Fajar di Merauke selalu datang lebih awal daripada wilayah lain di Indonesia. Ketika mata saya perlahan terbuka, langit masih gelap—hanya digaris oleh semburat biru tipis yang menandai bahwa cahaya sedang meniti jalannya. Seusai berwudu dan menunaikan salat Subuh di ruang kecil tempat saya beribadah, saya duduk sejenak. Ada ketenangan yang meresap, sebuah jeda hening sebelum ritme kehidupan kembali bergerak.
Saat melangkah keluar, warna jingga muda mulai menembus cakrawala. Dari kejauhan, tampak rombongan siswa berseragam SD, SMP, hingga SMA Muhammadiyah berjalan melewati mess tempat saya tinggal. Pemandangan itu selalu menghangatkan hati: generasi muda yang menapaki jalan ilmu, membawa semangat yang pernah ditanam para perintis dakwah Islam di ujung timur negeri ini.
Salah satu dari tokoh itu adalah sosok yang mungkin tak banyak tercatat dalam buku pelajaran nasional, tetapi jejaknya sangat nyata di tanah Papua: Teuku Bujang Salim bin Teuku Rhi Mahmud, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Bujang Selamat.
Dari Aceh ke Bukittinggi: Pendidikan Sang Bangsawan Pejuang
Lahir di Nisam, Aceh, pada 1891, Teuku Bujang adalah putra bangsawan yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan kolonial: HIS, MULO, hingga HIK (Hollandsche Indische Kweekschool) Bukittinggi. Pendidikan ini mengantarkannya menjadi Zelfbestuurder (pimpinan pemerintahan sendiri) Negeri Nisam pada 1912–1921.
Namun kedudukan tidak membuatnya tunduk. Ia justru melancarkan perlawanan terhadap penjajah dan mendirikan Persatuan Muslim Bersatu, wadah konsolidasi perjuangan yang membuat Belanda merasa terancam.
Dibuang ke Merauke, Menyalakan Cahaya Baru
Aktivitasnya membuat pemerintah kolonial gerah. Ia ditangkap, dipenjara, lalu pada 1922 dibuang ke Merauke—wilayah yang saat itu dianggap “pengasingan paling ujung” di Hindia Belanda.
Namun tanah pembuangan justru menjadi ladang dakwah.
Di Merauke, Teuku Bujang Selamat:
- Mendirikan madrasah pertama,
- Membangun masjid,
- Menyelenggarakan salat Id pertama (1926),
- Menggerakkan pemuda dengan kegiatan bercorak Muhammadiyah.
Ketua PWM Papua Barat, Mulyadi Djaya, menyebut bahwa benih awal gerakan Muhammadiyah di Merauke telah tumbuh sejak aktivitas Teuku Bujang pada 1926.
Dari Merauke ke Boven Digul: Keteguhan yang Tetap Menyala
Perlawanan dan dakwahnya membuat Belanda memindahkannya lagi pada 1935 ke Boven Digul, kamp pengasingan yang terkenal angker—dikelilingi sungai penuh buaya dan hutan lebat. Bersama istri keduanya, Cut Djawijah, dan anak-anak mereka, ia tetap mengajarkan agama dan menanamkan semangat kemerdekaan.
Dari tempat keras itu, lahir anak-anak yang kelak menjadi pendidik dan penggerak masyarakat di berbagai daerah.
Ketika Jepang datang pada 1942, para tahanan politik—termasuk Teuku Bujang—dipindah ke Mackay, Australia, dan baru dipulangkan setelah Indonesia merdeka.
Kembali ke Aceh dan Membangun Pendidikan
Setelah melalui perjalanan panjang, ia kembali ke Indonesia pada 1946 dan tiba di Aceh pada 1950 atas bantuan Gubernur Daud Beureueh. Di tanah kelahirannya, ia:
- Bergabung dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh),
- Membangun pusat pendidikan,
- Merintis pembangunan ibu kota Kecamatan Nisam (Krueng Geukueh),
- Menghibahkan tanah untuk berdirinya MIN, MTsN, dan PGA.
Warisan pendidikan dan dakwahnya terus hidup hingga kini.
Penutup: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Setiap kali saya melihat siswa-siswa Muhammadiyah berjalan menuju sekolah di Merauke, saya merasa seolah melihat bayangan semangat Teuku Bujang Selamat yang hidup kembali. Pengasingan yang dimaksudkan untuk mematahkan perjuangannya justru menjadi jalan bagi tersebarnya cahaya Islam dan Muhammadiyah di tanah Papua.
Jejaknya adalah pengingat bahwa dakwah tidak selalu lahir dari tempat yang nyaman. Kadang ia tumbuh dari keterbuangan, kesunyian, dan keteguhan seorang manusia yang percaya bahwa cahaya kebenaran harus terus menyala—sejauh apa pun tempatnya.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments