Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Perjuangan Ahmad Hanif: Penggerak Muhammadiyah dari Ujung Pangkah

Iklan Landscape Smamda
Jejak Perjuangan Ahmad Hanif: Penggerak Muhammadiyah dari Ujung Pangkah
Ahmad Hanif Adlan, S.Ag. Foto: Gemini AI/PWMU.CO
Oleh : Esti Santaria Mahasiswa UM Surabaya
pwmu.co -

Dalam sejarah Muhammadiyah di pesisir Gresik, ada nama-nama yang bekerja dalam diam namun meninggalkan jejak yang tak pernah padam. Salah satunya adalah Ustaz H. Ahmad Hanif Adlan, S.Ag (1951–2023). Sosok sederhana yang dipandang masyarakat sebagai teladan kesabaran, kedisiplinan, dan kesantunan. Meskipun telah berpulang, pengaruhnya masih kuat terasa dalam denyut dakwah dan amal usaha Muhammadiyah di Ujung Pangkah.

Masa Kecil Ahmad Hanif dan Akar Pesantren

Lahir pada 2 Juli 1951 di Gresik, Ahmad Hanif tumbuh dalam keluarga yang kuat memegang nilai pendidikan agama. Sejak kecil ia dikenal tekun belajar kitab kuning dan tumbuh dalam tradisi pesantren yang membentuk karakter religiusnya. Pendidikan MTS ia tempuh di pesantren di Sidayu, lalu melanjutkan pembelajaran di Pondok Pesantren Karang Asem Paciran.

Keluarganya mengenang bahwa minat berorganisasi muncul dari teladan para guru dan tokoh yang ia hormati. Ayahnya, KH Ahmad, menjadi figur disiplin dan kejujuran. KH Abdurrohman Syamsuri, pengasuh Ponpes Karang Asem Paciran, menanamkan semangat perjuangan. Sementara KH Muhajir Drs, dosen Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Surabaya, membuka wawasannya mengenai gerakan modern Islam.

Dari orang-orang itu, ia belajar bahwa dakwah bukan sekadar ceramah, tetapi kerja panjang yang konsisten.

Langkah Awal di IPM hingga Memimpin Muhammadiyah

Perjalanan organisatorisnya dimulai ketika ia menjadi guru agama dan tertarik bergabung dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dedikasinya membuat ia dipercaya memimpin Pimpinan Cabang IPM Sidayu. Ia menjalani amanah dengan gaya kepemimpinan yang tenang dan tidak mencolok, namun tegas dalam prinsip.

Pada tahun 2010, Ahmad Hanif memulai babak baru ketika diangkat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Pangkah. Amanat itu ia jalankan selama dua periode, hingga 2020. Baginya, memimpin cabang bukan peran untuk menaruh nama, tetapi ruang untuk memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat.

Merintis Amal Usaha untuk Masyarakat Pesisir

Salah satu hal yang menonjol dari kiprah Ahmad Hanif adalah keberaniannya mengembangkan amal usaha dalam tiga sektor penting: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat pesisir. Ia melihat bahwa dakwah harus memberi jawaban konkret bagi kebutuhan warga.

Di dunia pendidikan, ia menjadi perintis berdirinya Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Ujungpangkah. Dua lembaga ini menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang memadukan ilmu agama dan kecakapan modern.

Dalam bidang kesehatan, ia mendorong berdirinya BP PKU yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit PKU Sekapuk. Kehadiran rumah sakit ini adalah tonggak sejarah tersendiri. Di daerah yang jauh dari kota dan minim fasilitas kesehatan, rumah sakit tersebut menjadi napas baru bagi masyarakat. Mereka kini bisa mendapatkan layanan yang layak tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Selain itu, kedekatannya dengan masyarakat tambak membuatnya aktif mendorong penguatan ekonomi lokal, terutama bagi para petambak ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi Ujung Pangkah.

Kesederhanaan Ahmad Hanif

Pujian dan penghormatan masyarakat kepada Ahmad Hanif bukan karena pidatonya yang menggelegar, tetapi karena keteladanan yang ia tunjukkan sehari-hari. Ia dikenal santun, sabar, dan rendah hati. Dalam memimpin organisasi, ia memilih pendekatan yang lembut, tidak menekan, dan tidak mencari sorotan. Justru karena itulah dakwahnya diterima luas oleh masyarakat.

Keluarga mengenangnya sebagai sosok yang adil dalam membagi waktu. Meski aktif memimpin cabang, ia tetap memberi ruang bagi keluarga, mendengarkan, dan memperhatikan kebutuhan mereka. Bagi anak-anaknya, ia bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi teladan kesederhanaan.

Kepergian Ahmad Hanif pada 2023 membuat banyak warga Muhammadiyah merasa kehilangan. Namun warisan perjuangan yang ia tinggalkan tidak pernah benar-benar pergi. Madrasah yang ia rintis masih mendidik generasi baru. Rumah Sakit PKU Sekapuk terus menjadi penolong bagi warga pesisir. Dan nilai-nilai perjuangan yang ia tanamkan—kesederhanaan, keteguhan, dan ketulusan—masih menjadi napas bagi kader-kader muda.

Dalam sejarah lokal Muhammadiyah, sosok Ahmad Hanif Adlan mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu lahir dari mimbar besar. Sering kali ia justru tumbuh dari orang-orang yang bekerja senyap, namun meninggalkan manfaat yang tak pernah padam.

Semoga jejak perjuangannya terus menjadi penerang langkah dakwah Muhammadiyah di masa depan.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu