Lampu-lampu bioskop CGV Icon Mall Gresik perlahan meredup pada Rabu (4/2/2026), tepat pukul 13.00 WIB. Suasana yang semula riuh berubah menjadi hening ketika para siswa kelas X SMA Muhammadiyah 10 GKB (SMAMIO) mulai memusatkan perhatian ke layar lebar. Pada siang itu, mereka mengikuti kegiatan nonton bareng film bertema Cyberbullying yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan di tengah rutinitas belajar, melainkan sarana refleksi dan pembelajaran bermakna. Film yang ditayangkan mengisahkan perjalanan seorang siswa SMP yang dikenal cerdas, namun hidupnya berubah drastis setelah menjadi korban perundungan siber. Sebuah video tentang dirinya tersebar luas di media sosial, memicu ejekan dan tekanan yang terus-menerus hingga membuatnya mengalami depresi dan menutup diri dari lingkungan sekitar.
Demi mencari ketenangan, tokoh dalam film tersebut memilih pindah ke rumah kakeknya dan berusaha bangkit menata hidup. Namun, masa lalu yang kelam tak mudah ditinggalkan. Jejak digital dan trauma perundungan kembali menghantuinya, menjadi ujian berat dalam proses pemulihan dirinya.
Di dalam studio bioskop, suasana terasa begitu sunyi. Beberapa siswa tampak terdiam, larut dalam alur cerita yang terasa dekat dengan realitas kehidupan remaja masa kini. Film tersebut seolah menjadi pengingat bahwa dunia digital yang akrab dalam keseharian dapat berubah menjadi ruang yang melukai, apabila tidak disikapi dengan bijak dan bertanggung jawab.
Guru Bimbingan Konseling SMA Muhammadiyah 10 GKB, Ustadzah Ika Famila, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai media edukasi yang menyentuh sisi emosional siswa. Menurutnya, melalui pendekatan visual dan cerita yang kuat, siswa diharapkan mampu memahami dampak nyata cyberbullying secara lebih mendalam.
“Melalui film ini, kami berharap siswa dapat meningkatkan pemahaman literasi digital dan menyadari bahwa cyberbullying bukan hal sepele. Dampaknya sangat serius, terutama bagi kesehatan mental korban,” ujar Ustadzah Ika.
Kegiatan nonton bareng ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa yang berempati, peduli, dan bijak dalam bermedia sosial. Lebih dari sekadar menonton film, siswa diajak untuk belajar berpikir sebelum membagikan, mengomentari, atau menyebarkan sesuatu di dunia maya.
Saat film usai dan lampu bioskop kembali menyala menjelang pukul 15.00 WIB, para siswa meninggalkan studio dengan ekspresi yang berbeda. Mereka membawa pulang bukan hanya kesan dari sebuah film, tetapi juga pesan kuat tentang pentingnya saling menghargai dan menjaga etika di ruang digital—sebuah bekal penting bagi generasi muda di era teknologi.





0 Tanggapan
Empty Comments