Di banyak mimbar pengajian Kota Bogor, nama Drs. Madropi, M.Pd., dikenal dengan cara yang khas. Ia bukan tipe mubaligh yang menggelegar dengan retorika emosional atau narasi konfrontatif. Tutur katanya tenang, sistematis, dan menyejukkan. Setiap kalimat yang ia sampaikan seolah mengajak jamaah berpikir, bukan terseret emosi.
Dalil-dalilnya selalu disampaikan dengan rapi, berpijak pada Al-Qur’an, Hadits, pendapat para ulama, serta Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Tidak ada kata yang melompat tanpa dasar. Tidak ada vonis tanpa argumentasi. Dari situlah wibawanya tumbuh: bukan dari suara tinggi, melainkan dari kedalaman ilmu dan ketulusan sikap.
Begitulah Madropi, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bogor periode 2015-2020, membangun kepemimpinannya. Kepemimpinan itu lahir dari proses panjang yang dijalani dengan ketekunan, kesunyian, dan kesabaran.
Sedikit yang mengetahui bahwa perjalanan panjang Madropi dalam dunia dakwah dan persyarikatan tidak dimulai dari podium terhormat. Ia justru berangkat dari ruang paling sederhana: menjadi marbot Masjid Al Furqon, di Jalan Merdeka, Kota Bogor.
Di masa mudanya, hidup Madropi jauh dari kata nyaman. Tanpa fasilitas berlebih, ia memasak sendiri demi bertahan menjalani hari. Setiap langkah hidupnya diikat oleh waktu salat, kebersihan masjid, dan tanggung jawab melayani jamaah—sebuah pengabdian sunyi yang membentuk keteguhan hatinya.
Namun justru di ruang sunyi itulah karakter Madropi ditempa. Masjid menjadi sekolah kehidupan. Dari sana ia belajar disiplin, keikhlasan, dan kesabaran—nilai-nilai yang kelak membentuk watak kepemimpinannya.
Masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan ruang kontemplasi dan pengabdian. Di sela-sela tugasnya sebagai marbot, Madropi menempuh pendidikan di Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Kota Bogor. Untuk mencapai kampus, ia harus berjalan kaki. Tidak jarang jarak ditempuh dengan tubuh lelah, namun tekadnya tak pernah surut.
Langkah-langkah itu bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah langkah ideologis dan intelektual, menuju masa depan yang dibangun dengan kesungguhan dan kesabaran.
Madropi bukan kader instan. Ia tumbuh dari bawah, melalui proses pengkaderan Muhammadiyah yang berlapis. Ia memahami denyut nadi persyarikatan bukan dari teori semata, tetapi dari pengalaman hidup.
Setelah meraih gelar sarjana, Madropi melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Pendidikan formal berjalan beriringan dengan pendalaman ideologi dan spiritualitas. Dari proses itulah terbentuk karakter dakwahnya: moderat, argumentatif, beradab, dan mencerahkan.
Ia tidak mudah menyalahkan. Tidak tergesa menyesatkan. Bagi Madropi, dakwah bukan arena pertarungan ego, melainkan ruang pencerahan umat.
Menariknya, meskipun dikenal sebagai kader Muhammadiyah tulen, Madropi diterima dengan baik di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) di tempat tinggalnya. Ia kerap diundang mengisi ceramah di berbagai forum warga NU.
Tidak ada sekat ideologis yang ia pertajam. Justru jembatan ukhuwah yang ia bangun. Bagi Madropi, perbedaan organisasi bukan alasan untuk berjarak. Dakwah adalah menyapa, bukan memisahkan. Sikap inilah yang membuatnya dihormati lintas ormas dan latar belakang.
Jejak pengabdian Madropi tidak berhenti di Muhammadiyah. Ia juga mencatatkan kiprah panjang di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, selama lima periode berturut-turut.
Perjalanannya di MUI dimulai dari anggota Komisi Dakwah, kemudian terus berproses hingga dipercaya menjabat Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Kota Bogor.
Di MUI, Madropi dikenal sebagai sosok peneduh. Ia aktif merawat harmoni antar-ulama, antar-ormas, dan antar-elemen umat. Dalam forum-forum strategis, ia selalu mendorong pendekatan dialog, argumentasi ilmiah, dan solusi keumatan yang berimbang.
Baginya, MUI bukan alat legitimasi konflik, melainkan rumah besar persatuan umat. Pengalaman panjang di MUI inilah yang semakin mengasah kepekaan Madropi dalam membaca dinamika sosial-keagamaan di Kota Bogor dan memperkaya perspektif kepemimpinannya di Muhammadiyah.
Saat dipercaya memimpin PDM Kota Bogor periode 2015-2020, Madropi membawa gaya kepemimpinan yang konsisten dengan perjalanan hidupnya: tenang, argumentatif, dan inklusif.
Ia tidak memimpin dengan tangan besi. Ia memimpin dengan keteladanan. Setiap keputusan organisasi dibangun melalui musyawarah, pertimbangan keilmuan, dan etika dakwah.
Dalam ceramah maupun pernyataan publik, Madropi selalu berhati-hati. Ia menolak gaya dakwah yang menyudutkan, memecah, atau menghakimi pihak lain. Baginya, dakwah Muhammadiyah adalah dakwah pencerahan, mengajak, bukan mengejek, membimbing, bukan mencaci.
Jejak Madropi mungkin tidak selalu muncul di headline besar. Namanya tidak identik dengan kontroversi. Namun warisannya hidup dalam cara berpikir kader, dalam adab berdakwah, dan dalam hubungan harmonis lintas ormas Islam di Kota Bogor.
Ia adalah contoh bahwa kepemimpinan besar sering lahir dari lorong-lorong sunyi: dari masjid, dapur sederhana, dan langkah kaki yang tak pernah lelah menuju ilmu.
Dari marbot masjid hingga Ketua PDM, dari Komisi Dakwah hingga Wakil Ketua Umum MUI, perjalanan Drs. Madropi adalah kisah tentang ketekunan, keikhlasan, dan kesetiaan pada proses.
Dalam dirinya, Muhammadiyah dan umat Islam Kota Bogor menemukan cermin kader ideal: berilmu, berakhlak, dan membumi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments