Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Islam Wasathiyah Sebagai Katalisator Perdamaian

Iklan Landscape Smamda
Islam Wasathiyah Sebagai Katalisator Perdamaian
Oleh : Rayyan Naufal Asshoumi E Mahasiswa Fisip Universitas Indonesia - Jakarta
pwmu.co -

Sejatinya, agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjunjung tinggi nilai perdamaian. Secara prinsip islam sangat mengharamkan segala bentuk tindakan yang dapat mencederai, menyakiti, atau melukai diri sendiri maupun orang lain, baik secara verbal maupun fisik.

Islam menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama dengan penuh kasih sayang.

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menegaskan kewajiban umat manusia untuk hidup dalam persatuan, kesatuan, dan kerukunan, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera.

Salah satunya dalam surat Ali Imran ayat 105 yang berbunyi:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ ۝١٠٥

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang sangat berat.”

Pesan yang terkandung dalam ayat tersebut sangat relevan dalam kehidupan manusia.

Dalam kehidupan bernegara, baik hubungan antar individu, kelompok, golongan, ras, suku, maupun umat beragama, Allah menegaskan melalui firman-Nya larangan terlibat dalam perselisihan.

Sebab, perselisihan hanya akan melemahkan, bahkan menghancurkan, meski suatu kelompok tampak solid dan kuat. Karena itu, menjaga persatuan menjadi kunci agar tidak terjerumus pada perpecahan dan keruntuhan.

Secara konseptual, misi utama risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah untuk menebar rahmat bagi seluruh semesta alam.

Ajaran Islam hadir untuk menebarkan kebaikan lintas aspek kehidupan, mencakup manusia dan lingkungan dalam alam semesta ini.

Risalah Islam tidak seharusnya berhenti sebagai teori atau ajaran semata, tetapi harus tampak nyata melalui pengamalan. Risalah Islam harus membawa manfaat langsung dalam kehidupan sosial, budaya, dan kemanusiaan secara menyeluruh.

Islam wasathiyah

Penerapan konsep Islam wasathiyah menjadi pondasi penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih harmonis.

Syekh Yusuf al Qardhawi menyebut makna wasathiyah sebagai tawazun (seimbang). Artinya, menjaga keseimbangan antara dua sisi, ujung, atau pinggir yang berlawanan tanpa mendominasi salah satu.

Beliau memandang sebagai sebuah upaya menciptakan netralitas yang cerdas di tengah dua sisi yang saling bertentangan.

Sehingga saling seimbang tanpa mengindahkan dan membuang dari salah satunya.

Al-Quran juga menegaskan kalau umat Islam merupakan ummatan wasathan (umat tengahan). Karena sesungguhnya Islam sendiri merupakan agama wasathiyah.

Karena itu, sudah semestinya umat Islam lebih mengedepankan cara berpikir dan bersikap wasathan secara menonjol. Ekspresi dari perwujudan wasathan dalam sikap, diantaranya:

  1. Berusaha menyeimbangkan segala aspek hidup — baik aspek dunia, akhirat, akal, hati, hingga diri sendiri dan masyarakat. Dengan kata lain, tidak menjadi pribadi yang berat sebelah atau fanatisme.
  2. Memiliki pendirian yang kuat, pengetahuan yang luas, berpikir cerdas, dan bijak dalam bersikap.
  3. Selalu menghargai atau menghormati perbedaan keyakinan, perbedaan pendapat maupun pandangan, tetap menjaga kerukunan.
  4. Moderat dalam bersikap. Menghindari sikap ekstrem (berlebihan) dan lebih cenderung mengambil jalan tengah yang adil dan berimbang dalam berbagai hal. Baik berkaitan dengan pandangan politik maupun agama.

Di tengah-tengah maraknya konflik, perang dan perselisihan di panggung dunia, saatnya Islam tampil sebagai pendorong perdamaian dan kerukunan umat manusia.

Saat ketidakadilan merajalela, Islam harus berada di garda terdepan dalam menegakkan keadilan, membela kebenaran, serta melawan segala bentuk kebatilan, kemungkaran, dan kezaliman.

Al-Qur’an dengan jelas menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa kasih sayang dan perdamaian.

Namun kenyataannya, masih sering dijumpai berbagai tindakan maupun fenomena yang justru menyudutkan umat Islam, bahkan muncul dari internal umat sendiri, seperti saling menjelekkan dan merendahkan.

Tidak jarang pula terjadi persoalan di lingkup keagamaan, seperti penyerangan rumah ibadah, larangan mendirikan tempat ibadah, hingga tindakan diskriminatif dan rasis kepada pemeluk agama lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan Islam rahmatan lil alamin belum sepenuhnya terwujud.

Fenomena-fenomena ini, jika dibiarkan tanpa penyelesaian, akan memunculkan persoalan baru yang lebih besar. Bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan dan peperangan antar sesama.

Karena itu, pemahaman mendalam tentang konsep rahmatan lil alamin maupun Islam wasathiyah sangat mendesak untuk ditanamkan dalam setiap lini kehidupan.

Islam, sebagai agama yang membawa rahmat, harus senantiasa dihadirkan sebagai kekuatan yang menebarkan benih kebaikan, kesejahteraan, pencerahan, serta kemajuan bagi seluruh umat manusia.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu