Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jelang Libur Idul Fitri, MA Al-Ishlah Lamongan Gelar Ujian di Tengah Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Jelang Libur Idul Fitri, MA Al-Ishlah Lamongan Gelar Ujian di Tengah Ramadan
Santri MA Al-Ishlah Lamongan saat mengikuti kegiatan ujian di ruang kelas, Ahad Februari 2026. (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Menjelang liburan Idul Fitri 1447 H, Madrasah Aliyah (MA) Al-Ishlah Sendangagung Paciran, Lamongan menggelar rangkaian ujian pada pertengahan bulan Ramadan, tepatnya 28 Februari–8 Maret 2026. Pelaksanaan imtihan tersebut mengacu pada Maklumat Pondok Pesantren Al-Ishlah Nomor: 002/A/06/T1/I/2026.

Waka Kurikulum MA sekaligus Kepala Staf Pengasuhan Santri Al-Ishlah, Ustadz Faried Asshidiqie, S.Pd.I, menyampaikan bahwa keputusan penyelenggaraan imtihan dan liburan ditetapkan melalui rapat koordinasi antara Pengasuh Pondok, Pengurus Yayasan, dan Dewan Pengurus Pondok Pesantren Al-Ishlah (DPPI) pada Sabtu, 11 Januari 2026.

“Sebelum liburan Idul Fitri, MA Al-Ishlah mengadakan Penilaian Tengah Semester Genap untuk kelas X dan XI, serta ujian materi kepondokan bagi kelas XII,” jelas Faried saat ditemui PWMU.CO di kantor MA Al-Ishlah, Ahad (29/2/2026).

Aturan Libur dan Kepulangan Santri

Faried menegaskan bahwa Pondok Pesantren Al-Ishlah telah menetapkan jadwal resmi liburan Ramadan dan Idul Fitri: Senin, 9 Maret 2026: Libur untuk kelas VII, VIII, IX, X, XI, XII serta seluruh guru (asatidz dan ustadzat).

Adapun jadwal kembali ke pondok:

  1. Ahad, 29 Maret 2026: Kelas XI dan para guru.
  2. Senin, 30 Maret 2026: Kelas VII, VIII, IX, X, dan XII.

Cerita Santri yang Tidak Bisa Mudik

Di balik suasana gembira menjelang liburan, ada kisah haru dari sebagian santri yang tidak dapat pulang ke kampung halaman. Salah satunya adalah Ayu Dyah Zalfa Maharani, santri kelas XII-F asal Otomona, Mimika, Papua Tengah.

Ayu mengaku senang karena masa ujian hampir selesai, namun ia tidak bisa berlibur dan berlebaran bersama orang tuanya di Timika.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Liburan tahun ini saya tidak bisa pulang. Saya harus berhemat demi biaya kuliah,” ujar putri pasangan Markum dan Siswani yang masih memiliki garis keturunan Lamongan tersebut.

Ayu menambahkan bahwa biaya pesawat menuju Timika sangat tinggi. “Tiket pulang-pergi bisa sampai tujuh juta rupiah, apalagi kalau musim lebaran. Mending ditabung untuk kuliah nanti,” ungkapnya.

Ia berencana melanjutkan studi ke Unesa Surabaya.

Staf Pengasuhan Santri Al-Ishlah, Habib Chirzin SP, menuturkan bahwa kondisi serupa juga dialami beberapa santri dari daerah jauh lainnya.

“Ada yang dari Ambon, Kupang, Flores. Mereka terpaksa tetap di pondok saat lebaran karena ongkos pulang sangat mahal,” ujarnya.

Fenomena ini menjadi potret lain perjuangan santri perantau yang tetap menjalankan pendidikan di tengah keterbatasan biaya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu