
PWMU.CO – Masjid Al Badar Kertomenanggal, Surabaya, menggelar Kajian Spesial Ahad Ba’da Subuh, Ahad (25/5/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ketua Islamic Centre Amerika Serikat, Ustadz Dr Imam Shamsi Ali, sebagai penceramah utama.
Dengan tema “Perkembangan Mutakhir Islam di Barat,” kajian ini menyita perhatian banyak jamaah yang antusias ingin mengetahui dinamika umat Islam di negara-negara Barat langsung dari tokoh yang aktif berdakwah di New York dan sekitarnya.
Dalam kajiannya, Ustadz Shamsi Ali mengangkat berbagai isu penting seputar dakwah Islam di tengah masyarakat multikultural, tantangan identitas Muslim, hingga peluang strategis memperkenalkan Islam secara damai dan inklusif di Amerika Serikat.
Ia menyampaikan bahwa dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Persoalan ekonomi, misalnya, menurutnya masih digenggam oleh segelintir manusia. Bahkan, Amerika Serikat sebagai negara adidaya, di balik hegemoninya atas negara lain, masih kalah kuasa dibanding tokoh seperti Elon Musk dan Bill Gates.

Ia juga menyoroti kondisi psikologis masyarakat Amerika yang banyak mengidap penyakit mental. Hal ini, kata Shamsi Ali, disebabkan oleh keresahan atas nasib yang mereka hadapi di tengah kebisingan dunia.
“Salah satu rumah sakit di sana bahkan dari 21 lantai, lima di antaranya dihuni oleh penderita gangguan kejiwaan,” ujarnya.
Menurutnya, dunia ini seakan-akan dipenuhi oleh orang yang tidak pernah merasa cukup atas kenikmatan yang dimilikinya.
Di bidang politik, ia menilai dunia saat ini dikuasai oleh politisi yang rasis dan radikal.
“Di Amerika, terpilihnya Donald Trump misalnya, ketika ia mengangkat jargon Make America Great Again yang di dalamnya terselubung makna White Again,” katanya.
Shamsi Ali menegaskan bahwa umat Islam hadir untuk mentransformasikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Menurutnya, inti dari misi tersebut ada dua: keselamatan dan kontribusi.
“Kita hadir untuk menyelamatkan peradaban dari ambang kehancuran, dan juga memberikan kontribusi positif,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukurnya atas kontribusi Muhammadiyah bagi peradaban dunia.
“Patut kita bersyukur bahwa kita di Muhammadiyah sudah banyak berkontribusi bagi peradaban dunia,” tambahnya.
Shamsi Ali menekankan pentingnya umat Islam untuk hadir di berbagai lini kehidupan demi memberikan kontribusi positif. Dengan banyaknya kontribusi itu, perhatian media dan masyarakat pun meningkat.
Namun, menurutnya, dampak dari perhatian tersebut tidak selalu positif. Salah satunya adalah meningkatnya Islamofobia, terutama pasca-peristiwa 9/11 di Washington DC, yang menjadi titik tolak mencuatnya sentimen anti-Islam di Amerika.
Ia menjelaskan, di Amerika terdapat studi khusus tentang agama Islam di kampus-kampus besar, yang disebut Islamic Studies. Sebelum itu, kajian ini disebut Middle Eastern Studies dan Orientalism.
Disebut Middle Eastern karena Barat ingin membangun persepsi bahwa Islam adalah agama milik orang-orang Arab. Padahal, kata “Arab” di dunia Barat sering dikaitkan dengan keterbelakangan, kekerasan, dan terorisme. Peristiwa 9/11 dianggap menjadi justifikasi narasi tersebut.
Orientalisme, menurutnya, adalah pandangan yang membagi dunia ke dalam dua kutub: Timur dan Barat. Namun, ini bukanlah pembagian geografis, melainkan demografis. Pandangan ini menilai bahwa dunia Timur adalah dunia yang terbelakang.
“Peperangan di dunia, seperti Iran dan Irak, sering kali dipicu oleh adu domba dari negara seperti Amerika. Namun, justru Islam yang dituduh sebagai agama yang memicu perang,” tegasnya.
Hingga kini, katanya, Islamofobia masih naik turun di Amerika. Salah satu contohnya adalah kebijakan Muslim Ban, yakni pelarangan warga negara Muslim masuk ke Amerika Serikat.

Ia menyebut ada tiga penyebab utama Islamofobia. Pertama, ketidaktahuan. Banyak masyarakat dan politisi Amerika tidak mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya.
Kedua, trauma sejarah. Seperti perang salib dan berbagai konflik yang dianggap melibatkan umat Islam.
Ketiga, mental kolonial dan arogansi. Mereka merasa bahwa Islam adalah ancaman terhadap kekuasaan yang mereka miliki.
“Kami komunitas Muslim di Amerika Serikat selalu berusaha melawan hal itu secara positif melalui dakwah, tidak hanya dengan cara konvensional seperti ceramah atau kegiatan keislaman mainstream,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa berdakwah di dunia Barat memerlukan self-confidence dan keilmuan yang memadai.
“Perlunya komunikasi yang tepat juga penting. Saya merasakan bahwa 90 persen pesan Islam yang mau kita sampaikan pastinya melalui komunikasi yang baik,” tandasnya.
Di akhir kajian, Shamsi Ali menyampaikan bahwa Amerika sejatinya adalah ladang subur bagi dakwah Islam.
“Tahun 2024, jumlah mualaf di Amerika Serikat meningkat secara signifikan. Ini membuktikan bahwa hati mereka terbuka untuk Islam,” pungkasnya. (*)
Penulis M Tanwirul Huda Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments