Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Tertipu Fitnah Harta di Akhir Zaman

Iklan Landscape Smamda
Jangan Tertipu Fitnah Harta di Akhir Zaman
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Umat Islam kini tengah hidup di era penuh fitnah yang semakin kompleks. Fitnah dalam Al-Qur’an dan hadis, tidak hanya berarti ujian, tetapi juga bisa bermakna harta, anak, kekafiran, hingga perbedaan pendapat yang berujung pada perpecahan.

Hal itu disampaikan oleh Drs. M. Qodiron Abdurrahim, mubaligh Muhammadiyah, dalam ceramahnya yang menyoroti bahaya fitnah akhir zaman.

Menurut Qodiron, fitnah telah ada sejak zaman para nabi terdahulu dan selalu menjadi ujian bagi setiap umat.

“Dalam Al-Qur’an disebutkan, hartamu dan anakmu adalah fitnah. Bahkan perselisihan politik yang dibawa ke ranah agama juga bisa menjadi fitnah,” jelasnya dikutip dari kanal Youtube Baitul Arqom Joss.

Qodiron mencontohkan tragedi sejarah saat terjadi konflik politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Ketegangan itu melahirkan kelompok Khawarij yang kemudian mengkafirkan kedua belah pihak dan menghalalkan darah mereka.

Dari sinilah, lanjut Qodiron, muncul pola pemikiran keras yang hingga kini diwarisi sebagian kelompok dengan ciri suka menyalahkan, membid’ahkan, dan merasa paling benar.

“Sayyidina Ali dibunuh oleh seorang khawarij yang hafal Al-Qur’an, rajin tahajud, tapi karena fanatisme politik dan agama yang salah, ia menghalalkan darah sesama muslim,” ujarnya.

Memasuki era modern, Qodiron menegaskan bahwa umat Islam sudah mulai merasakan fitnah akhir zaman. Ia menyebut sedikitnya tiga bentuk fitnah besar.

Pertama, fitnah hedonisme, gaya hidup yang hanya berorientasi pada dunia. Orang menilai segala sesuatu dari harta dan kesenangan materi, termasuk dalam beribadah.

“Nabi sudah menegaskan, ujian terberat bagi umat beliau adalah harta. Harta bisa mendekatkan kita kepada Allah jika halal dan digunakan di jalan yang benar. Tapi kalau salah kelola, harta bisa jadi malapetaka,” paparnya.

Kedua, fitnah wanita. Menurut Qodiron, Rasulullah saw menyebut fitnah wanita sebagai ujian besar yang dapat menyeret laki-laki, ayah, maupun suami ke dalam neraka.

Dia mencontohkan betapa besarnya tanggung jawab ayah untuk menjaga anak perempuannya agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas dan gaya hidup liberal.

“Banyak laki-laki masuk neraka bukan karena dirinya, tapi karena longgar terhadap istri dan anak perempuannya,” tegasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketiga, fitnah harta sebagai agama baru. Di akhir zaman, uang dijadikan tolok ukur kehormatan, kekuasaan, bahkan kebenaran.

“Orang rela meninggalkan agama demi uang. Padahal uang itu penting, tapi bukan yang paling absolut. Yang Maha Kuasa tetap Allah SWT,” tutur Qodiron.

Gelombang Pemurtadan dan Politik Kotor

Selain fitnah harta dan wanita, Qodiron mengingatkan umat terhadap gelombang pemurtadan yang masih masif di sejumlah wilayah. Dia mencontohkan kasus di kawasan selatan Jawa Timur, di mana bantuan sosial digunakan sebagai strategi kristenisasi.

“Mereka membangun tandon air, memberi beras dan minyak. Sementara dai kita tidak memiliki dukungan finansial sekuat itu. Ini tantangan besar,” katanya.

Qodiron juga menyinggung fitnah politik akhir zaman yang ditandai dengan kebohongan, intrik, dan menghalalkan segala cara.

Dalam hadis, Nabi menyebut akan datang tahun-tahun penuh kedustaan, di mana orang jujur didustakan dan pendusta dipercaya.

“Hari ini kita menyaksikan bagaimana politik bisa begitu kotor, bahkan orang bodoh diberi amanah mengurus kepentingan publik. Itu tanda kehancuran,” ujarnya.

Menghadapi berbagai fitnah itu, Qodiron mengajak umat Islam untuk memperkuat iman dan amal saleh. Ia menekankan pentingnya menghidupkan majelis ilmu, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana pesan surat Al-‘Ashr.

“Nabi berpesan, cepat-cepatlah beramal saleh. Jangan menunda kebaikan. Orang yang selamat di akhir zaman adalah yang mampu berada di barisan terdepan dalam kebaikan,” ujarnya.

Qodiron mengingatkan jamaah agar selalu memanjatkan doa perlindungan dari fitnah, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah dalam tahiyat akhir: Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabil qobri, wa min ‘adzabin naar…

“Doa ini penting agar kita dijauhkan dari fitnah akhir zaman. Jangan pernah merasa aman, sebab fitnah itu datang perlahan, dari samar hingga terang-benderang,” pesannya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu