Program kajian keliling bulanan yang diselenggarakan SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) kembali digelar sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat keistiqamahan pasca-Ramadan. Kegiatan ini diikuti perwakilan guru ISMUBA serta siswa Excellent Class X-2, dan berlangsung di kediaman Eshan Aksel Yuwono, Sabtu (11/4/2026).
Berlokasi di Jalan Taman Pondok Jati, Kelurahan Kedungturi, Kecamatan Taman, kegiatan kajian dan silaturahmi kali ini terasa istimewa karena masih berada dalam suasana bulan Syawal. Tuan rumah menyambut peserta dengan hangat, sehingga tercipta suasana akrab antara siswa dan guru.
Suasana semakin cair saat acara dipandu ananda Najwah dan Rafa. Keduanya membawakan acara dengan perpaduan bahasa Indonesia dan logat Jawa yang santai, sehingga menghadirkan nuansa kekeluargaan.
Pada kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Ustadz Adi Surya Utama, S.Pd., dengan tema “Istiqamah di Bulan Syawal Bukan Akhir, tetapi Awal Sebuah Perjalanan.” Ia menegaskan bahwa berakhirnya bulan Ramadan bukanlah penutup ibadah, melainkan titik awal untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan sepanjang hayat.
“Secara garis besar, istiqamah adalah sikap menjaga kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan, meskipun kebaikan itu tampak kecil dan sederhana. Justru, kebaikan yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya dilakukan sekali,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7–8:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
Urgensi Istiqamah bagi Seorang Muslim
Ustadz Adi menjelaskan bahwa istiqamah merupakan perintah langsung dari Allah SWT dan menjadi kebutuhan utama bagi setiap Muslim yang mengharapkan keberkahan hidup.
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang-orang yang telah bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa istiqamah bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban dalam menjalani kehidupan beriman.
Cara Menjaga Istiqamah
Dalam kajiannya, ia juga memaparkan dua langkah praktis agar seorang Muslim mampu menjaga istiqamah.
Pertama, meluruskan dan menguatkan niat. Niat merupakan fondasi setiap amal. Dengan niat yang lurus karena Allah, setiap aktivitas ibadah akan bernilai. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, senantiasa mengingat kematian. Mengingat kematian menjadi pengingat bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Tidak ada kepastian usia; baik muda maupun tua dapat dipanggil kapan saja. Seseorang akan wafat sesuai kebiasaan hidupnya. Jika terbiasa berbuat baik, insyaallah akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam harta dan anak.”
Syawal sebagai Awal Pembuktian
Sebagai penutup, Ustadz Adi berpesan bahwa bulan Syawal merupakan momentum pembuktian hasil tarbiyah Ramadan. Ibadah tidak berhenti ketika Ramadan berakhir, tetapi justru diuji konsistensinya setelahnya.
“Dengan niat yang lurus dan kesadaran akan kematian, istiqamah dalam kebaikan bukanlah hal yang mustahil. Itulah jalan menuju ridha Allah SWT,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments