
PWMU.CO – Jangan Lengah saat Angka Covid-19 Turun di Bawah 1000. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrahman MKes SpS. Menurut data yang dirilis 10 Oktober 2021, angka penambahan positif Covid-19 ‘hanya’ 894 kasus.
Dia menyampaikannya saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah dan Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) PP Aisyiyah, Ahad (10/10/2021). Rakornas yang digelar secara virtual ini mengangkat tema Strategi Pembangunan Manusia dari Pandemi ke Endemi.
Menurut Agus Taufiqurrahman semua tahu pandemi Covid-19 ini dampaknya multidimensional. Kemarin datanya mulai bisa mendekati angka 1000. Tetapi mari kita ingat setahun yang lalu kira-kira di bulan Agustus 2020.
“Saat Indonesia baru pertama kali menembus angka 1000 positif Covid-19, suasana batin kita menjadi serius menghadapi pandemi ini. Ternyata ini ancaman nyata bukan ancaman yang abal-abal. Maka kemudian kita semua bergerak dalam rangka pandemi ini,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, ketika sekarang mendekati angka 1000 turunnya jangan dianggap remeh. Kalau kita lengah apa yang dijadikan tema rakornas ini bisa tidak tercapai. Inginnya pandemi akan segera berakhir menjadi endemi tetapi kalau kemudian kita lengah maka bisa muncul gelombang baru.
“Saat ini capaian vaksinasi kedua masih belum lebih 30 persen. Capaian vaksinasi pertama baru diangka 50 persen. Maka dari sisi capaian vaksinasi, kekebalan komunal kita belum bisa terbentuk,” ungkapnya.
Belajar dari Negara Jiran
Agus Taufiqurrahmanmengatkan, belajar dari tetangga kita Malaysia, Singapura, Philipina dan Thailand, kasus meningkatnya jumlah pasien yang kritis dibawa ke RS terutama ternyata karena belum banyak divaksin. Sehingga ICU RS itu diganti dengan sebuah meme. Bukan Intensive Care Unit tetapi Unvaccine Care Unit.
“Karena rupanya capaian vaksinasi seperti itu dan juga ada sebagian orang yang tidak bersedia divaksin. Di Indonesia yang menolak vaksin itu banyak yang karena bersumber dari informasi yang tidak jelas. Tapi di banyak tempat ada yang menolak vaksin bukan karena keilmuan tetapi hanya karena takut dengan jarum. Jadi dia takut jarum terus kemudian membikin kelompok intinya mengklaim vaksin itu tidak diperlukan,” jelasnya.
“Muhammadiyah melakukan segalanya bukan untuk pencitraan. Dakwah pemberdayaan Muhammadiyah itu, dimulai dengan membebaskan orang dari problem yang dihadapi. Jadi dimulai dari membebaskan.”
Agus Taufiqurrahman
Vaksinasi, sambungnya, menurunkan 73 persen angka kesakitan menuju pada level bahaya. Dengan masker bisa menurunkan lebih dari 80 persen tertular. Maka protokol kesehatan tetap ketat dan vaksinasi menjadi bagian dari pelengkap. Dan itulah yang diikhtiarkan kita bersama.
“Bersamaan dengan itu sejak awal PP Muhammadiyah memberi mandat kepada MPS PP Muhammadiyah untuk senantiasa menyantuni keluarga yang memiliki anak-anak yang orangtuanya menjadi syahid karena pandemi Covid-19,” ujarnya.
Dia melanjutkan, “Kami bersyukur dan PP mengapresiasi apa yang menjadi tugas melalui MPS itu kemudian di-follow up sesuai dengan laporan MPS PP Muhammadiyah. Kami menghaturkan terima kasih kepada MPS PWM DIY yang telah melakukan gerak lebih awal bekerjasama dengan seluruh stakeholder yang ada.”
Bukan Pencitaran
Yang lebih dari itu, menurutnya, adalah kebiasaan Muhammadiyah melakukan segalanya bukan untuk pencitraan. Dakwah pemberdayaan Muhammadiyah itu, dimulai dengan membebaskan orang dari problem yang dihadapi. Jadi dimulai dari membebaskan. Kemudian yang kedua adalah memberdayakan orang yang menjadi obyek pembinaan kita itu. Dan yang ketiga adalah memajukannya.
“Tidak sedikit di media kita temukan seolah-olah dia membebaskan problem tetapi ternyata hanya pencitraan. Itu bukan menjadi ciri khas yang ada di persyarikatan Muhammadiyah. Bebaskan saudara kita dari problem utama yang dihadapi, tapi kemudian kita berdayakan dia agar tidak menjadi kesusahan lagi. Dan terakhir kita majukan saudara kita itu,” jelasnya.
“Kita ingat dari anak-anak yang dulu dibina oleh tempat pembinaan kita, yang waktu itu namanya menjadi panti sosial, anak yatim-piatu dan berbagai macam panti. Itu ternyata betul-betul banyak yang menjadi orang berhasil. Ada yang menjadi anggota DPR RI, rektor, menjadi orang berpengaruh di tempat tertentu,” ungkapnya.
Itulah ciri Muhammadiyah yakni memajukan. Selanjutnya MPS sudah mengajukan kepada PP Aisyiyah dan sudah diberikan berbagai macam pedoman yang dibutuhkan oleh MPS dalam rangka mengawal AUM bidang pelayanan sosial.
“Terima kasih MPS karena memang kita tidak hidup di ruang hampa. Kita harus mengikuti regulasi yang ada di negara yang kita cintai. Dan PP telah melakukan pendistribusian,” ujarnya.
Tentunya, sambung dia, juga yang dilakukan oleh PP Aisyiyah pada wilayah-wilayah. Maka ketika itu sudah di SK-kan oleh PP, Muhammadiyah seharusnya semua kita kemudian menjadi bagian untuk mensosialisasikan pedoman itu.
Kita yakin, ujarnya, apa yang kita lakukan ini bagian dari kontribusi Muhammadiyah kepada umat dan bangsa. Alhamdulillah Muhammadiyah dan tentunya kalau kita menyebut Muhammadiyah berikut dengan ortomnya, termasuk ortom khusus yakni Aisyiyah telah banyak memberikan kiprah kepada bangsa.
“Terima kasih kepada MKS dan MPS yang senantiasa mengawal dakwah melalui pelayanan sosial dan segala problemnya,” ucap dia.
Dia berharap—untuk hal-hal yang membutuhkan peran serta penguatan dan pendampingan secara struktural organisasi dari PP Muhammadiyah—agar Ketua MPS dan Ketua MKS tidak segan-segan untuk berkoordinasi agar pihaknya bisa mem-backup apa yang diperlukan oleh MPS dan .
Guru-guru kita dulu, lanjutnya, mengajarkan dan mengapa pelayanan sosial di Muhammadiyah itu langgeng hingga sekarang yakni keikhlasan dalam mengawal seluruh amal usaha sosial ini.
“Karena yang menggetarkan Arsy dan yang menggetarkan turunnya pertolongan Allah adalah keikhlasan. Keikhlasan membebaskan, memberdayakan dan memajukan orang-orang yang perlu kita santuni ini,” tuturnya. (*)
Penulis Sugiran Editor Mohammad Nurfatoni





0 Tanggapan
Empty Comments