Laut menjadi saksi bisu perjuangan seorang ayah nelayan miskin di pesisir Flores Timur. Dengan keyakinan sederhana, “Allah Maha Kaya,” ia melepas anaknya berlayar ke Jawa. Dari doa itu lahirlah perjalanan panjang seorang anak nelayan yang kelak dikenal sebagai Prof. Dr. Thohir Luth, MA, guru besar sekaligus tokoh Muhammadiyah di Jawa Timur.
Hidup keluarga Thohir serba terbatas. Ayahnya dikenal teguh dalam spiritualitas. Sementara ibunya berpikir rasional dan realistis.
Setiap kali pulang melaut dengan peralatan seadanya, sang ayah selalu berpesan, “Nak, jangan seperti bapak. Sekolah lah kamu, kalau bisa sampai ke Jawa. Hanya dengan ilmu engkau bisa mengubah hidupmu.”
Pesan itu menyalakan tekad, meski sang ibu sempat keberatan. Baginya, makan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi menyekolahkan anak ke Jawa. Tetapi sang ayah yakin, “Kita memang miskin, tetapi Allah Maha Kaya. Doakan saja anak kita menjadi saleh dan sukses.”
Doa dan keyakinan itulah yang mengantarkan pria kelahiran Flores 7 Agustus 1954 itu, menyeberang ke Jawa. Dengan bekal ijazah dan izin melanjutkan studi, dia berangkat.
Surabaya menjadi pintu masuk, Malang menjadi persinggahan penting. Di kota itu ia tidak mampu membayar kos, hingga akhirnya tidur di musala kecil. Namun, justru di sanalah ia menemukan Muhammadiyah.
Seorang tokoh ranting Muhammadiyah memberi tempat tinggal di Asrama Pelajar Dinoyo. Dari situ, pintu-pintu kebaikan terbuka. Di Malang, Thohir berkenalan dengan KH. Bejo Darmoleksono, tokoh Muhammadiyah Jawa Timur yang kala itu aktif di Majelis Tarjih.
KH. Bejo sering berkelakar, “Kalau ingin masuk surga, masuklah Muhammadiyah.”
Ucapan itu sempat mengagetkan Thohir muda, tetapi kemudian ia memahami maksudnya, di mana di Muhammadiyah, seseorang diajarkan ibadah tanpa bid’ah, iman tanpa syirik, dengan Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman hidup. Prinsip itu melekat kuat dalam dirinya.
***
Awalnya, Thohir Luth hanya membantu mengetik surat dan mengantarkan undangan rapat. Tapi kepercayaan demi kepercayaan datang.
Dia dipercaya menjadi wakil sekretaris ranting, lalu naik menjadi ketua cabang di Malang, kemudian wakil ketua PDM Kabupaten Malang, hingga akhirnya menjadi ketua PDM.
Perjalanan itu berlanjut hingga tingkat wilayah. Thohir pernah menjabat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur periode 2010–2015, dan kini menjadi Wakil Ketua PWM Jatim. Selain itu, ia juga pernah dipercaya menjadi Ketua MUI Jawa Timur (2015–2020) dan Anggota Dewan Pengawas Bank Syariah (2010–2015).
“Semua ini bukan rencana saya, melainkan kehendak Allah,” ujarnya suatu ketika.
Salah satu amanah penting yang ia emban adalah menggerakkan Lazismu Jawa Timur. Melalui lembaga inilah Thohir merasakan betul makna perjuangan Muhammadiyah: membela kaum dhuafa dan mustadh’afin.
Baginya, Lazismu adalah pengejawantahan nyata dari ajaran KH. Ahmad Dahlan tentang teologi Al-Ma’un, ajaran untuk tidak berpaling dari penderitaan fakir miskin, anak yatim, dan kaum lemah.
Dari bencana hingga pendidikan, dari kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi, Lazismu hadir sebagai gerakan kemanusiaan yang membawa manfaat.
“Kalau ingin jadi manusia bermanfaat, bergabunglah dalam gerakan Muhammadiyah. Di sinilah kita belajar memberi untuk negeri, membela yang lemah, dan menguatkan persaudaraan,” tutur Thohir.
Siapa sangka, anak nelayan miskin dari Flores Timur itu akhirnya meraih gelar Guru Besar di Universitas Brawijaya (UB) Malang, salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Timur.
Pencapaian itu bukan sekadar hasil kerja keras, tetapi juga buah dari doa orang tua, keberanian melangkah, dan keikhlasan berjuang dalam Muhammadiyah.
Thohir Luth telah membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Sebaliknya, keterbatasan bisa menjadi batu loncatan bila diiringi keyakinan, doa, dan kesetiaan pada perjuangan Islam.
Kini, Prof. Thohir Luth masih aktif membina Muhammadiyah, khususnya melalui Lazismu Jawa Timur. Kepada generasi muda, dia berpesan agar jangan ragu mengambil peran.
“Kalau ingin hidup lebih nikmat, terjunlah dalam gerakan Muhammadiyah. Bersama kita bisa memberi lebih banyak untuk negeri,” pesannya seperti dikutip dari kanal Youtube Lazismu Jatim.
***
Kisah perjalanan Thohir Luth adalah teladan inspiratif. Sebuah cerita tentang doa, iman, perjuangan, dan pengabdian yang tak lekang oleh waktu.
Hidupnya mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Justru dari impitan kesulitan lahir ketangguhan dan keyakinan, yang membuat setiap langkah penuh makna.
Doa orang tua, kerja keras tanpa kenal lelah, serta keistikamahan dalam iman menjadikan setiap tantangan sebagai jalan menuju keberkahan.
Lebih dari sekadar pencapaian akademik, Thohir Luth menunjukkan arti sejati dari kepemimpinan dan pelayanan umat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments