Jika ada satu kawasan di Surabaya yang mampu menyatukan aroma masa lalu dengan denyut kehidupan masa kini, itu adalah Ampel Denta.
Di sana, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga tercium di udara, berasa di lidah, dan terlihat di antara lorong-lorong sempitnya.
Sejak berabad-abad lalu, Ampel dikenal sebagai pusat rempah. Jejak itu masih terpatri jelas. Bahkan pada gapura kompleks Sunan Ampel.
Cermati baik-baik: di sana ada ukiran cengkeh dan relief bunga lawang—dua bumbu yang telah lama mengarungi samudra perdagangan dunia.
Sayangnya, simbol-simbol ini sering luput dari perhatian jutaan orang yang melintas saban tahun. Padahal, setiap gurat relief adalah potongan kisah tentang Ampel sebagai simpul perdagangan internasional.
Rempah di Ampel bukan hanya artefak, tapi juga napas kehidupan sehari-hari. Kuliner di kawasan ini adalah perayaan rasa yang kaya dan kompleks.
Mulai dari jajanan sederhana seperti mageli (sejenis gorengan berbumbu), sambosa, dan martabak, hingga sajian berat seperti gulai kambing dan nasi biryani.
Tak ketinggalan, minuman tradisional gawak dan kopi beraroma rempah yang mampu menghangatkan tubuh sekaligus menghidupkan obrolan.
Di salah satu gang kecil bernama Ampel Kembang, terdapat sebuah rumah yang menjadi legenda tersendiri: Rumah Bumbu. Seperti namanya, rumah ini menjajakan aneka rempah dan bumbu siap masak.
Warga setempat menyebutnya demikian karena di dalamnya tersimpan rasa dari berbagai penjuru dunia. Awalnya, rumah ini dimiliki oleh keluarga Sifan, etnis India yang menetap di Surabaya.
Kini, rumah tersebut dikelola keluarga Sam, yang tetap mempertahankan tradisi dagang bumbu dengan kualitas terbaik.

Jejak India di Ampel
Hubungan Ampel dengan India bukan kebetulan. India sejak dulu adalah pusat rempah kelas dunia. Kayu manis, kapulaga, jintan, hingga kunyit dari India dikenal karena kualitas dan aromanya yang kuat.
Banyak dari bumbu itu berlayar ribuan kilometer, berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, termasuk di Surabaya.
Di Pasar Pabean, yang tak jauh dari Ampel, geliat perdagangan rempah ini masih terasa. Pasar ini menjadi sentra penjualan rempah baik grosir maupun eceran.
Pedagang, koki, hingga penikmat kuliner dari berbagai daerah datang mencari cita rasa yang menghubungkan lidah mereka dengan jejak perdagangan berabad-abad silam.
Keterhubungan antara India dan Nusantara bukan hanya soal barang, tapi juga budaya. Dalam acara Menapak Jejak Peradaban Ampel Denta di Quds Royal Hotel, pengunjung bisa merasakan langsung warisan ini.

Salah satu lapak dalam bazar UMKM menyajikan martabak dan samosa khas India. Rasanya? Sebuah perpaduan harmonis antara tekstur renyah, bumbu pekat, dan aroma rempah yang menggugah memori kolektif hubungan kedua bangsa.
Samosa, misalnya, adalah kudapan berbentuk segitiga yang diisi kentang berbumbu, kacang polong, atau daging cincang.
Dibungkus tipis, digoreng garing, lalu disajikan panas-panas. Setiap gigitan mengingatkan pada jalur perdagangan yang dulu menghubungkan Gujarat, Malaka, dan Jawa.
Warisan kuliner ini adalah bagian dari diplomasi rasa. Pelestariannya tidak hanya penting untuk pariwisata, tapi juga untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia–India di masa depan.
Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha bisa mengambil langkah konkret: menghidupkan festival kuliner lintas budaya, mendukung riset sejarah perdagangan rempah, hingga mendorong kerjasama ekonomi kreatif berbasis kuliner.
Di sini, media massa juga memegang peranan penting. Lewat pemberitaan yang akurat dan berimbang, media bisa menjadi jembatan yang memperkenalkan budaya kedua negara, menghapus kesalahpahaman, dan membangun rasa saling percaya.
Salah satu contoh nyata adalah Voice of Tomorrow, wadah pembinaan jurnalis muda yang berfokus pada peningkatan kapasitas jurnalisme untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia–India.

Program seperti ini membuktikan bahwa hubungan antarbenua tidak selalu dibangun di meja diplomasi—kadang ia tumbuh dari meja makan, dari secangkir kopi rempah, atau dari sepotong samosa yang dinikmati bersama.
Berjalan di Ampel bukan sekadar wisata religi. Ia adalah perjalanan sensorik: mata menangkap warna-warni bumbu, hidung mencium aroma kapulaga, lidah merasakan ledakan rasa kari, telinga mendengar riuh tawar-menawar, dan tangan meraba tekstur kain serta kemasan rempah yang dijajakan pedagang.
Setiap sudut Ampel adalah potongan mozaik peradaban. Dari gapura bercorak cengkeh dan bunga lawang, rumah bumbu peninggalan keluarga India, pasar rempah di Pabean, hingga bazar kuliner khas India—semuanya adalah pengingat bahwa Surabaya pernah, dan masih, menjadi simpul dalam jejaring perdagangan dunia.
Di sini, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia hidup, menguar dari setiap kepulan masakan, dan mengalir di setiap tegukan minuman.
Dan siapa pun yang melangkah di Ampel, cepat atau lambat, akan terseret dalam arus harum rempah yang telah berabad-abad menjadi denyut nadinya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments