Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Sunyi di Musholla Nyi Dahlan Ponorogo

Iklan Landscape Smamda
Jejak Sunyi di Musholla Nyi Dahlan Ponorogo
(ki-ka) Suli Da'im, Agus Wahyudi, dan Sarto di Musholla Nyi Dahlan. Foto:Dok/Pri
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO
pwmu.co -

Beberapa hari lalu, saya kembali menapakkan kaki di Ponorogo, sebuah daerah yang sudah tak asing bagi saya. Setiap kunjungan ke kota ini selalu menyimpan cerita baru, pertemuan dengan wajah-wajah baru, dan percakapan hangat dengan mereka yang mencintai sejarah dan dakwah.

Namun kali ini, ada niat khusus yang saya tanam sejak berangkat: mengunjungi Musholla Nyi Dahlan — tempat yang menyimpan jejak pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Dahulu, tempat ini dikenal dengan sebutan Langgar Wetan Pasar.

Saya tak sendiri. Bersama Dr. Suli Da’im, anggota DPRD Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PWM Jatim, serta Sarto, seorang pegiat sejarah Muhammadiyah, kami menelusuri jalan-jalan kota Ponorogo di pagi yang teduh.

Sekitar pukul sembilan pagi kami tiba di Jalan KH Ahmad Dahlan No. 31A, Ponorogo. Dari jalan raya, kami harus berjalan kaki sekitar dua puluh meter melewati gang kecil untuk sampai di musholla itu. Tak sulit menemukannya, meski letaknya tersembunyi.

Bangunannya sederhana tapi kokoh. Luasnya sekitar 6 x 15 meter persegi. Musholla ini dibangun pada tahun 1960. Beberapa bagian bangunan masih asli: keramik, tembok, pintu, dan jendela tetap dipertahankan seperti sedia kala, sementara kanopinya sudah berganti baru.

Saat kami melangkah masuk, suasana hening langsung menyelimuti. Musholla Nyi Dahlan terasa seperti ruang waktu yang membekukan sejarah. Di dalamnya, posisi jamaah laki-laki dan perempuan sejajar, hanya dipisahkan oleh sekat kayu sederhana, sebuah penataan yang jarang ditemui di masa kini.

Di salah satu sisi, tampak deretan Al-Qur’an dan beberapa buku agama tersusun rapi. Dindingnya dihiasi tulisan Arab berbingkai.

Di sebelah musholla, terdapat sebuah rumah tua milik Ali Diwiryo (almarhum), salah seorang penggerak dan pengurus Muhammadiyah Ponorogo pada masa itu. Rumah berukuran 12 x 5 meter persegi itu kini kosong. Di dalanya masih menyisakan ukiran kayu jati yang indah di beberapa bagian. Konon, rumah ini dulu sering menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh Muhammadiyah ketika mengatur strategi dakwah di Ponorogo.

Menatap rumah itu, terasa betapa dalam perjuangan para pendahulu. Mereka bukan hanya membangun organisasi, tapi juga membangun jiwa dan peradaban melalui musholla-musholla kecil seperti ini.

***

Jejak Sunyi di Musholla Nyi Dahlan Ponorogo
Langgar Wetan Pasar atau yang sekarang dikenal dengan Musholla Nyai Ahmad Dahlan berada di timur Pasar Legi, jl. Ahmad Dahlan Ponorogo. Foto: IG Babadponorogo

Dari musholla kecil di Jalan KH Ahmad Dahlan itu, sejarah panjang Muhammadiyah Ponorogo sejatinya bermula. Tempat yang tampak sederhana itu menjadi saksi bagaimana api dakwah terus menyala sejak masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Sejarah mencatat, Muhammadiyah Ponorogo tumbuh di tengah masa sulit — saat bangsa Indonesia masih dalam cengkeraman penjajahan Belanda, disusul masa kelam pendudukan Jepang, hingga akhirnya menyambut cahaya kemerdekaan. Namun justru di masa-masa itulah, semangat pembaruan Islam yang dibawa KH Ahmad Dahlan menemukan ruang hidupnya di bumi Reog.

Dalam buku Sang Surya di Jawa Dwipa: Jejak Kiai Dahlan di Jawa Timur (2024) karya Azrohal Hasan, Teguh Imami, Wildan Nanda Rahmatullah, dan Ni’matul Faizah, dijelaskan bahwa penjajahan Belanda bukan hanya menindas secara materiil, tetapi juga ideologis.

Kolonialisme datang membawa misi penyebaran agama Kristen ke Nusantara. Namun bagi kader-kader Muhammadiyah di Ponorogo, hal itu tak menjadi penghalang dakwah. Mereka menjawab tantangan itu bukan dengan perlawanan fisik semata, melainkan dengan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.

Nama Ali Diwirjo tercatat sebagai pelopor utama gerakan Muhammadiyah di Ponorogo. Sosok ini bukan sekadar penggerak organisasi, melainkan pemimpin spiritual yang berwibawa dan sederhana. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah yang semula berstatus grup kecil dengan tujuh pengurus dan dua puluh dua anggota, pada tahun 1927 naik menjadi Cabang Muhammadiyah Ponorogo.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sejak berdiri pada 22 Februari 1922, Muhammadiyah Ponorogo telah menampakkan wajahnya sebagai gerakan sosial-keagamaan yang dinamis. Di masa awal kepemimpinan Ali Diwirjo, muncul berbagai bagian atau majelis yang kini dikenal sebagai amal usaha: bagian pendidikan, bagian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), bagian tabligh, dan bagian Aisyiyah. Dari sinilah, bibit lembaga pendidikan dan pelayanan sosial Muhammadiyah di Ponorogo mulai tumbuh.

Ketekunan Ali Diwirjo menular ke banyak kalangan. Desa Ngunut, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kegiatan Muhammadiyah, menjadi salah satu titik awal penyebaran ide-ide pembaruan. Tak hanya di Ngunut, gema dakwah itu juga mulai terdengar di Sumoroto, Plalangan, Jetis, dan daerah-daerah lain. Dukungan masyarakat semakin besar, meskipun tak sedikit pula pihak yang menentang.

Tahun 1930 menjadi momen penting bagi Muhammadiyah Ponorogo. Seorang mubalig muda datang dari Yogyakarta — Ridwan Hadjir, murid langsung KH Ahmad Dahlan. Lahir di Ponorogo, Ridwan muda pernah menempuh pendidikan di HISbul Arqo, sekolah bentukan Kiai Dahlan. Ia kemudian diutus ke Kalimantan dan Aceh untuk berdakwah, sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya.

Kedatangannya disambut hangat oleh warga Muhammadiyah Ponorogo. Mereka lalu mengukuhkannya sebagai Ketua Muhammadiyah Ponorogo (1930–1936). Duet Ridwan Hadjir dan Ali Diwirjo menjadi paduan yang unik: Ridwan membawa semangat intelektual dan keilmuan dari Yogyakarta, sementara Ali membawa keteguhan lokal dan jaringan sosial yang kuat di Ponorogo. Kombinasi keduanya membuat Muhammadiyah Ponorogo semakin berkembang pesat.

Dalam periode ini, beberapa ranting baru mulai berdiri: Jetis (1930), Ngunut (1933), Ronowijayan, Plalangan (1939), Jenangan, dan Sumoroto. Lahir pula berbagai organisasi otonom (ortom) seperti Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, serta Hizbul Wathan — yang menjadi kawah candradimuka kader-kader muda Muhammadiyah Ponorogo.

***

Jejak Sunyi di Musholla Nyi Dahlan Ponorogo
Di rumah Ali Diwirjo yang eksotik. Foto: Dok/Pri

Di masa itu, semangat kaderisasi tak hanya berkutat pada pengajian. Hizbul Wathan (HW) menjadi wadah efektif untuk melatih fisik, disiplin, dan jiwa kepemimpinan. Dari sinilah muncul kader-kader muda tangguh. Salah satunya adalah Blengur, pemuda HW yang dikenal berprestasi di bidang olahraga. Ia pernah dikirim ke Yogyakarta mewakili Ponorogo dalam perlombaan olahraga se-Indonesia, dan meski tanpa sepatu, kontingen Ponorogo keluar sebagai juara.

Kisah ini bukan sekadar anekdot; ia menggambarkan etos juang khas Muhammadiyah: berjuang tanpa pamrih, bermodal iman dan tekad.

Kepemimpinan Ridwan Hadjir berakhir pada tahun 1936, dan tampuk pimpinan kembali dipegang oleh Ali Diwirjo untuk periode kedua. Masa ini bertepatan dengan ketegangan menjelang Perang Dunia II dan geliat perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Sejumlah pemuda Muhammadiyah Ponorogo bahkan ikut tergabung dalam barisan tentara Soekowati dan Hisbulloh yang sempat bertempur hingga ke Surabaya.

Meskipun banyak tantangan, dakwah Muhammadiyah tak berhenti. Justru di tengah tekanan Belanda dan Jepang, organisasi ini tetap tumbuh. Di Plalangan, misalnya, seorang pemuda bernama Moniran bersama Muhammad Sholeh mendirikan kelompok dakwah bernama Corp Penyiar Islam Plalangan (CPIP) pada tahun 1938. Setahun kemudian, CPIP berubah menjadi Ranting Muhammadiyah Plalangan.

Pada tahun yang sama pula, berdirilah Masjid Darul Hikmah, di atas tanah wakaf R.M. Mintardjo, seorang pejabat pemerintah yang juga simpatisan Muhammadiyah. Masjid ini menjadi sentral kegiatan dakwah dan pendidikan — simbol nyata bagaimana semangat Islam berkemajuan berakar di tanah Reog.

Kini, ketika saya kembali berdiri di depan Musholla Nyi Dahlan, segala catatan sejarah itu seperti hidup kembali. Dari ruang kecil itu, lahir tokoh-tokoh besar yang membangun jaringan dakwah, pendidikan, dan sosial di Ponorogo. Mereka tak hanya menegakkan salat, tetapi juga menegakkan peradaban.

Musholla itu mungkin tak sebesar masjid modern, tapi dari sinilah Muhammadiyah Ponorogo menapaki jalan panjangnya. Ya, dari sebuah gang sempit menuju cakrawala luas pengabdian bagi umat dan bangsa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu