuk menafsirkan al-Quran sesuai dengan logika dan preferensinya sendiri tanpa ada rujukan metodologis yang jelas.

Untuk jangka panjang, hal tersebut dapat menimbulkan berbagai pemahaman keagamaan dan dapat melemahkan kohesi umat.

Ingkar sunnah dapat mengurangi nilai Islam yang menjadi sekadar teks tanpa konteks historis. Sunnah Nabi merupakan representasi yang konkret dari nilai al-Quran yang dapat diterapkan di kehidupan nyata. Sunnah yang diabaikan, sama saja dengan mengabaikan teladan Nabi Muhammad SAW. sebagai uswah hasanah bagi umat Islam.

Ingkar sunnah diera media sosial menghadirkan sebuah tantangan yang besar untuk studi hadis. Seperti tantangan epistemologis, yang menjelaskan otoritas hadis di tengah budaya digiyal yang spektis terhadap tradisi dan otoritas.

Studi hadis juga tidak cukup hanya bertahan di ruang akademik yang tertutup, melainkan harus mampu hadir dalam ruang diskursus public dengan penggunaan bahasa yang komunikatif.

Tantangan metodologis, kritik terhadap hadis merupakan bagian dari keilmuan Islam. Di era media sosial seperti saat ini, kritik sering dilepaskan kerangkan metodologi ilmiahnya.

Studi hadis menghadapi tantangan seperti membedakan antara kritik ilmiah yang konstruktif dan penolakan ideologis yang tidak berdasar.

Tantangan pedagogis, generasi muda banyak yang memandang ilmu hadis sebagai disiplin ilmu yang cukup rumit, kaku dan tidak relevan.

Ketika studi hadis gagal menjelaskan relevansinya dengan persoalan kontemporer, maka di ruang digital akan terus diisi dengan narasi alternatif yang dapat menyesatkan pendengarnya.

Penguatan literasi hadis dapat menjadi langkah yang strategis untuk menghadapi tantangan yang tidak dapat ditawar.

Literasi hadis bukan hanya kemampuan dalam menghafal sebuah teks hadis, melainkan juga pemahaman tentang proses periwayatan, metode kritik hadis, konteks historis, dan relevansi hadis di kehidupan modern.

Kajian hadis di media sosial memerlukan sebuah upaya yang sistematis untuk menghadirkan sebuah pendekatan yang menarik dan juga mudah di pahami, tanpa mengorbankan akurasi ilmiah.

Para ulama, akademisi, atau lembaga pendidikan Islam harus aktif dalam mengisi ruang digital dengan konten-konten edukatif yang dapat memberikan pencerahan. Pendidikan hadis di lembaga formal juga perlu diperkuat dengan pendekatan yang konstekstual dan dialogis.

Mahasiswa dan juga pelajar tidak hanya diajarkan menerima hadis saja, melainkan juga pemahaman bagaimana para ulama mengkritisi dan menyeleksi hadis secara ilmiah.

Langkah ini membuat mereka tidak mudah terpengaruh oleh adanya narasi ingkar sunnah yang dangkal. Umat Islam perlu sikap yang kritis dan adil, kritis terhadap hadis yang harus ditempatkan dalam kerangka keilmuan, bukan hanya sentiment atau provokasi digital.

Dengan sikap ini dapat membantu keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan juga keterbukaan terhadap diskusi ilmiah.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu