Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, punya 2 kaki dalam berdakwah bil qalam, berdakwah dengan tulisan. Satunya online, satu lainnya offline. Di online ada portal PWMU.CO yang dilaunching pada 18 Maret 2016.
Namun, 1 dekade sebelumnya, PWM Jatim juga melahirkan Majalah Matan. Majalah bulanan yang tetap eksis hingga hari ini, sejak pertama kali diterbitkan pada Agustus 2006. Saat itu, PWM Jatim diketuai oleh Prof Syafiq A. Mughni. 4 bulan mendatang, ia akan genap berusia 20 tahun. Dua dekade.
“Oya, sudah 20 tahun ya,” kata Syafiq A. Mughni sedikit terkejut saat diingatkan peserta Rapat Milad 1 Dekade PWMU.CO. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak 2010 ini berkunjung ke ruang redaksi PWMU.CO yang berada di Kantor PWM Jatim, Jl Kertomenanggal IV/1, Surabaya, Jumat (10/4/2026).
Kunjungan itu berlangsung secara spontan. Dilakukan usai rapat bersama jajaran PWM Jawa Timur. Para awak redaksi yang tengah berdiskusi seketika berdiri menyambut kedatangannya. Salah satu bahasannya adalah tentang kelahiran berbagai majalah di PWM Jatim. Termasuk Majalah MATAN.
“Saat itu nama majalah yang disepakati harus dua suku kata,” jelas Syafiq tentang asal-usul Matan untuk nama majalah bulanan PWM Jatim itu. Penamaan dua suku kata itu dikarenakan lebih mudah diingat, dan tentu saja lebih efisien.
Maka lahirlah nama Matan yang diusulkan Ketua PWM dalam rapat Redaksi Majalah Matan pertama kalinua. Matan sendiri, selain punya makna “isi”.
“Matan juga punya kaitan erat dengan Muhammadiyah. Yaitu Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, yang kerap disingkat dengan MKCH,” tambah Syafiq. MKCH sendiri adalah konsep yang diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah 1968, saat putra Gresik Jatim, KH Faqih Usman, terpilih sebagai Ketua Umum.
Selama 20 tahun, Redaksi Majalah Matan telah dipimpin oleh tiga orang. Yang pertama adalah A. Fatichuddin, tercatat sebagai Pemimpin Redaksi sejak Matan didirikan hingga tahun 2011. Kemudian Muh Kholid AS sampai tahun 2018, dan dilanjutkan oleh Ainur Rofiq Sophiaan hingga kini.
Muhammadiyah Jatim sendiri punya pengalaman menerbitkan majalah lebih dari 3 suku kata. Taboid Matahari misalnya, pernah terbit di awal periode kepemimpinan Prof Fasich. “Terbit 7 kali,” begitu kata Agus Wahyudi dan Suli Daim, dua sosok yang ikut menggawangi Tabloid Matahari.





0 Tanggapan
Empty Comments