Seorang yang pergi berjamaah mengawali waktu yang telah ditentukan akhirnya menjadi kebiasaan. Ia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri untuk membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain.
Seorang pedagang kaki lima yang rajin melaksanakan ibadah dengan senang hati memberikan uangnya yang jumlahnya hanya seribu rupiah tanpa berkata kurang baik, akan merasa bersyukur dapat memberi orang lain.
Dua contoh di atas merupakan perbuatan yang sangat terpuji dan diperintahkan agama Islam.
“Dan tidaklah diperintahkan mereka kecuali beribadah secara ikhlas karena-Nya, menegakkan salat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus” (Al-Bayyinah: 5).
Beribadah secara ikhlas berarti murni semata-mata karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala, bukan karena yang lain. Menurut Tafsir Al-Muyassar, ayat Al-Bayyinah: 5 ditafsirkan sebagai berikut:
“Mereka tidak diperintahkan dalam seluruh syariat Allah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah semata, mengarahkan ibadah mereka hanya kepada wajah-Nya, menjauhi syirik dengan condong kepada iman, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama istiqamah, yaitu agama Islam.”
Pengaruh Keikhlasan dalam Hidup
Berbuat ikhlas memiliki pengaruh yang luar biasa. Hal itu dapat membuat diri kita tenang, merasa gembira dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan, serta berdampak positif.
Orang yang ikhlas memiliki sifat lapang dada dan mudah memaafkan orang lain. Ia berani menghadapi risiko yang dapat membuat dirinya diusir atau dipenjara karena mempertahankan kebenaran.
Ia juga tidak mudah marah, karena segala sesuatunya dihadapi dengan keluasan berpikir. Orang yang ikhlas memiliki peluang menjadi hamba yang bersyukur.
Orang yang ikhlas tidak mengharapkan pujian maupun popularitas. Bahkan, ia menjadi orang yang merdeka yang selalu berbuat sesuai dengan perintah Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Orang yang ikhlas tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ia tidak mudah diganggu dan digoda setan serta dapat mengekang hawa nafsu. Bagaimana bila keikhlasan itu hilang dari diri? Ada beberapa akibat dari lepasnya keikhlasan.
Pertama, amal ibadah yang dilakukan tidak diterima Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Kedua, perbuatan yang dilakukan akan diukur dengan keuntungan dunia dan untuk mendapatkan pujian.
Ketiga, mudah mengikuti ajakan hawa nafsu dan setan yang membawa pada jalan kesesatan. Keempat, mudah melakukan penyelewengan dan menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan aturan agama.
Keikhlasan perlu dimiliki setiap muslim agar dalam kehidupan dapat menggapai kebahagiaan, ketenangan hidup, serta rida Allah Subhaanahu wa Ta’ala.






0 Tanggapan
Empty Comments