Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)
Ayat ini memberi pesan kuat bahwa kebaikan tidak boleh berhenti hanya pada diri kita sendiri. Ia harus menjalar kepada orang-orang terdekat, keluarga, tetangga, hingga orang asing sekalipun.
Kebaikan yang Tidak Pernah sia-sia
Rasulullah saw bersabda: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun hanya dengan wajah ceria saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu identik dengan materi. Senyum, kata yang lembut, atau bahkan doa tulus yang dipanjatkan diam-diam untuk orang lain, semuanya bernilai pahala di sisi Allah.
Jangan pernah lelah dalam menyampaikan kebaikan, sebab setan tidak akan pernah bosan menghalangi niat tulus kita.
Jangan takut dicibir karena selalu berbagi pelajaran hidup, motivasi, atau inspirasi. Jika tidak ada orang yang menyukai atau mempedulikan, setidaknya diri kita sendiri mendapat manfaat dan tetap terjaga di jalan kebaikan.
Kebaikan yang Menyelamatkan
Ada sebuah kisah nyata, seorang penjual nasi bungkus di pinggir jalan selalu menyisihkan satu porsi untuk diberikan kepada tukang becak yang sering lewat.
Bertahun-tahun ia melakukannya tanpa pamrih. Hingga suatu ketika, penjual nasi itu sakit keras dan kesulitan biaya pengobatan.
Ternyata, para tukang becak, pedagang kecil, dan warga sekitar yang selama ini merasakan kebaikannya berbondong-bondong membantu.
Inilah bukti bahwa kebaikan yang kecil sekalipun akan kembali kepada kita dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Senikmat dan seindah apa pun keburukan, tetap tidak akan membawa keberuntungan. Namun sekecil dan sesederhana apa pun kebaikan, ia tetap akan menumbuhkan keberkahan.
Menjadi Sahabat Waktu dengan Kebaikan
Bayangkan, kita semua diberi jatah waktu yang sama: 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun. Tetapi betapa ruginya jika dalam catatan Sang Rahman, tidak ada satu pun kebaikan yang tertulis karena waktu habis sia-sia.
Mulailah dari yang kecil. Beri salam ketika bertemu orang lain, sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, luangkan telinga untuk mendengar keluh kesah sahabat, atau bahkan menahan diri dari membalas hinaan. Itulah kebaikan-kebaikan kecil yang bernilai besar di sisi Allah.
Kebaikan yang Kontinu: Bangunan Amal yang Kokoh
Lihatlah gedung-gedung tinggi yang megah. Bukankah ia berawal dari kerikil dan pasir kecil? Demikian pula amal kebaikan. Jika dikerjakan dengan rutin, ikhlas, dan tujuannya hanya kepada Allah, maka nilainya akan menjadi sangat besar.
Rasulullah saw pernah bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara kontinu, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sahabat, jangan pernah tinggalkan kebaikan. Bila tak mampu melakukan yang besar, lakukan yang kecil. Bila tak sanggup mengerjakan semua, lakukan sebagian. Yang penting, jangan sampai hari kita kosong tanpa tambahan amal.
Kebaikan adalah investasi abadi yang akan menyertai kita, bahkan setelah dunia ditinggalkan. Semoga Allah memudahkan kita untuk istiqamah, menjaga hati, dan memperbanyak catatan amal kebaikan.
Aamiin yaa Rabbal ‘Alamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments