Guru bukanlah sekadar profesi atau pekerjaan biasa, melainkan sebuah panggilan jiwa.
Dedikasi seorang guru tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi, dan tidak berakhir saat langkah kaki meninggalkan ruang kelas.
Pekerjaan lain mungkin selesai seiring jam kerja usai, tetapi seorang guru tetaplah guru—bahkan ketika berada di luar sekolah, di jalan, di pasar, di media sosial, atau dalam kehidupan pribadinya sekalipun.
Inilah esensi yang membedakan: menjadi guru tidak hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana menjalani hidup dan menjadi teladan.
Kesadaran menjadi teladan
Tak sedikit orang bermimpi menjadi guru karena ingin berbagi ilmu, menginspirasi, atau sekadar meneruskan cita-cita.
Namun, ada satu hal fundamental yang sering terlupakan: menjadi guru berarti siap meninggalkan kebiasaan lama yang tidak pantas untuk dijadikan teladan.
Sebelum resmi mengajar, banyak di antara kita yang menjalani masa muda dengan beragam kebiasaan yang, jika dipikir ulang sekarang, tidak layak ditunjukkan di depan murid.
Misalnya: berkata kotor, bercanda kasar, nongkrong di tempat yang tidak pantas, atau sekadar menulis status sarkas di media sosial.
Saat status “guru” sudah disandang, hal-hal semacam itu seharusnya ditinggalkan.
Mengapa? Karena seorang guru tidak hanya dinilai dari nilai rapor muridnya, tapi juga dari akhlak dan kebijaksanaan pribadinya.
Bayangkan, jika seorang guru tanpa sadar mengumpat di tempat umum, lalu tanpa sengaja bertemu muridnya.
Apa yang akan terlintas di benak anak itu? Bagaimana mungkin ia bisa menasehati muridnya untuk berkata sopan bila dirinya sendiri masih asyik melontarkan kata-kata kotor?
Dalam Al-Qur’an, Allah telah memperingatkan dengan tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman, Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2–3)
Ayat ini tak hanya menegur umat Islam secara umum, tetapi menjadi pengingat keras bagi siapa pun yang berperan sebagai pendidik.
Guru adalah sosok yang berbicara tentang kebaikan setiap hari. Maka, tidaklah pantas bila ucapan dan perbuatannya berjalan di arah yang berbeda.
Menjadi guru berarti berani melakukan transformasi diri. Ini bukan sekadar mengubah cara berpakaian atau gaya bicara di depan murid, tetapi juga membersihkan hati dari kesombongan, kebiasaan buruk, atau sikap abai terhadap tanggung jawab moral.
Idealisme yang memudar: dulu dan kini
Banyak orang tua kita mengenang sosok guru masa lalu sebagai pribadi yang sederhana, bersahaja, dan ikhlas.
Mereka mengajar bukan semata-mata karena gaji, tetapi karena dorongan panggilan hati.
Dalam catatan sejarah pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara merumuskan filosofi peran guru:
“Guru itu digugu lan ditiru, guru itu dipercaya dan diteladani”.
Makna kepercayaan dan keteladanan adalah inti dari profesi guru. Namun, realitas sekarang tampak berubah.
Entah karena tuntutan zaman, tekanan ekonomi, atau sistem birokrasi pendidikan yang kian rumit, banyak guru terjebak dalam orientasi administratif.
Pelatihan yang guru ikuti kini cenderung demi sertifikasi dan tunjangan, bukan lagi demi peningkatan kompetensi murni.
Kegiatan diklat dijalani karena ada angka kredit untuk kenaikan pangkat, bukan karena semangat belajar.
Tentu, tidak semua guru seperti itu. Masih banyak guru hebat yang tulus, yang tetap semangat mengajar di sekolah pelosok meski gajinya tak seberapa.
Namun, kita juga tak bisa menutup mata bahwa jiwa idealisme itu mulai terkikis.
Kini, menjadi guru kadang lebih dipandang sebagai “pekerjaan yang memberi kehidupan” secara finansial, bukan lagi “kehidupan yang memberi makna” bagi orang lain.
Padahal, dalam pandangan Paulo Freire, tokoh pendidikan dunia asal Brasil, pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan.
Guru bukan “alat sistem”, melainkan “penyadar” yang membangunkan kesadaran kritis muridnya. Jika tujuan mulia itu hilang, maka profesi guru kehilangan ruhnya.
Ketika guru menjadi cermin kehidupan
Guru adalah cermin yang murid-muridnya lihat setiap hari.
Tanpa disadari, murid sering meniru bukan hanya apa yang guru ajarkan, tetapi juga siapa yang mengajar.
Cara berbicara, menatap, berjalan, hingga cara menyikapi masalah; semuanya diamati dan diserap.
Maka, setiap kali seorang guru berbuat atau berbicara, sadarilah bahwa selalu ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati kecil murid yang menilai.
Guru yang masih membawa kebiasaan buruk ke dunia pendidikan sama artinya dengan memberikan contoh negatif yang tanpa sengaja ditelan mentah-mentah oleh muridnya.
Seorang guru yang mudah marah, berbicara kasar, atau memperlakukan orang lain dengan tidak sopan, sejatinya sedang mengajarkan hal itu pula kepada siswanya, tanpa perlu menulis di papan tulis.
Oleh sebab itu, menjadi guru bukan sekadar mengubah status pekerjaan, tetapi mengubah niat dan arah hidup.
Ia harus siap menahan diri, siap membatasi keinginan, dan siap menjadi teladan—bukan karena ingin dipuji, tetapi karena sadar bahwa setiap langkahnya adalah pelajaran hidup bagi orang lain.
Guru: penuntun jiwa, bukan pemburu materi
Dalam buku “Guru Merdeka Belajar” karya Najelaa Shihab, disebutkan bahwa guru masa kini perlu kembali memahami esensi perannya: bukan sekadar pengajar materi, tetapi penuntun jiwa.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, anak-anak membutuhkan sosok yang tidak hanya pintar, tetapi juga benar dan berkarakter.
Guru adalah kompas moral dalam perjalanan hidup murid. Jika kompas itu sendiri goyah, maka arah pendidikan pun akan kabur.
Di sinilah letak tanggung jawab besar profesi ini; ia menuntut bukan hanya ilmu, tetapi juga ketulusan, pengendalian diri, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Menjadi penuntun jiwa berarti mampu menyentuh ruang batin murid, bukan hanya menjejali pikirannya dengan teori.
Guru yang baik tahu kapan harus menegur dengan lembut, kapan harus mendengar dengan sabar, dan kapan harus memberi contoh lewat tindakan sederhana.
Ia tidak hanya hadir di kelas, tetapi juga di hati muridnya. Karena pada akhirnya, yang diingat bukan seberapa banyak pelajaran yang diajarkan, melainkan seberapa besar kasih dan perhatian yang dirasakan.
Lebih dari itu, guru sejati memahami bahwa setiap anak membawa dunia kecilnya sendiri, lengkap dengan luka, ketakutan, dan mimpi-mimpi yang kadang belum berani diucapkan.
Di sanalah peran seorang guru diuji: mampukah ia menjadi cahaya yang menuntun, bukan bara yang menghakimi?
Guru yang menuntun jiwa tidak akan cepat marah ketika murid berbuat salah, melainkan mencari cara agar kesalahan itu menjadi pelajaran berharga.
Ia tahu, mendidik bukan sekadar menuntut kesempurnaan, tetapi menumbuhkan keberanian untuk terus mencoba.
Dan tugas mulia itu hanya bisa berjalan oleh seorang guru dengan hati yang penuh cinta.
Mengembalikan ruh profesi guru
Barangkali kini saatnya kita bertanya: mengapa dulu profesi guru begitu dihormati, sementara kini banyak yang memandangnya biasa saja?
Mungkin jawabannya sederhana: karena dulu guru hidup dengan nilai, bukan sekadar mencari nilai (uang atau angka kredit).
Dulu guru menjadi teladan bahkan tanpa mengatakannya, karena kehidupan mereka sendiri sudah menjadi pelajaran.
Kini, di tengah gempuran kebutuhan ekonomi, sistem digital, dan tekanan hidup, banyak guru yang kelelahan menjaga idealismenya.
Tapi meski dunia berubah, satu hal tetap sama: murid masih menaruh harapan pada gurunya.
Mereka masih ingin meneladani. Mereka masih percaya, masih melihat guru sebagai sosok yang “lebih tahu” dan “lebih baik”.
Maka, jika kita belum siap menahan diri, belum siap memperbaiki kebiasaan, belum siap menjadi contoh—jangan dulu menyebut diri guru.
Sebab menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tapi soal menghidupi nilai-nilai yang diajarkan.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara, “Dengan keteladanan, seorang guru bisa mendidik tanpa banyak berkata.”
Barangkali itulah hakikat sejati menjadi guru: bukan hanya mencerdaskan murid, tetapi juga mendidik diri sendiri agar lebih pantas menjadi teladan bagi mereka.***






Ngeri ketuuaaa🔥
Menyala ketua