Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Daun di Kanvas Putih, Jejak Cinta di Hati yang Tumbuh

Iklan Landscape Smamda
Jejak Daun di Kanvas Putih, Jejak Cinta di Hati yang Tumbuh
Aksa Pramudya Aidy, kelas II MIM 06 Brondong. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Di sebuah ruang sederhana kelas II MIM 06 Brondong, pagi itu cahaya matahari jatuh perlahan di atas meja-meja kecil yang dipenuhi kanvas putih. Kanvas-kanvas itu masih polos, seperti hari-hari anak-anak yang menunggu untuk diwarnai pengalaman. Di antara tangan-tangan mungil yang sibuk, ada satu pasang tangan yang bergerak dengan tekun dan hati-hati tangan Aksa Pramudya Aidy.

Dengan mata berbinar dan senyum yang tak pernah lepas, Aksa mengecapkan daun ke atas kanvasnya. Setiap helai daun yang disentuhkan pada cat, lalu ditempelkan perlahan, meninggalkan jejak unik: guratan tulang daun yang halus, lengkung alami yang tak bisa ditiru kuas mana pun. Ia tidak sekadar membuat karya; ia sedang berdialog dengan alam.

Di sampingnya, sang ibu tercinta, Maftuhah, M.Pd., setia mendampingi. Tatapannya penuh dukungan, senyumnya menguatkan. Sesekali ia membantu memegangkan wadah cat, atau mengingatkan Aksa agar menekan daun dengan lembut agar hasilnya tampak jelas. Namun lebih dari itu, ia menghadirkan rasa aman bahwa setiap usaha layak dihargai, setiap warna layak dirayakan.

Kegiatan mengecap daun di kanvas ini merupakan bagian dari pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBDP). Di bawah bimbingan Guru Mapel SBDP, Rani, anak-anak diajak mengenal keindahan dari hal-hal sederhana. Daun yang mungkin selama ini hanya terinjak di halaman sekolah, kini menjelma menjadi karya seni yang penuh makna. Dari hijau tua hingga kuning keemasan, dari daun kecil hingga lebar, semuanya memiliki cerita.

Bagi Aksa, kegiatan ini bukan sekadar tugas sekolah. Ia melakukannya dengan kesungguhan yang jarang terlihat pada anak seusianya. Setiap cap daun disusunnya dengan perhitungan. Ia memadukan warna dengan berani biru dipertemukan dengan jingga, hijau berpadu dengan merah. Tak ada rasa takut salah. Yang ada hanya keberanian untuk mencoba.

Kreativitas Tumbuh

Kreativitas bukan tentang hasil yang sempurna, melainkan tentang proses yang dijalani dengan hati. Saat tangan kecil Aksa mulai belepotan cat, ia tidak mengeluh. Ia justru tertawa. Ketika satu cap daun kurang jelas, ia mencoba lagi. Ketekunan itu seperti benih yang disiram kesabaran sang ibu dan arahan penuh makna dari gurunya.

Ibu Rani, dengan penuh perhatian, mengapresiasi setiap karya murid-muridnya. Baginya, setiap kanvas adalah cerminan jiwa. Ia memahami bahwa pendidikan seni bukan hanya melatih motorik halus, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kepekaan, dan keberanian berekspresi. Ucapan terima kasih yang tulus pun mengalir untuk para orang tua yang telah membersamai anak-anak dalam proses belajar di rumah.

Pendampingan Maftuhah, M.Pd. menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah dan keluarga adalah kunci tumbuhnya potensi anak. Di balik setiap cap daun yang tercetak rapi, ada doa yang tersemat. Di balik setiap warna yang dipilih, ada harapan yang diselipkan. Bahwa kelak, anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, dan penuh cinta.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kanvas putih itu kini tak lagi kosong. Ia telah berubah menjadi taman kecil yang berwarna-warni. Namun lebih dari itu, ia menjadi saksi perjalanan belajar seorang anak. Jejak daun yang menempel bukan hanya hiasan visual, melainkan simbol dari proses: mencoba, gagal, memperbaiki, dan berhasil.

Hari itu, di kelas kecil penuh keceriaan, seni telah menjelma menjadi jembatan. Jembatan antara guru dan murid, ibu dan anak, dan alam dan imajinasi.

Dan di tengah semua itu, Aksa Pramudya Aidy berdiri dengan wajah bangga, memandangi karyanya. Barangkali ia belum sepenuhnya mengerti arti kreativitas. Namun ia telah merasakannya—dalam sentuhan daun, dalam warna yang melekat di jemarinya, dalam pelukan hangat ibunya, dan dalam apresiasi tulus gurunya.

Jejak daun itu mungkin suatu hari akan memudar. Catnya bisa saja retak dimakan waktu. Namun kenangan tentang hari ketika ia belajar mencipta dengan hati akan tetap hidup. Sebab di sanalah, di atas kanvas sederhana itu, tumbuh satu pelajaran berharga: bahwa setiap anak adalah seniman bagi hidupnya sendiri.

Dan pagi itu, seni telah menuliskan satu kisah indah kisah tentang cinta, ketekunan, dan harapan yang mengecap abadi di kanvas kehidupan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu