Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura

Iklan Landscape Smamda
Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura
Labhang Mesem (pintu tersenyum), merupakan salah satu pintu gerbang menuju kompleks Karaton. Foto: Wikipedia
Oleh : Nanang Purwono Wartawan Senior dan Pegiat Sejarah
pwmu.co -

Bagi sebagian orang, Madura mungkin selalu identik dengan bahasa, budaya, dan tradisi yang sepenuhnya berbeda dari Jawa.

Namun, sejarah kerap menyimpan lapisan-lapisan kisah yang tak selalu tampak di permukaan.

Salah satunya adalah fakta menarik bahwa aksara Jawa—Hanacaraka atau Carakan—telah lama hidup dan digunakan di Pulau Garam, khususnya di Sumenep.

Bukan sebagai fenomena baru, melainkan sebagai tradisi tulis yang berurat akar sejak masa kerajaan.

Penggunaan Hanacaraka di Madura sering kali mengejutkan mereka yang baru mengetahuinya.

Padahal, dalam lintasan sejarah, aksara ini tidak hanya menjadi milik budaya Jawa semata. Wilayah budaya Jawa yang luas, termasuk Madura, pernah berada dalam jejaring kekuasaan dan pengaruh politik Kesultanan Mataram Islam.

Dari sinilah Carakan menemukan ruang hidupnya di tanah Madura, beradaptasi dengan bahasa dan konteks lokal, tanpa kehilangan bentuk dasarnya.

Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura
Mandiyoso, salah satu ruang di dalam kompleks Karaton Sumenep yang menghubungkan Karaton Dhalem dan Pendopo Agung. Foto: Wikipedia

Carakan di Tanah Madura

Secara visual dan sistem penulisan, Hanacaraka yang digunakan untuk bahasa Jawa dan bahasa Madura nyaris tidak berbeda. Huruf-hurufnya sama, kaidah dasarnya serupa.

Perbedaannya baru terasa ketika aksara itu dibunyikan. Bahasa Madura memiliki fonologi dan irama tutur yang khas, sehingga Carakan yang sama akan terdengar berbeda ketika dibaca dalam bahasa Madura dibandingkan bahasa Jawa.

Di Sumenep, penggunaan Carakan bukanlah sesuatu yang asing. Ia telah menjadi bagian dari tradisi tulis sejak zaman kerajaan.

Jejaknya masih dapat dijumpai di berbagai situs sejarah: Masjid Jami’ Sumenep, kompleks makam raja Asta Tinggi, Keraton Sumenep, hingga langgar-langgar tua yang menyimpan manuskrip-manuskrip lama.

Aksara ini menjadi saksi bisu kehidupan keagamaan, administratif, dan intelektual masyarakat Sumenep pada masa lalu.

Dalam sebuah kunjungan bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan pada 2009, penelusuran jejak sejarah Madura membawa gambaran yang utuh tentang pentingnya Sumenep.

Dari wilayah bekas Kerajaan Madura Barat, seperti Arosbaya, hingga kawasan Madura Timur, Sumenep tampil sebagai pusat peradaban dan pemerintahan yang paling menonjol.

Sebagai bekas kerajaan utama di Madura Timur, Sumenep mewarisi peninggalan fisik yang masih relatif lengkap: Keraton Sumenep,

Masjid Jami’, dan Asta Tinggi yang berada di jantung kota. Sebelumnya, wilayah ini juga pernah dinaungi kerajaan-kerajaan kecil seperti Baragung, Bukabu, dan Mandaraga (Ambunten), meskipun jejak fisik kerajaan-kerajaan tersebut kini banyak yang hilang ditelan waktu.

Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura
Kereta kencana keraton Sumenep. Foto: Wikipedia

Di Bawah Bayang Mataram dan VOC

Secara politik, hubungan Keraton Sumenep dengan Kesultanan Mataram Islam bersifat hierarkis. Sumenep berada dalam posisi sebagai wilayah bawahan atau mancanegara.

Pengaruh Mataram sangat kuat, terutama dalam urusan administrasi, budaya istana, dan tata kelola pemerintahan.

Namun, posisi ini tidak selalu berjalan mulus. Beban upeti dan intervensi kekuasaan pusat sering kali memicu keinginan untuk merdeka.

Situasi semakin rumit ketika VOC masuk melalui berbagai perjanjian politik. Pada akhirnya, Sumenep berada di bawah naungan VOC dengan status Kadipaten, bukan Kesultanan.

Meski demikian, bangsawan lokal tetap memegang kekuasaan internal, walaupun berada dalam pengawasan ketat pihak kolonial.

Simbol pengawasan VOC masih dapat dilihat hingga kini. Gedung VOC yang berdiri tepat di depan Keraton Sumenep—kini dimanfaatkan sebagai museum—menjadi representasi nyata kontrol administratif dan strategis kolonial.

Bahkan di dalam kompleks keraton sendiri, terdapat sentuhan arsitektur Eropa yang menandai kehadiran VOC dalam ruang kekuasaan lokal.

Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura
Taman Sare. Foto: Wikipedia

Budaya Mataraman

Sebagai Kadipaten di bawah Mataram, urusan administratif Keraton Sumenep banyak mengikuti pakem Mataraman.

Etiket istana, penggunaan bahasa, gelar kebangsawanan, upacara, hingga sistem penulisan diselaraskan dengan tradisi Mataram.

Semua ini berfungsi sebagai alat kontrol sosial dan politik, sekaligus upaya menyatukan wilayah yang secara geografis jauh dari pusat kekuasaan.

Tak heran jika hingga kini masyarakat Sumenep masih mengenal tradisi-tradisi yang memiliki kemiripan dengan budaya Mataraman.

Kesamaan ini bukan hasil imitasi semata, melainkan buah dari hubungan panjang yang terjalin melalui politik, pernikahan antarbangsawan, serta penyebaran agama Islam.

Dalam konteks administrasi, Kadipaten Sumenep memiliki pakem penulisan tersendiri yang menggunakan Carakan. Dari sinilah dikenal istilah Carakan Madura—varian aksara Jawa yang digunakan untuk menuliskan bahasa Madura.
Aksara ini tidak hanya dipakai di lingkungan keraton, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama dalam penulisan naskah-naskah penting di masa lalu.

Carakan Madura menjadi bukti bahwa aksara bukan sekadar alat tulis, melainkan medium kekuasaan, identitas, dan ingatan kolektif.

Ia mencerminkan bagaimana pengaruh Mataram Islam meresap hingga ke ujung timur Pulau Madura, membentuk wajah budaya Sumenep yang unik: Madura dalam bahasa dan karakter, Mataram dalam tata kelola dan tradisi istana.

Jejak Mataram Islam di Ujung Timur Madura
Lambang Kadipaten Sumenep Pada tahun 1811 – tahun 1965. Foto: Wikipedia

Di tengah upaya pemajuan kebudayaan pada masa kini, perhatian terhadap aksara dan manuskrip lama menjadi semakin relevan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memberikan kerangka hukum untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya bangsa, termasuk aksara tradisional.

Bagi Sumenep, Carakan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah pengingat akan sejarah panjang relasi kekuasaan, budaya, dan identitas.

Merawatnya berarti menjaga ingatan kolektif, agar generasi hari ini dan esok tetap dapat membaca jejak perjalanan sejarah Madura—bukan hanya melalui cerita lisan, tetapi juga melalui aksara yang pernah menghidupkan peradaban. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu