Bukan setiap langkah ke masjid berbuah pahala. Sebagian orang justru bisa merugi saat datang ke rumah Allah. Bukan karena kurang ibadah, tetapi karena lalai menjaga niat dan adab di dalamnya.
Hal itu ditegakan Dr. Hafiez Sofyani, SE, M.Sc, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam kajian ba’da zuhur di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (5/11/2025).
“Hadis Rasulullah menegaskan bahwa orang yang biasa datang ke masjid adalah orang beriman. Namun, ada kondisi di mana seseorang justru tidak mendapatkan pahala maksimal, bahkan bisa rugi,” ungkap Hafiez di hadapan jamaah, seperti dilansir di laman resmi UMY.
Dia kemudian menjelaskan beberapa golongan yang termasuk dalam kelompok orang yang merugi ketika datang ke masjid. Pertama, mereka yang tidak meniatkan diri untuk i’tikaf, padahal i’tikaf merupakan ibadah yang disebut langsung dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 187).
Menurutnya, meniatkan i’tikaf saat memasuki masjid menjadi bagian dari upaya memakmurkan rumah Allah dan memiliki nilai besar di sisi-Nya.
Kedua, mereka yang tidak melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Hafiez mencontohkan sebuah hadis ketika Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk berdiri melaksanakan dua rakaat salat tahiyatul masjid meskipun khutbah sedang berlangsung.
“Salat tahiyatul masjid bukan sekadar sunnah, tapi juga pembentukan karakter hormat dan disiplin,” ujarnya.
Golongan berikutnya, lanjut Hafiez, adalah mereka yang tidak berusaha menempati shaf terdepan.
Hafiez menegaskan bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan adalah semangat Islam berkemajuan yang juga menjadi prinsip dasar Muhammadiyah, yaitu fastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan.
“Dalam konteks akademik, ini bisa dimaknai sebagai keberanian mengambil peran terdepan dalam inovasi dan pendidikan,” tambahnya.
Selanjutnya, Hafiez menyoroti perilaku melangkahi pundak jamaah lain yang dianggap tidak hanya melanggar etika, tetapi juga mencerminkan egoisme spiritual.
Menurutnya, bagian dari adab seorang muslim adalah menghormati sesama, termasuk dalam konteks kebersamaan saat berjamaah.
Terakhir, Hafiez menyinggung kebiasaan sebagian jamaah yang bermain ponsel saat khutbah Jumat, yang dinilainya sebagai perbuatan sia-sia.
“Ketika kita sibuk dengan ponsel, hakikatnya kita telah kehilangan ruh dari ibadah Jumat itu sendiri,” tegasnya.
Menutup kajian, Hafiez mengajak jamaah untuk menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembentukan disiplin, empati, dan refleksi diri.
“Masjid adalah tempat pendidikan karakter umat agar menjadi pribadi yang beradab dan berkemajuan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments