Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Jadikan Aku Condong Pada Siapapun Selain Pada Kebenaran

Iklan Landscape Smamda
Jangan Jadikan Aku Condong Pada Siapapun Selain Pada Kebenaran
Oleh : Fathan Faris Saputro Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan
pwmu.co -

Afiq adalah seorang siswa dari sebuah sekolah menengah pertama (SMP) yang sederhana.

Di kelas VIII, Afiq dikenal sebagai anak yang tenang, dengan suara yang jarang terdengar namun selalu jujur.

Teman-temannya sering berbisik, ‘Jika Afiq sudah angkat bicara, artinya itu benar’

Suatu ketika di pagi hari, suasana kelas VIII B tampak riuh. Di meja belakang, Rizal dan Fahri, dua anak yang sudah lama menjadi sahabat karib sedang berselisih paham.

Permasalahan sepele tentang siapa sebenarnya yang menulis jawaban di buku tugas kelompok, justru berubah menjadi penyulut pertengkaran serius.

“Jawaban itu aku yang buat, Rizal cuma nulis ulang!” ujar Fahri dengan nada tinggi.

“Tidak! Aku yang ngerjain dari awal! Kamu cuma bantu nyari bahan!” balas Rizal tak kalah keras.

Guru mereka, Bu Nadya, yang mendengar kegaduhan itu segera datang.

“Cukup! Kalian berdua nanti bicara di depan kelas. Kita selesaikan bersama-sama,” katanya tegas.

Sebelum Bu Nadya meninggalkan ruangan, beliau sempat menunjuk Afiq untuk menjadi penengah dari persoalan dua sahabat karib itu.

“Afiq, kamu yang paling bisa dipercaya di kelas ini. Tolong bantu Ibu mencari kebenaran,” pinta Bu Nadya.

Afiq terdiam, tenggelam dalam kebimbangan. Ia tahu betul tugas di hadapannya tak akan mudah.

Rizal dan Fahri adalah sahabatnya, dua orang yang selalu ada disisinya.

Namun, Afiq juga menyadari, dalam prinsip keadilan, tidak ada tempat untuk kedekatan pribadi. Keadilan sejati adalah menempatkan segala sesuatu pada posisinya yang benar.

Saat malam hari, Afiq membuka mushaf kecil yang selalu ia bawa. Ia membaca ayat dari Surah An-Nisa ayat 135:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabatmu…”

Ayat suci itu terasa menembus relung hatinya. Perlahan ia menutup mushaf, lalu berdoa lirih, nyaris seperti bisikan, “Ya Allah, bantu aku agar tidak memihak”.

Pagi harinya, Afiq mulai bergerak. Langkah pertamanya adalah mengumpulkan buku tugas dari Rizal dan Fahri.

Kemudian membandingkan detail tulisan tangan mereka dengan saksama.

Tak hanya itu, ia juga menanyai dua anggota kelompok lain untuk mendalami bagaimana proses pengerjaan tugas itu sebenarnya terjadi.

Akhirnya, hasilnya menjadi tampak jelas: ide dan sebagian besar isi jawaban memang milik Fahri, tapi Rizal yang menyusun ulang dan membuatnya rapi dalam bentuk laporan.

Keduanya sama-sama berperan.

Namun masalah muncul ketika Rizal mengumpulkan tugas tanpa mencantumkan nama Fahri.

Ketika Afiq menyampaikan temuannya di depan kelas, semua mata tertuju padanya.

Rizal menunduk, sementara Fahri menatap penuh harap.

“Teman-teman,” kata Afiq pelan, “aku sudah melihat bukti dan mendengar keterangan dari kalian. Keduanya bekerja, meski dengan cara berbeda. Fahri punya ide, Rizal menyusun dan menulisnya. Jadi tugas ini seharusnya menjadi milik bersama, bukan salah satu.”

Seluruh penghuni kelas pun menjadi terdiam. Bu Nadya tersenyum kecil, bangga pada ketegasan dan ketulusan Afiq.

“Tapi, Bu,” lanjut Afiq dengan suara mantap, “karena laporan itu hanya mencantumkan satu nama, bentuk keadilan yang paling sederhana adalah Rizal meminta maaf dan mengakui kontribusi Fahri.”

Rizal menatap Fahri dalam-dalam, mengangguk perlahan. “Maaf ya Fahri, aku khilaf,” ucapnya tulus, “Aku cuma pengin tugas kita cepat selesai, tapi aku salah, lupa nggak mencantumkan namamu.”

Sambil tersenyum Fahri menepuk bahu Rizal dan berkata, “nggak apa-apa, Zal. Yang penting kita sudah jujur.”

Suasana kelas pun menjadi hangat kembali. Mereka telah belajar sesuatu yang sangat berharga hari itu, yaitu keadilan yang bukan sekadar tentang siapa yang benar atau siapa yang salah.

Tetapi juga tentang keberanian untuk berlaku jujur dan tidak memihak. Bahkan termasuk pada teman sendiri.

Ketika proses pembelajaran di kelas berakhir, Bu Nadya mendekati Afiq.

“Kamu tahu, Afiq, Allah mencintai orang-orang yang adil. Keadilanmu hari ini mungkin kecil, tapi nilainya besar di sisi-Nya.”

Afiq terpun senyum. Tanpa berkata-kata apa pun, Afiq menundukkan kepala. Dalam hati ia mengulang doanya semalam, “Ya Allah, jangan jadikan aku condong pada siapapun selain pada kebenaran.”***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu