Suasana Aula Lantai 3 SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan Sidoarjo, Sabtu (7/3/2026) siang, terasa berbeda. Sekitar 45 guru dan karyawan duduk bersila dengan penuh khidmat. Mereka mengikuti Baitul Arqam Ramadan 1447 Hijriah, sebuah kegiatan pembinaan ideologi dan spiritual yang menjadi tradisi pendidikan Muhammadiyah.
Kegiatan yang dimulai pukul 12.30 WIB itu digelar setelah sebelumnya sekolah menyelenggarakan Darul Arqam dan Baitul Arqam untuk para siswa. Kali ini, sasaran pembinaan adalah para guru dan tenaga kependidikan, yang menjadi garda depan pendidikan di Smamuga.
Kepala SMA Muhammadiyah 3 Tulangan, Hartatik S.Pd, membuka kegiatan dengan pesan penuh makna. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian acara dengan penuh semangat, disiplin, dan keikhlasan.
“Melalui Baitul Arqam ini, kami berharap para guru dan karyawan bisa mengambil ilmu dan pelajaran dari para pemateri. Harapannya, semangat mengabdi sebagai pendidik semakin kuat, sekaligus meningkatkan iman dan takwa kita di bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Hartatik yang kini memasuki periode di penghujung kedua kepemimpinannya menegaskan bahwa Baitul Arqam bukan sekadar kegiatan formal. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk memahami jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah melalui pendidikan.
“Semoga melalui kegiatan ini tumbuh kecintaan terhadap Muhammadiyah. Kita diingatkan kembali pada semangat para pendiri yang berdakwah melalui pendidikan, dengan penuh ketulusan dan perjuangan,” tambahnya.
Materi Ringan, Pesan Mendalam
Sebagai pemateri utama hadir Drs. Muflih Hasyim, M.Pd, tim pendamping dari Dikdasmen PDM Sidoarjo. Meski materi yang disampaikan tergolong serius, suasana terasa cair karena gaya penyampaian Muflih yang santai dan penuh humor.
Tawa sesekali pecah di antara peserta ketika ia menyelipkan guyonan dalam setiap penjelasan. Namun di balik kelakar itu, tersimpan pesan mendalam tentang makna menjadi guru di lingkungan Muhammadiyah.
Pria berusia 68 tahun ini bukan sosok asing di dunia pendidikan Muhammadiyah. Ia pernah lama mengajar di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo sebelum kemudian mengabdikan diri sebagai dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Selain mengajar, ia juga aktif mendampingi digitalisasi sekolah Muhammadiyah serta pengelolaan media sosial lembaga pendidikan.
Dalam materinya bertajuk “Menuju Guru Dunia–Akhirat”, Muflih mengajak peserta merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Qasas ayat 77 tentang keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.
“Carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…” (QS Al-Qasas: 77).
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk beribadah dan menyiapkan bekal menuju akhirat.
Jalan Pengabdian
Di hadapan para guru Smamuga, Muflih menegaskan bahwa menjadi guru di sekolah Muhammadiyah adalah jalan pengabdian yang mulia.
“Orang yang memilih mengajar di Muhammadiyah pada dasarnya sedang memilih jalan pengabdian. Kita bekerja bukan semata-mata mengejar materi, tetapi berharap ridha Allah,” tuturnya.
Ia berbicara bukan sekadar teori. Selama 20 tahun mengajar di sekolah Muhammadiyah, ia merasakan sendiri dinamika kehidupan guru.
“Kalau dihitung secara materi, kadang terasa tidak cukup. Tetapi Allah tidak pernah tidur. Ada keberkahan yang sering datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” katanya.
Pengalaman itu ia hubungkan dengan firman Allah dalam Surah At-Talaq ayat 2–3 tentang janji Allah kepada orang yang bertakwa.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Muflih mengaku merasakan sendiri keberkahan itu dalam kehidupannya. Ia bersyukur karena seluruh anak-anaknya dapat menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral.
“Alhamdulillah, anak-anak saya bisa sampai S3. Saya yakin itu bukan semata usaha manusia, tapi keberkahan dari jalan pengabdian di Muhammadiyah,” ujarnya.
Muhammadiyah dan Keikhlasan
Dalam kesempatan tersebut, Muflih juga menyinggung budaya pengabdian di Muhammadiyah. Ia mencontohkan bagaimana para pimpinan Muhammadiyah bekerja tanpa orientasi materi.
“Di Muhammadiyah banyak orang yang mengurus organisasi tanpa gaji. Mereka berkhidmat karena panggilan dakwah,” jelasnya.
Ia menyinggung sosok Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir yang dikenal sederhana dalam menjalankan amanah kepemimpinan.
“Beliau memimpin organisasi besar dengan ribuan amal usaha, tetapi tetap hidup sederhana. Bahkan sering memilih naik kereta saat menghadiri kegiatan,” ungkapnya.
Bagi Muflih, teladan seperti itulah yang menjadi spirit utama gerakan Muhammadiyah: menghidup-hidupi Muhammadiyah, bukan hidup dari Muhammadiyah.
Belajar Bersyukur
Di akhir materinya, Muflih mengajak para guru untuk memulai langkah menjadi guru dunia–akhirat dengan satu sikap sederhana : bersyukur. Menurutnya, rasa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran bahwa segala nikmat yang diberikan Allah adalah anugerah terbaik.
Ia memberi contoh sederhana tentang nikmat kesehatan.
“Kalau mata kita ditukar dengan uang dua miliar, apakah kita mau? Tentu tidak. Artinya kesehatan adalah nikmat yang tidak ternilai,” ujarnya.
Karena itu ia mengajak para peserta untuk selalu melihat nikmat yang telah dimiliki, bukan hanya kekurangan yang dirasakan.
“Dengan bersyukur, hati menjadi lapang. Dari situlah lahir keikhlasan dalam mendidik,” pesannya.
Menjelang sore, kegiatan Baitul Arqam itu ditutup dengan suasana yang hangat dan penuh refleksi. Para guru Smamuga pulang dengan bekal semangat baru: bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, melainkan jalan ibadah yang menyatukan dunia dan akhirat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments