Perjalanan Muhammadiyah dari Milad ke-109 (2021) hingga Milad ke-113 (2025) adalah kisah dinamis tentang adaptasi, ambisi, dan tanggung jawab yang terus meluas. Dari respons darurat kesehatan pada Milad ke-109 bertema “Optimis Menghadapi Pandemi Covid-19” hingga penegasan komitmen struktural pada Milad ke-113 bertema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Rentetan tema besar ini menunjukkan upaya sistematis Gerakan Islam Berkemajuan untuk tetap relevan di tingkat nasional dan global.
Namun di balik narasi besar itu, muncul pertanyaan penting: apakah visi yang agung ini telah diterjemahkan menjadi perubahan sosial yang merata, atau justru berhenti pada jargon dan seremonial belaka?
Kekhawatiran bahwa tema Milad sekadar menjadi retorika bukan tanpa alasan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, pernah mengingatkan agar para pengemban amanat tidak “tenggelam dalam lautan aktivitas rutin, seremonial, dan formalitas semata.”
Peringatan ini menegaskan ancaman nyata: idealitas gerakan yang berakar pada Teologi Al-Ma’un—yang menekankan pembelaan terhadap kaum lemah—dapat terdistorsi oleh tantangan modernitas.
Secara ekonomi, Muhammadiyah kini memiliki Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) sebagai pilar ketiga misi dakwahnya. Bahkan, langkah ekspansi menuju sektor kapitalistik seperti pertambangan dan industri farmasi tengah dirancang.
Meski strategi ini menjanjikan kemandirian finansial berkelanjutan (sustainable competitive advantage), muncul persoalan ideologis: bagaimana memastikan ekspansi ke sektor yang berpotensi merusak lingkungan (SDG 15) tetap selaras dengan tema Milad ke-111 “Ikhtiar Menyelamatkan Semesta” dan visi “Kemakmuran untuk Semua” (Milad ke-112)?
Jika fondasi ekonomi Muhammadiyah bergeser dari kedermawanan menjadi sekadar keuntungan, maka kesejahteraan yang diusung dalam Milad ke-113 berisiko menjadi jargon elitis.
Meski menghadapi tantangan struktural, Muhammadiyah memiliki daya lenting melalui keseimbangan antara aksi konkret dan simbolisme filosofis:
1. Respons Krisis yang Teruji
Tema Milad ke-109 bukan slogan kosong. Komitmen Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi COVID-19 terbukti melalui jaringan amal usaha—terutama rumah sakit dan universitas—yang menjadi garda depan penanganan krisis. Presiden Joko Widodo bahkan memberikan apresiasi khusus atas kontribusi ini.
2. Inklusivitas Budaya dan Keberlanjutan
Tema Milad ke-112 “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua” diwujudkan secara filosofis lewat simbol budaya Nusantara:
- Sasando (alat musik tradisional Rote) membentuk angka 112, melambangkan harmoni sosial dan kolaborasi.
- Bunga Sepe (Flamboyan) menjadi simbol ketangguhan dan keberlanjutan (sustainability).
- Integrasi simbol-simbol lokal ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memadukan kearifan budaya Indonesia dengan semangat kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan.
Fondasi Ideologis dan Kaderisasi
Kekuatan utama Muhammadiyah tetap bertumpu pada ideologi Islam Wasathiyah (moderat), dengan kerangka maqāṣid sharī‘ah yang menekankan kemaslahatan publik, perlindungan hak asasi manusia, dan kesetaraan.
Pendekatan ini menjadi penangkal efektif terhadap formalisme dan radikalisme yang mengancam kemajuan Islam di Indonesia.
Dalam konteks Milad ke-113, keseimbangan itu diwujudkan melalui dua langkah penting:
1. Penguatan Karakter dan Kaderisasi
Organisasi kader seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menanamkan pendidikan karakter berbasis nilai dakwah dan keilmuan. Gerakan ini menyiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi tantangan moral dan demografis.
2. Kesejahteraan yang Menyeluruh
Visi kesejahteraan Muhammadiyah mencakup aspek lahir dan batin—antara kemakmuran ekonomi dan ketenangan spiritual. Amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan menjadi bukti nyata implementasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang berdampak luas bagi masyarakat.
3. Milad ke-113: Ujian Keseimbangan Akhir
Milad ke-113 menjadi momentum ujian keseimbangan bagi Muhammadiyah: antara nalar modern yang rasional (ekspansi BUMM) dan nurani spiritual yang berakar pada Al-Ma’un.
Organisasi ini ditantang untuk membuktikan bahwa kemajuan ekonomi dan profesionalisme dapat berjalan seiring dengan solidaritas sosial dan kepedulian terhadap umat di akar rumput.
Hanya dengan keseimbangan itulah visi “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” akan benar-benar hidup—bukan sekadar tema tahunan, melainkan peta jalan aksi yang menjembatani idealisme kosmopolitan dengan realitas struktural umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments