Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Inilah Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Iklan Landscape Smamda
Inilah Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Anggota KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan)
pwmu.co -

Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka berharap sang buah hati tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik, mandiri, berkarakter, cerdas, dan bahagia. Namun, realitas menunjukkan bahwa meskipun niatnya baik, banyak orang tua justru melakukan kesalahan dalam mendidik.

Kesalahan pola asuh ini bisa bermula dari hal sederhana, seperti kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, hingga tindakan berat seperti kekerasan verbal dan fisik.

Dampaknya pun tidak sepele, karena dapat merusak perkembangan psikologis, emosional, sosial, bahkan berakibat tragis terhadap masa depan anak.

Faktor penyebabnya beragam, mulai dari keterbatasan pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak, tekanan ekonomi dan sosial, kebiasaan budaya lama yang masih menormalisasi kekerasan, hingga pengaruh media dan lingkungan.

Tidak jarang, pola pengasuhan yang salah ini diwariskan turun-temurun, sehingga menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Kesalahan pola asuh seringkali tampak dalam bentuk sehari-hari yang dianggap wajar. Misalnya, banyak orang tua yang terlalu sering mengkritik dan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya. Alih-alih memotivasi, cara ini justru menimbulkan perasaan rendah diri, tidak pernah cukup baik, dan kehilangan kepercayaan diri.

Ada pula orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter dengan aturan ketat, hukuman keras, serta kontrol berlebihan.

Cara ini mungkin membuat anak patuh dalam jangka pendek, tetapi efek jangka panjangnya adalah rasa takut, stres, bahkan kecemasan kronis.

Di sisi lain, sebagian orang tua justru kurang memberikan kasih sayang dan perhatian. Mereka lebih banyak berfokus pada pemenuhan kebutuhan materi dan pendidikan formal, tetapi melupakan kebutuhan emosional. Anak akhirnya merasa diabaikan, kesepian, dan tidak memiliki tempat aman untuk bercerita.

Kesalahan lain muncul ketika orang tua memanjakan anak secara berlebihan dengan memenuhi semua keinginan tanpa batas. Anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini cenderung sulit belajar kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi frustrasi.

Tidak sedikit pula orang tua yang menggunakan ancaman dan menakut-nakuti anak agar patuh, misalnya dengan menyebut hantu, polisi, atau ancaman hukuman fisik.

Cara ini memang efektif menghentikan tangisan dalam jangka pendek, tetapi menimbulkan trauma dan rasa takut yang terbawa hingga dewasa.

Lebih jauh lagi, orang tua yang tidak mampu memberikan teladan yang baik juga berkontribusi besar pada kekeliruan pola asuh.

Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan sekadar apa yang ia dengar. Jika orang tua berkata satu hal tetapi berperilaku sebaliknya, anak akan bingung, kehilangan rasa hormat, dan kesulitan menumbuhkan integritas.

Tidak jarang orang tua juga menaruh ekspektasi yang tidak realistis pada anak. Tuntutan agar selalu mendapat nilai sempurna, berprestasi tinggi, atau menjadi yang terbaik di antara teman-temannya hanya akan menambah tekanan.

Anak menjadi takut gagal, stres, bahkan depresi. Di tengah semua itu, komunikasi dua arah sering diabaikan. Anak tidak diberikan ruang aman untuk didengarkan. Akibatnya, mereka memendam perasaan dan beban yang berisiko menimbulkan masalah psikologis jangka panjang.

Kesalahan-kesalahan pola asuh ini bukan sekadar teori, tetapi nyata terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulawesi Tengah misalnya, mencatat bahwa pola asuh keliru, seperti intimidasi, bentakan, hingga kekerasan fisik, menjadi penyebab dominan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.

Data Kementerian PPPA tahun 2023 bahkan melaporkan lebih dari 18.200 anak mengalami kekerasan, mayoritas justru di lingkungan rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

Kasus lain yang menyita perhatian publik adalah bunuh diri seorang siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Utara, yang mengakhiri hidupnya setelah mengeluhkan terlalu banyak tugas saat pembelajaran jarak jauh.

Minimnya dukungan orang tua dan sekolah memperparah tekanan yang ia alami. Para psikolog juga mengingatkan bahwa pola asuh yang keliru, termasuk ekspektasi tinggi dan perlakuan berbeda antar-anak, dapat memicu trauma mendalam yang terbawa hingga dewasa, sebagaimana dilaporkan oleh media nasional.

Dampak Kesalahan Pola Asuh

Dampak kesalahan pola asuh sangat luas. Secara psikologis, anak bisa mengalami stres, kecemasan, depresi, hingga kehilangan rasa aman.

Secara emosional dan sosial, mereka kesulitan mempercayai orang lain, menjadi tertutup, atau sebaliknya agresif.

Dalam dunia akademik, prestasi mereka dapat menurun karena kehilangan motivasi atau takut gagal. Lebih jauh lagi, trauma masa kecil yang lahir dari pola asuh salah kerap terbawa hingga dewasa, memengaruhi hubungan interpersonal, kesehatan mental, bahkan kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam kasus ekstrem, pola asuh salah dapat memicu kekerasan fatal atau bunuh diri.

Mengapa kesalahan ini terus terjadi?

Penyebab utamanya bisa jadi karena kurangnya literasi parenting, tekanan ekonomi dan stres hidup yang membuat orang tua melampiaskan emosi pada anak, budaya patriarki dan tradisi disiplin keras yang masih dianggap wajar, ekspektasi sosial yang membuat orang tua membandingkan anak dengan anak lain, keterbatasan waktu karena kesibukan kerja, hingga pengaruh gadget dan media yang tidak diimbangi pendampingan orang tua.

Semua faktor ini saling berkaitan, membentuk pola asuh yang seringkali tidak sehat.

Memperbaiki Pola Asuh

Meski demikian, kesalahan pola asuh bukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Ada banyak langkah yang bisa ditempuh agar pola asuh lebih baik.

Orang tua perlu meningkatkan literasi parenting melalui seminar, pelatihan, maupun penyuluhan yang disediakan sekolah dan lembaga sosial.

Komunikasi hangat harus dibangun dengan mendengarkan anak tanpa menghakimi. Pola asuh yang sehat menuntut keseimbangan antara kasih sayang dan disiplin, bukan salah satu ekstrem saja.

Orang tua juga harus menjadi teladan nyata, karena anak lebih banyak belajar dari contoh ketimbang nasihat.

Ekspektasi pun perlu realistis, sesuai kemampuan anak, sehingga mereka tidak merasa terbebani. Selain itu, dukungan sosial dari lingkungan sekitar sangat penting agar orang tua tidak merasa sendirian dalam mendidik anak.

Terakhir, akses konseling dan perlindungan harus dibuka lebar bagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan atau pola asuh salah.

Pada akhirnya, kesalahan orang tua dalam mendidik anak seringkali bukan lahir dari niat buruk, melainkan keterbatasan pengetahuan, tekanan hidup, dan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.

Namun, dampaknya sangat serius: anak bisa tumbuh dengan luka psikologis, kehilangan rasa percaya diri, bahkan menjadi korban kekerasan atau mengakhiri hidupnya.

Kasus-kasus nyata di Indonesia memperlihatkan bahwa pola asuh salah bukan isu sepele, melainkan persoalan serius yang memengaruhi masa depan bangsa.

Oleh karena itu, orang tua harus berani mengevaluasi diri, membuka ruang belajar, serta mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, empati, dan komunikasi terbuka.

Dengan cara inilah keluarga dapat benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menumbuhkan generasi yang sehat lahir batin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu