
PWMU.CO – Manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kelupaan. Setiap hari, disadari atau tidak, ia menapaki jalan kehidupan yang kadang menjerumuskannya ke dalam dosa dan kelalaian. Namun, Allah Yang Maha Pengampun senantiasa membuka satu pintu bagi hamba-Nya hingga ajal menjemput, yaitu pintu taubat. Salah satu waktu yang paling lembut dan penuh ketenangan untuk mengetuk pintu itu adalah menjelang tidur.
Fadhiltus Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihi –hafizahullah– memberikan nasihat yang menyentuh hati:
عندما يريد الإنسان النوم يجب عليه أن يجلس ساعة لله، يحاسب نفسه على ما خسره وربحه في يومه، ثم يجدد له توبة نصوحا بينه وبين الله، فينام على تلك التوبة، ويعزم على ألا يعاود الذنب إذا استيقظ، ويفعل هذا كل ليلة، فإن مات من ليلته، مات على التوبة، وإن استيقظ، استيقظ مستقبلا للعمل، مسرورا بتأخير أجله حتى يستقبل ربه، ويستدرك ما فاته، وليس للعبد أنفع من هذه النومة
“Apabila seseorang hendak tidur, semestinya ia duduk sejenak, mengintrospeksi dirinya: apa saja yang diperoleh dari kerugian dan keuntungan pada hari itu. Kemudian ia memperbaharui taubatnya antara dirinya dengan Allah, dengan taubat nasuha (taubat yang jujur dan sungguh-sungguh), lalu ia tidur dalam keadaan bertaubat, sekaligus bertekad kuat untuk tidak kembali melakukan dosa ketika ia bangun. Hendaknya ini dilakukan setiap malam. Jika ia meninggal, maka ia meninggal dalam keadaan bertaubat. Dan jika ia bangun, maka ia bangun dalam keadaan siap beramal, senang karena ajalnya belum tiba, sehingga ia siap untuk menghadap Rabb-nya dan mengejar apa yang sebelumnya telah ia lewatkan. Dan sesungguhnya, tidak ada tidur yang lebih bermanfaat dari tidur semacam ini.” (Al-Hidayah ar-Rabbaniyyah fi Syarh al – ‘Aqidah ath-Thahawiyyah, hal. 509)
Renungan menjelang tidur merupakan bagian dari ibadah batin yang substantif. Waktu menjelang tidur merupakan ruang sunyi yang akan mempertemukan hamba dengan Penciptanya. Ruang pengakuan dosa, kejujuran dan sekaligus tempat memanjatkan harapan dan cita-cita yang tanpa ada orang lain tahu. Menjadi momentum menumpahkan air mata tanpa suara, dan langit pun mencatatnya sebagai kesungguhan. Allah sendiri memuji orang-orang yang senantiasa kembali kepada-Nya:
فَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Maka bertaubatlah kamu semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Dan sabda Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Taubat bukan hanya hak dan kewajiban bagi pelaku dosa besar. Taubat merupakan bentuk kesadaran spiritual seseorang tentang dirinya sebagai makhluk yang lemah. Makhluk yang tak luput dari khilaf, dan senantiasa membutuhkan bimbingan serta ampunan Allah. Mereka yang selalu mengakhiri malamnya dengan taubat, adalah mereka yang sedang sedang membersihkan hati dan jiwa dari noda-noda dunia perusak ketenangan batin.
Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam sendiri, yang telah terampuni dosanya – baik yang lalu maupun yang akan datang– tetap beristighfar kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Itu menunjukkan bahwa taubat bukan hanya sarana menghapus dosa, melainkan jalan untuk mendekat kepada-Nya.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosanya…” (QS. Ali Imran: 135)
Sungguh, tidur dalam keadaan hati yang bersih tanpa terbebani perasaan berdosa, jauh lebih tenang daripada tidur di atas kasur empuk tapi hati penuh beban kesalahan. Jika malam tersebut menjadi malam terakhir hidup di dunia, semoga kita telah kembali dalam keadaan suci. Dan jika esok masih Allah beri kesempatan hidup, itulah anugerah untuk memperbaiki amal.
Mulailah malam ini dengan sejenak merenung sebelum tidur. Duduk tenang, pejamkan mata, dan tarik napas dalam. Lalu tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang telah aku lakukan hari ini? Apakah Allah meridhai amalanku? Kesalahan apa yang perlu aku tinggalkan? Siapa yang mungkin telah aku sakiti?”
Kemudian bisikkan dalam hati: “Ya Allah, aku menyesal. Ampunilah aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.”
Setelah itu, silahkan tidur dengan tenang. Mungkin malam ini akan menjadi malam terindah dalam hidup kita—malam saat kita pulang kepada-Nya dengan taubat yang tulus.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami sebagai penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari saat kami bertemu dengan-Mu.”
Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa bertaubat, memperbaiki diri, dan menjadikan tidur kita sebagai ibadah yang mendekatkan kita kepada-Nya. Aamiin.(*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments