Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ramdhanor Putra Wira Utama, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi hingga ke tingkat nasional setelah kini dipercaya menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Perjalanan Putra yang berasal dari keluarga sederhana itu ditempa melalui pengalaman akademik, organisasi, hingga pengabdian di berbagai daerah, yang kemudian mengantarkannya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus.
Dari Kampus ke Kementerian
Saat ini, Putra berperan sebagai bagian dari Tim Kebijakan dan Komunikasi (Social Media Specialist) dengan tanggung jawab mengelola kanal digital kementerian serta menjembatani komunikasi kebijakan kepada publik.
Perjalanan tersebut tidak instan, melainkan dimulai sejak masa kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, di mana ia aktif dalam berbagai kegiatan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Senat Mahasiswa Universitas, serta menjadi asisten Laboratorium Biologi.
Lingkungan akademik tersebut menjadi fondasi awal pembentukan karakter profesionalnya.
“UMM tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk cara berpikir dan etos kerja. Saya belajar disiplin, bertanggung jawab, dan bekerja berbasis sistem sejak menjadi asisten laboratorium,” ungkap Putra.
Pengalaman Internasional dan Perspektif Global
Selain aktif di dalam kampus, Putra juga mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Thailand yang memperkaya wawasan globalnya.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru tentang dunia pendidikan yang bersifat kontekstual dan tidak bisa dilepaskan dari budaya masing-masing negara.
“Ketika mengajar di luar negeri, saya menyadari bahwa pendidikan sangat kontekstual. Pengalaman itu membuka cara pandang saya tentang pendidikan secara global,” tuturnya.
Melewati Masa Sulit Saat Kuliah
Di balik capaian tersebut, Putra mengaku harus melalui masa kuliah yang penuh tantangan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Ia harus mandiri membiayai kebutuhan hidup dan pendidikan selama di Malang dengan berbagai pekerjaan sambilan.
“Saya pernah berada di fase kesulitan membayar kuliah dan harus benar-benar bertahan. Dukungan dosen dan kampus saat itu sangat berarti bagi saya,” kenangnya.
Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang empati dan keberpihakan.
Pengabdian di Daerah 3T
Setelah lulus pada 2020, Putra memilih jalur pengabdian dengan mengajar di pesantren internasional di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Ia kemudian melanjutkan pengabdian sebagai relawan Indonesia Mengajar di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
Pengalaman tersebut mempertemukannya langsung dengan realitas ketimpangan pendidikan di daerah terpencil.
“Di daerah terpencil, kehadiran guru bukan sekadar mengajar, tetapi memberi harapan. Saya melihat sendiri bagaimana pendidikan bisa mengubah masa depan anak-anak,” ujarnya.
Bangkit dari Kegagalan
Jejak pengabdian itu kemudian mengantarkannya bergabung sebagai officer di Indonesia Mengajar dan terlibat dalam berbagai kolaborasi dengan kementerian, mulai dari penyusunan modul hingga fasilitasi pembelajaran.
Meski sempat mengalami kegagalan dalam seleksi awal tenaga ahli kementerian, Putra tidak menyerah dan terus memperbaiki diri.
“Kegagalan pertama justru menjadi bahan refleksi bagi saya. Saya belajar memahami kebutuhan institusi dengan lebih matang hingga akhirnya bisa bergabung,” katanya.
Pesan untuk Mahasiswa
Bagi Putra, kiprahnya di kementerian merupakan kelanjutan dari proses panjang yang dimulai sejak di bangku kuliah.
Ia pun berharap kisahnya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk aktif, berani mencoba, dan memanfaatkan setiap peluang yang ada di kampus.
“Mahasiswa harus berani memanfaatkan organisasi, laboratorium, dan pengabdian sebagai bekal masa depan. Dari kampus, jalan menuju kontribusi nasional itu benar-benar terbuka,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments