Masjid Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menyelenggarakan kajian Subuh bertema “Strategi Menjadi Juara di Bulan Mulia” dalam rangka menyambut datangnya Bulan Ramadan. Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo Surabaya, Najib Sulhan, sebagai pemateri.
Kajian yang digelar pada Sabtu (7/2/2026) itu diikuti oleh lebih dari 100 jemaah. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara sejak salat Subuh berjamaah hingga sesi penyampaian materi dan diskusi.
Dalam kajiannya, Najib Sulhan mengawali dengan membaca Surat Al-Hasyr ayat 18. Menurutnya, ayat tersebut sangat indah karena diawali dengan kata takwa dan diakhiri dengan kata takwa. Di tengah ayat itu terdapat ajakan agar orang-orang yang beriman dan bertakwa senantiasa membuat perencanaan, sebab setelah kehidupan fana terdapat kehidupan yang abadi.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183-187, ia juga menjelaskan tentang syariat berpuasa. Menurutnya, umat Islam seharusnya menyusun kurikulum dalam menyambut Ramadan serta menyampaikan “proposal” berupa rencana ibadah tersebut kepada Allah.
“Pada ayat 183 dan 184 sesungguhnya lebih ditekankan tujuan berpuasa, yaitu membangun ketakwaan personal dan ketakwaan sosial. Ketakwaan personal lebih pada pendekatan batin dalam beribadah kepada Allah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, seperti berpuasa, mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain dengan niat semata-mata karena Allah,” jelasnya.
Sementara itu, lanjutnya, ketakwaan sosial lebih menekankan pada sikap simpati dan empati. Ibadah yang diperintahkan hendaknya berdampak pada hubungan sosial sehingga mampu meringankan beban sesama. Hal ini dapat diwujudkan melalui gerakan zakat, sedekah, infak, santunan anak yatim, berbagi takjil, dan sebagainya.
“Pada ayat 185, puasa mampu membangun kesadaran untuk senantiasa bersyukur. Dengan bertemu Bulan Ramadan, kesempatan tersebut hendaknya diisi dengan berbagai agenda kebaikan. Tanpa rasa syukur, akan terasa berat dalam menjalankan ibadah. Bahkan, sejatinya rasa syukur itulah yang patut untuk terus disyukuri,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa setelah kurikulum disusun dengan berbagai langkah agar tujuan tercapai, rencana tersebut menjadi sebuah proposal. Selanjutnya, proposal itu diajukan kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam pelaksanaannya.
“Sesungguhnya, setiap rencana yang kita susun perlu “dilangitkan” melalui doa. Tanpa hal itu, seolah-olah kita mengabaikan peran Allah dalam kehidupan ini,” ucapnya.
Dalam kajian tersebut, Najib Sulhan meyakinkan jemaah salat Subuh agar melangitkan setiap rencana yang telah disusun dalam proposal Ramadan serta memohon kepada Allah agar dikabulkan.
“Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah, apa yang telah direncanakan dalam proposal Ramadan ini, langitkanlah dan mintalah kepada Allah agar dikabulkan. Sesungguhnya Allah berjanji bahwa doa kita pasti dikabulkan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments