Kajian mengenai umat Islam di Indonesia hingga kini masih menarik untuk ditelaah. Apalagi bila ada yang ingin tahu sejatinya seberapa besar kontribusi umat Islam terhadap berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mengapa umat Islam pernah ingin mendirikan Negara Islam? Fakta dan jejak sejarah sebenarnya sudah jelas, tetapi mengapa masih ada pihak-pihak tertentu yang bersikeras menghapusnya bahkan terus menyudutkan umat Islam?
Padahal, ketika Indonesia merdeka, umat Islam sebagai mayoritas memiliki kesempatan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, sebagaimana dilakukan Malaysia dan Brunei Darussalam.
Namun, dengan penuh kebijaksanaan, hal itu tidak dilakukan. Pertanyaannya: mengapa?
Misteri dan fakta-fakta inilah yang membuat tema peran umat Islam selalu menarik dikaji hingga kini. Sesuai catatan sejarah, umat Islam tidak dapat dipungkiri memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa, bahkan sejak masa Nusantara.
Kehadiran umat Islam memberi warna tersendiri, ditandai dengan berkembang pesatnya wilayah ini menyusul bermunculannya kerajaan-kerajaan Islam, mulai dari Samudera Pasai di Sumatra hingga Mataram Islam di Jawa.
Keberadaan kerajaan-kerajaan Islam itu terbukti mampu membawa kemajuan wilayah masing-masing. Bahkan Wali Songo mendirikan sejumlah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan banyak kader bangsa.
Murid Sunan Ampel, Raden Fatah, bahkan mendirikan Kerajaan Islam Demak yang menjadi tonggak penting bagi sejarah bangsa.
Ketika bangsa Indonesia terpuruk akibat penjajahan ratusan tahun, umat Islam kembali bangkit melakukan gerakan perlawanan.
Kebangkitan ini tidak lepas dari pengaruh gerakan modernisasi Islam yang digelorakan tokoh-tokoh dunia seperti Jamaluddin Al-Afghani di India dan Muhammad Abduh di Mesir.
Gerakan modernisasi itu menjadi virus ampuh yang menggerakkan semangat perjuangan melawan penjajah.
Gagasan Pan-Islamisme atau persatuan umat Islam yang dicetuskan Al-Afghani dipahami dengan baik oleh para tokoh pembaruan di Indonesia.
Gerakan pembaruan ini tidak hanya memotivasi bangsa untuk menghadirkan semangat baru dalam membangun pendidikan yang dinamis sesuai tuntutan zaman, tetapi juga merembet ke ranah politik.
Perkembangan itu meluas hingga melahirkan gerakan nasionalisme. Masyarakat tergerak bangkit, memperkuat ukhuwah Islamiyah, hingga akhirnya tercapai proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Inilah peran nyata umat Islam yang tidak dapat dibantah, meski ada pihak-pihak yang mencoba menguburnya dengan stigma negatif seperti intoleran, radikal, dan lainnya.
Ironisnya, ada pula sebagian umat Islam sendiri yang ikut-ikutan menyudutkan agamanya. Naudzubillah min dzalik.
Jika menilik fakta sejarah, umat Islam sejak awal telah memberi peran penting bagi kemajuan bangsa ini. Pada era Hindu-Buddha, meski bangsa belum dijajah, sistem kasta membuat masyarakat tidak memiliki kesetaraan, terutama karena sebagian besar rakyat berada pada kasta sudra yang rendah.
Setelah Islam datang, bangsa ini mulai menikmati hak yang sama tanpa diskriminasi. Tidak ada paksaan dalam beragama, bahkan umat Islam menunjukkan toleransi tinggi terhadap penganut agama lain.
Namun keadaan berubah ketika Portugis datang pada 1511 M, disusul Belanda. Sejak itu bangsa ini terpuruk akibat penjajahan panjang hingga 350 tahun.
Penjajah datang dengan semboyan 3G (Gold, Glory, Gospel). Akibatnya, bangsa Indonesia tidak hanya kehilangan kekayaan alamnya, tetapi juga dijajah secara politik, intelektual, bahkan agama. Dari sinilah bangsa Indonesia mulai mengenal agama Kristen yang dibawa para penjajah.
Sungguh miris melihat perjalanan bangsa yang harus mengalami penjajahan selama berabad-abad. Umat Islam sebenarnya sejak awal telah berulang kali bangkit melawan penjajah.
Perlawanan itu terekam dalam sejumlah perang besar, seperti Perang Cirebon (1802–1806), Perang Diponegoro (1825–1830), Perang Padri (1821–1838), dan Perang Aceh (1873–1908). Namun semua perjuangan itu belum berhasil mengusir penjajah sepenuhnya.
Setelah masa panjang itu, para tokoh dan ulama kembali tergerak untuk bangkit. Kesadaran ini muncul bersamaan dengan gelombang modernisasi dunia Islam.
Melalui ibadah haji dan kesempatan menimba ilmu di luar negeri, umat Islam Indonesia banyak berinteraksi dengan tokoh pembaruan Islam dunia. Dari interaksi itulah lahir strategi baru menghadapi penjajah.
Universitas Al-Azhar di Mesir menjadi inspirasi besar. Reformasi pendidikan yang dilakukan di sana bergema hingga ke Indonesia. Pendidikan Islam di Tanah Air perlahan berkembang, tidak lagi hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga meluas ke ilmu pengetahuan umum.
Gerakan pembaruan itu semakin memotivasi bangsa Indonesia untuk menghadirkan semangat baru, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga di bidang politik dan sosial.
Puncaknya, pada awal abad ke-20, lahir berbagai organisasi pergerakan Islam. Jam’iyatul Khair berdiri tahun 1905 di Jakarta yang dimotori keturunan Arab, disusul KH Samanhudi, seorang pengusaha batik muslim asal Surakarta yang mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di tahun yang sama, sepulang dari ibadah haji.
Sejak saat itu, umat Islam berperan besar dalam memajukan pendidikan, menggerakkan politik, ekonomi, hingga perjuangan kebangsaan.
Semua itu membuktikan bahwa perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari kontribusi besar umat Islam—kontribusi yang tidak akan pernah bisa dihapus dari sejarah bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments