Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Islam, Kesedihan, dan Jalan Menuju Kelapangan Jiwa

Iklan Landscape Smamda
Islam, Kesedihan, dan Jalan Menuju Kelapangan Jiwa
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Sedih adalah emosi alami manusia akibat kehilangan, kekecewaan, atau ketidakberdayaan, yang bisa diatasi dengan menenangkan diri, instropeksi, menangis, atau mencari support melalui jalur keagamaan atau secara psikologis.

Namun jika berkepanjangan dan memengaruhi aktivitas harian, bisa jadi depresi yang memerlukan penanganan khusus.

Kesedihan yang berlarut-larut, putus asa, dan merusak diri dilarang dalam Islam, bukan kesedihan wajar. Karena Islam mengajarkan untuk bersabar, bertawakkal, dan mencari pertolongan Allah.

Karena Allah selalu bersama orang yang beriman, seperti firman-Nya “La tahzan, innallaha ma’ana” (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita).

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati.” (QS. Ali ‘Imran: 139)

Ayat motivasi agar umat Islam tidak merasa lemah dan bersedih hati meskipun menghadapi kekalahan atau musibah, karena mereka memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT jika benar-benar beriman, dan kemenangan akan selalu bersama mereka jika imannya kuat. Ayat ini menekankan agar tidak menyerah pada musuh dan tetap semangat, karena keimanan yang sejati akan membawa pada ketinggian derajat dan pertolongan.

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah ayat 40)

QS. At-Taubah ayat 40 adalah ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah SWT selalu menolong Nabi Muhammad saw, terutama saat hijrah dari Mekah ke Madinah, ketika beliau bersama Abu Bakar di gua Tsur dan berkata, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا), menegaskan bahwa Allah akan memberikan ketenangan, bala tentara (malaikat), dan meninggikan kalimat-Nya di atas kekafiran.

Adapun firman Allah yang menunjukkan bahwa kesedihan (bersedih) itu tak bermanfaat apapun adalah,
فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku. (Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati).” (QS. Al-Baqarah: 38)

QS. Al-Baqarah ayat 38 adalah janji Allah bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk-Nya (setelah turun dari surga) tidak akan merasakan ketakutan atau kesedihan, yang berarti mereka akan bahagia dan selamat di akhirat, dengan makna bahwa Allah menurunkan petunjuk-Nya melalui wahyu dan rasul-Nya untuk memandu manusia agar meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bersedih itu hanya akan memadamkan kobaran api semangat, meredakan tekad, dan membekukan jiwa. Dan kesedihan itu ibarat penyakit demam yang membuat tubuh menjadi lemas tak berdaya. Mengapa demikian?

Tak lain, karena kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakkan. Dan itu artinya sama sekali tidak bermanfaat bagi hati. Bahkan, kesedihan merupakan satu hal yang paling disenangi setan.

Maka dari itu, setan selalu berupaya agar seorang hamba bersedih untuk menghentikan setiap langkah dan niat baiknya. Ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang mukmin berduka cita.” (QS. Al-Mujadilah: 10)

Syahdan, Rasulullah saw melarang tiga orang yang sedang berada dalam satu majelis demikian:
“(Janganlah dua orang di antaranya) saling melakukan pembicaraan rahasia tanpa disertai yang ketiga, sebab yang demikian itu akan membuatnya (yang ketiga) berduka cita.”

Dan bagi seorang mukmin, kesedihan itu tidak pernah diajarkan dianjurkan. Soalnya, kesedihan merupakan penyakit yang berbahaya bagi jiwa. Karena itu pula, setiap muslim diperintahkan untuk mengusirnya jauh-jauh dan dilarang tunduk kepadanya.

Islam juga mengajarkan kepada setiap muslim agar senantiasa melawan dan menundukkannya dengan segala pelaratan yang telah disyariatkan Allah SWT.

Bersedih itu tidak diajarkan dan tidak bermanfaat. Maka dari itu, Rasulullah s.a.w. senantiasa memohon perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari kesedihan. Beliau selalu berdoa seperti ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita.”

Kesedihan adalah teman akrab kecemasan. Adapun perbedaannya antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan.

Sedangkan bila berkaitan dengan persoalan masa lalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan.

Kesedihan dapat membuat hidup menjadi keruh. Ia ibarat racun berbisa bagi jiwa yang dapat menyebabkannya lemah semangat, krisis gairah, dan galau dalam menghadapi hidup ini.

Dan itu, akan berujung pada ketidakacuhan diri pada kebaikan, ketidakpedulian pada kebajikan, kehilangan semangat untuk meraih kebahagian, dan kemudian akan berakhir pada pesimisme dan kebinasaan diri yang tiada tara.

Meski demikian, pada tahap tertentu kesedihan memang tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Berkenaan dengan ini, disebutkan bahwa para ahli surga ketika memasuki surga akan berkata,

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ۝٣٤.

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.'”. (QS. Fathir: 34)

Surat Fatir ayat 34 menggambarkan ungkapan syukur penduduk surga kepada Allah SWT, memuji-Nya karena telah menghilangkan kesedihan dan memberikan kenikmatan, menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri segala amal baik hamba-Nya.

Ayat ini menekankan bahwa di surga, mereka bebas dari kesedihan duniawi dan dilimpahi kebahagiaan abadi, menunjukkan kemurahan Allah yang mengampuni dosa dan melipatgandakan pahala.

Ini menandakan bahwa ketika di dunia mereka pernah bersedih sebagaimana mereka tentu saja pernah ditimpa musibah yang terjadi di luar ikhtiar mereka. Hanya, ketika kesedihan itu harus terjadi dan jiwa tidak lagi memiliki cara untuk menghindarnya, maka kesedihan itu justru akan mendatangkan pahala.

Itu terjadi karena kesedihan yang demikian merupakan bagian dari musibah atau cobaan. Maka dari itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa-doa dan sarana-sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya.

وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا۟ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا۟ مَا يُنفِقُونَ

“Dan, tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraaan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah: 92)

Demikianlah, mereka tidaklah dipuji dikarenakan kesedihan mereka semata. Tetapi, lebih dikarenakan kesedihan mereka itu justru mengisyaratkan kuatnya keimanan mereka. Pasalnya, kesedihan mereka berpisah dengan Rasulullah adalah dikarenakan tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang.

Ini merupakan peringatan bagi orang-orang munafik yang tidak merasa bersedih dan justru gembira manakala tidak mendapatkan kesempatan untuk turut berjihad bersama Rasulullah.

Kesedihan yang terpuji — yakni yang dipuji setelah terjadi — adalah kesedihan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan atau dikarenakan tersungkur dalam jurang kemaksiatan.

Dan kesedihan seorang hamba yang disebabkan oleh kesadaran bahwa kedekatan dan ketaatan dirinya kepada Allah sangat kurang. Maka, hal itu menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya-Nya.

Sementara itu, makna sabda Rasululllah dalam sebuah hadis shahih yang berbunyi: “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, kegundahan dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya,”

Itu menunjuk bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan yang merupakan musibah dari Allah yang apabila menimpa seorang hamba, maka hamba tersebut akan diampuni sebagian dosa-dosanya.

Dengan begitu, hadis ini berarti tidak menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan merupakan sebuah keadaan yang harus diminta dan dirasakan.

Bahkan, seorang hamba justru tidak dibenarkan meminta atau mengharap kesedihan dan mengira bahwa hal itu merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan, diridhai atau disyariatkan Allah untuk hamba-Nya.

Sebab, jika memang semua itu dibenarkan dan diperintahkan Allah, pastilah Rasulullah saw akan menjadi orang pertama yang akan mengisi seluruh waktu hidupnya dengan kesedihan-kesedihan dan akan menghabiskannya dengan kegundahan-kegundahan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dan hal seperti itu jelas sangat tidak mungkin. Karena, sebagaimana kita ketahui, hati beliau selalu lapang dan wajahnya selalu dihiasi senyuman, hatinya selalu diliputi keridhaan, dan perjalanan hidupnya selalu dihiasi dengan kegembiraan.

Memang, dalam hadis Hindun ibn Abi Halah tentang sifat Nabi saw. disebutkan bahwa,
“Sesungguhnya, dia selalu bersedih”.

Namun, hadis ini ternyata kurang dapat dipercaya, sebab dalam silsilah perawinya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal.

Selain itu, muatan hadis inipun jelas sangat bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah saw. Bagaimana mungkin Rasulullah dikatakan selalu dirundung kesedihan?

Bukankah Allah telah melindungi beliau dari kesedihan yang berkaitan dengan urusan keduniaan dan semua unsur-unsurnya, melarangnya agar tidak bersedih atas perilaku orang-orang kafir, dan mengampuni semua dosa-dosanya yang telah berlalu maupun yang belum terjadi?

Nah, dari manakah sumber kesedihan itu? Bagaimana pula kesedihan itu dapat menembus pintu hati beliau? Dan dari jalan manakah kesedihan itu dapat menyusup ke dalam lubuk hatinya?

Bukankah beliau saw senantiasa hatinya diliputi zikir, jiwanya dialiri semangat istikamah, pikirannnya selalu dibanjiri hidayah rabbaniyah, dan hatinya senantiasa tenteram dengan janji Allah serta rela dengan semua ketentuan dan perbuatan-Nya?

Bahkan, Rasulullah adalah orang yang terkenal ramah dan murah senyum sebagaimana dilukiskan oleh salah satu gelarnya sebagai “seseorang yang murah senyum.”

Siapa saja membaca, menghayati, dan mendalami sejarah perjalanan hidup beliau dengan seksama dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui bahwa Rasulullah saw diturunkan ke dunia ini untuk menghancurkan kebatilan, mengusir kesuntukan, kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, serta membebaskan jiwa dari tekanan keragu-raguan, kebingungan, kegundahan dan keguncangan.

Bersamaan dengan itu, beliau juga diutus untuk menyelamatkan jiwa manusia dari segala bentuk hawa nafsu yang membinasakan. Maka begitulah, betapa banyaknya karunia Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia.

Ada sebuah hadist menyebutkan: “Sesungguhnya Allah sangat mencintai hati yang senantiasa bersedih.”

Namun, hadis ini ternyata tidak memiliki sanad (jalur periwayatan) dan perawi yang jelas, alias kurang dapat dipercaya.

Singkatnya, hadist ini jelas kurang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Selain itu, hadist ini juga tidak dapat dikategorikan shahih karena sangat bertentangan dengan ajaran agama dan tuntunan syariat.

Dan kalau memang khabar (hadist) itu akan dianggap shahih, maka penjelasannya adalah demikian: kesedihan itu adalah salah satu musibah dari Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya untuk mengujinya.

Artinya, jika hamba tersebut mampu menghadapinya dengan kesabaran, maka sesungguhnya Allah mencintai kesabaran orang tersebut dalam menghadapi cobaan itu.

Demikianlah, maka merupakan kesalahan besar bagi orang-orang yang memuja kesedihan, senantiasa berusaha menciptakan kesedihan, dan mencoba membenar-benarkan kesedihan mereka dengan dalih bahwa syariat telah menganjurkan dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik.

Sebab, pada kenyataannya dalil-dalil syariat melarang hal itu. Bahkan, syariat justru memerintahkan setiap manusia agar tidak bersedih dan selalu ceria.

Hadis lain menyebutkan: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memancangkan sebuah gemuruh ratapan di dalam hatinya. Dan apabila Dia membenci seorang hamba, maka Dia akan menanamkan seruling nyanyian di dalam dadanya.”

Memang, hadis ini bersumber dan berasal dari Israiliyat (mitos Bangsa Israel). Ada pula yang mengatakan bahwa hadits ini termaktub dalam Taurat. Meski demikian, perkataan ini memiliki pesan makna yang benar.

Sebagaimana sering kita lihat, orang mukmin akan senantiasa bersedih atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, sementara orang yang durhaka akan senantiasa lalai, tidak pernah serius, dan berdendang kegirangan justru karena dosa-dosanya.

Dan kalaupun ada kesedihan yang menimpa orang-orang salih, maka itu tak lebih dari sebuah penyesalan terhadap kebaikankebaikan yang terlewatkan, ketidakmampuan mereka mencapai derajat yang tinggi dan kesadaran bahwa mereka telah melakukan banyak kesalahan.

Demikianlah, alasan yang mendasari kesedihan ini berbeda dengan alasan yang mendasari kesedihan orang-orang yang durhaka. Mereka bersedih karena tidak mendapatkan keduniaan, keindahan, dan kenikmatan duniawi.

Kesedihan, kegundahan dan kegelisahan mereka adalah karena keduniaan, untuk keduniaan dan di jalan menuju keduniaan. Dalam sebuah Firman-Nya, Allah menceritakan keadaan seorang nabi dari Bani Israel demikian,

“Dan, kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (kepada anak-anaknya).” (QS. Yusuf: 84)

Ayat ini mengabarkan tentang kesedihan Nabi Ya’qub saat harus kehilangan anak yang menjadi kekasihnya. Ini merupakan kabar bahwa cobaan tersebut sama beratnya dengan musibah atau ujian yang dirasakan oleh seseorang saat dipisahkan dengan buah hatinya.

Betapapun, ayat di atas hanya sekadar memberi kabar dan lukisan tentang beratnya cobaan seorang nabi. Dan itu bukan berarti bahwa kesedihan seperti itu diperintahkan atau dianjurkan.

Bahkan justru sebaliknya, kita diperintahkan untuk ber-isti’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah dari segala kesedihan. Sebab, bagaimanapun kesedihan adalah lakasana awan tebal, malam pekat yang panjang, dan aral panjang yang melintang di tangah jalan ke arah kemuliaan.

Selain Abu Utsman al-Jabari, semua ahli sufi sepakat bahwa bersedih karena perkara duniawi itu tidak terpuji. Menurut Abu Ustman, kesedihan itu —apapun bentuknya— adalah sebuah keutamaan dan tambahan kebajikan bagi seorang mukmin, yakni dengan syarat bila kesedihan itu bukan dikarenakan suatu kemaksiatan.

la juga mengatakan, “Bahwa kalau kesedihan itu tidak diwajibkan secara khusus, maka ia diwajibkan sebagai sarana mensucikan diri.”

Syahdan, ada pula yang berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan merupakan ujian dan cobaan dari Allah sebagaimana halnya penyakit, kegundahan, dan kegalauan. Namun jika dikatakan bahwa kesedihan adalah tingkatan yang harus dilalui seorang sufi adalah tidak benar.”

Atas dasar itu, sebaiknya Anda berusaha untuk senantiasa gembira dan berlapang dada. Jangan lupa memohon kepada Allah agar selalu diberi kehidupan yang baik dan diridhai, kejernihan hati, dan kelapangan pikiran.

Itulah kenikmatan-kenikmatan di dunia. Betapapun, sebagian ulama mengatakan bahwa di dunia ini terdapat surga, dan barangsiapa tidak pernah memasuki surga dunia itu, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.

Allah adalah satu-satunya Dzat yang pantas kita mohon agar melapangkan hati kita dengan cahaya iman, menunjukkan hati kepada jalan-Nya yang lurus, dan menyelamatkan kita kehidupan yang susah dan menyesakkan.

Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa yang menghangatkan dan penuh ketulusan, yakni sebuah doa untuk menghilangkan kepenatan, kesuntukan, dan kesedihan;

“Tidak ada Ilah kecuali Allah Yang Maha Agung dan Maha Pernurah. Tidak ada Ilah selain Allah, Rabb Arasy yang Agung. Tidak ada llah selain Allah, Rabb langit dan bumi dan Rabb ‘Arasy yang Mulia. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Tidak ada llah selain Engkau dan dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.”

“Ya Allah kuharap limpahan rahmat-Mu. Janganlah Engkau jadikan Aku bergantung pada diriku sendiri walau sekejap mata. Dan perbaikilah semua urusanku. Tiada llah selain Engkau.”

“Tidak ada llah selain Engkau, Maha Tinggi Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

“Aku memohon ampunan kepada Allah, tiada llah selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya.”

“Ya Allah, sesungguhnya aku benar-benar hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari makluk ciptaan-Mu. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu, segala ketentuan-Mu telah berlaku bagiku, ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon dengan segala noma yang telah Engkau sebutkan untuk menyebut-Mu atau yang telah Engkau wahyukan dalam Kitab-Mu atau yang telah Engkau ajarkan pada salah seorang dari makhluk-Mu atau sengaja Engkau simpan di alam yang gaib yang ada pada-Mu. Ya Allah jadikanlah Al-Qur’an sebagai pelipur hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihan dan kedukaanku.”

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kecemasan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat).” (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu