Makanan adalah salah satu wujud kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Tanpa adanya makanan yang disediakan di alam semesta, manusia tidak dapat bertahan hidup. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. An-Nahl: 114).
Ayat tersebut memerintahkan umat Islam untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang halal (diizinkan agama) lagi baik (thayyib/bergizi/sehat) dari rezeki Allah, serta bersyukur atas nikmat tersebut sebagai bentuk ibadah sejati kepada-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah kewajiban untuk menghindari murka Allah dan membuktikan tauhid.
Setiap suap makanan yang masuk ke mulut manusia adalah rezeki yang telah dijamin dan diatur oleh Allah. Rezeki ini mencakup semua jenis makanan yang halal, baik tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, maupun hewan, yang disediakan di bumi untuk kelangsungan hidup manusia.
Keberkahan makanan dalam ajaran Islam ditunjukan dengan menghargai nikmat dan larangan menyia-nyiakan.
Hadis Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa seseorang tidak mengetahui pada makanan yang mana terdapat keberkahan.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk menghabiskan makanan hingga sebutir nasi atau sisa terakhir, karena mungkin saja keberkahan tersebut ada di sisa yang tidak terduga itu.
Setiap makanan yang ada di situ ada keberkahan hanya di sisi makanan yang mana yang ada keberkahan kita tidak tahu. Jangan sisakan makanan yang ada, karena bisa jadi makanan yang engkau sisakan di situlah ada keberkahan. Nabi Muhammad saw bersabda:
فَإِنَّكُمْ لا تدْرُونَ في أَيِّ طَعامِكُمُ البَركَةُ. رواه مسلم
“Sesungguhnya engkau semua tidak mengetahui dalam makanan yang manakah yang di situ ada berkahnya.” (HR Muslim)
Islam mengajarkan bahwa rezeki tidak hadir secara instan. Ia melewati rantai panjang ikhtiar. Dari tanah yang diolah, benih yang disemai, petani yang bersujud dalam letih, hujan yang dinanti dengan doa, lalu tangan-tangan lain yang mengantarkannya hingga ke piring kita.
Ketika satu butir nasi disisakan tanpa rasa bersalah, sejatinya yang kita abaikan bukan hanya makanan, tetapi jejak panjang jerih payah dan kasih sayang Allah.
Rasulullah saw memberi teladan yang sangat sederhana namun sangat luar biasa, beliau tidak menyukai menyisakan makanan.
Dalam riwayat disebutkan, beliau bahkan memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, lalu memakannya.
Bukan karena beliau kekurangan, tetapi karena beliau memuliakan nikmat. Sebab, nikmat yang diremehkan hari ini bisa menjadi penyesalan di hari esok.
Makanan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta‘ala karuniakan kepada manusia. Melalui makanan, Allah memberi kita kehidupan, kekuatan, dan kesehatan.
Tidaklah manusia dapat bertahan tanpa makanan, dan tidaklah manusia bisa merasakan lezatnya kehidupan dunia tanpa rezeki berupa santapan yang Allah hadirkan dari bumi dan laut.
Karena begitu besar nilainya, Islam mengajarkan adab yang mulia dalam menyikapi makanan. Di antara adab itu adalah larangan keras untuk mencela makanan. Rasulullah saw, yang akhlaknya adalah Al-Qur’an, menjadi teladan yang sempurna dalam hal ini. Beliau sama sekali tidak pernah mencela makanan sedikit pun sepanjang hidupnya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bahwa beliau berkata:
مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Rasulullah saw tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Apabila beliau menyukainya, beliau memakannya; jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. al-Bukhari: 5409; Muslim: 2064)
Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang sahih dan disepakati oleh dua imam besar, al-Bukhari dan Muslim.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil yang jelas tentang kesempurnaan akhlak Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mengomentari makanan dengan celaan, karena sejatinya setiap makanan adalah nikmat Allah, meskipun mungkin rasanya tidak sesuai dengan selera seseorang.
Apabila makanan itu disukai, beliau akan menyantapnya dengan penuh syukur. Namun bila tidak, beliau sekadar meninggalkannya tanpa ada satu kata cela pun yang keluar dari lisannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments