Di jantung distrik Itaewon, Seoul, berdiri megah sebuah bangunan yang menjadi pusat kehidupan Muslim di Korea Selatan. Namanya, Masjid Pusat Seoul atau lebih dikenal dengan Itaewon Mosque.
Pada penghujung Agustus 2025, suasana masjid itu menjadi saksi perjalanan spiritual sekaligus kultural mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) yang tengah mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional.
Selama sepekan, tepatnya 28 Agustus hingga 2 September 2025, mahasiswa UM Surabaya tidak hanya mengabdikan diri dalam kegiatan sosial lintas negara, tapi juga menapaki jejak Islam di negeri minoritas.
Kunjungan ke masjid ini menjadi momen penting untuk memahami bagaimana Islam hadir, tumbuh, dan bertahan di Korea Selatan.
Di sela ibadah berjamaah, mahasiswa berkesempatan berdialog langsung dengan komunitas Muslim lokal maupun perantau dari Kirgistan. Topik yang dibicarakan tidak ringan.
Mereka membahas dinamika kehidupan umat Islam di negara mayoritas non-Muslim, tantangan menjaga identitas keislaman, serta peluang dakwah yang terbuka melalui solidaritas antarbangsa.
“Rasanya luar biasa bisa sholat berjamaah dengan Muslim dari berbagai negara. Kami merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Islam, meskipun berbeda bahasa dan budaya,” ungkap Aqilatuz Zulfa Adawiyah, salah seorang peserta KKN dari Prodi Hukum Keluarga Islam.
Dialog ini membuka mata mahasiswa bahwa identitas keislaman tidak hanya terjaga di negara dengan populasi Muslim mayoritas. Justru, di negara minoritas, ikhtiar menjaga iman dan tradisi seringkali lebih kuat, penuh kreativitas, dan mengandung solidaritas lintas bangsa.
Kehadiran Islam di Korea Selatan memang bukan fenomena baru. Sejak berdirinya Masjid Pusat Seoul pada 1976, Itaewon menjadi pusat aktivitas Muslim, mulai dari ibadah hingga kegiatan sosial dan pendidikan.
Mahasiswa UM Surabaya mendengarkan langsung kisah-kisah dari imam masjid, relawan, dan warga Muslim yang telah lama menetap di sana. Mereka belajar bagaimana komunitas Muslim berstrategi agar tetap bisa mempertahankan tradisi dan keimanan, tanpa kehilangan ruang dialog dengan masyarakat luas.
Bagi mahasiswa, pengalaman ini adalah jendela baru yang mengajarkan pentingnya moderasi, keterbukaan, sekaligus kegigihan dalam menjaga nilai-nilai spiritual di tengah arus modernitas global.
Selepas kunjungan ke masjid, pengalaman mahasiswa berlanjut dengan berburu makanan halal di kawasan Itaewon. Jalanan di sekitar masjid dipenuhi restoran halal dengan ragam cita rasa. Mulai dari masakan khas Asia, Timur Tengah, hingga kuliner fusion yang ramah bagi semua pengunjung.
“Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi saya mencoba kuliner halal di luar negeri, sekaligus bukti bahwa komunitas Muslim bisa bertahan di negara minoritas,” tutur Zulfa dengan wajah berbinar.
Bagi mahasiswa, mencicipi hidangan halal di luar negeri bukan sekadar soal rasa. Lebih dari itu, ia menjadi simbol betapa pentingnya ekosistem halal bagi umat Islam yang hidup di lingkungan berbeda.
Rasa aman dan nyaman itu menghadirkan keyakinan bahwa identitas keislaman bisa tetap terjaga di manapun mereka berada.
Menguatkan Jejaring Global
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerjasama, dan Digitalisasi UM Surabaya, Dr Radius Setiyawan, menjelaskan bahwa program KKN internasional tidak hanya berlangsung di Korea Selatan, tetapi juga di Singapura dan Taiwan.
Hal ini membuktikan bahwa UMSurabaya mampu berkiprah secara global dalam bidang pengabdian masyarakat.
“Kunjungan ke Masjid Pusat Seoul dan dialog dengan komunitas Muslim setempat menjadi pengalaman berharga. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang bagaimana Islam hadir di Korea Selatan, tetapi juga bagaimana membangun solidaritas lintas bangsa melalui nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan,” jelas Radius.
Sementara itu, Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) UM Surabaya, Arin Setyowati, MA menekankan bahwa KKN internasional dirancang untuk membentuk mahasiswa sebagai global citizen.
“Mahasiswa bisa merasakan langsung bagaimana hidup di tengah masyarakat global, termasuk belajar dari komunitas Muslim di negara minoritas. Harapannya, mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman, tetapi juga inspirasi untuk mengembangkan program pengabdian masyarakat yang lebih inklusif dan inovatif,” ujarnya.
Dari pengabdian, riset kecil, hingga kunjungan budaya dan keagamaan, KKN internasional UMSurabaya menjadi wadah pembelajaran multidimensi.
Mahasiswa diajak untuk tidak hanya berpikir lokal, tetapi juga global. Mereka diharapkan menjadi duta kampus dan bangsa yang membawa semangat kolaborasi, moderasi, serta kepedulian terhadap sesama.
Pengalaman spiritual di Masjid Pusat Seoul, hangatnya dialog lintas bangsa, hingga lezatnya kuliner halal Itaewon, seluruhnya menjadi mozaik pembelajaran berharga.
Bagi mahasiswa UM Surabaya, perjalanan singkat di Korea Selatan adalah pengingat bahwa Islam adalah agama yang merangkul, mempersatukan, dan senantiasa hidup dalam hati pemeluknya, di manapun mereka berada.
Dan lebih dari itu, pengalaman lintas bangsa ini menanamkan keyakinan bahwa menjadi Muslim bukan sekadar soal identitas, tetapi juga tentang menghadirkan kedamaian, membangun solidaritas, dan menebarkan kebaikan di tengah keberagaman dunia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments