Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jika Sudah Selesai, Pulang!

Iklan Landscape Smamda
Jika Sudah Selesai, Pulang!
pwmu.co -
Oleh Abdul Hafid – Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

PWMU.CO – Teringat saat masih di masa sekolah dulu, setiap menjelang ujian, saya dan teman-teman selalu mempersiapkan diri dengan serius belajar. Kami semua mulai mengulang materi pelajaran yang sudah disampaikan oleh bapak dan atau ibu guru. Saat sudah waktu ujian, kami pun fokus untuk mengerjakan soal yang telah dibagikan.

Sambil membagikan soal, guru pengawas juga mengingatkan akan terbatasnya waktu untuk mengerjakan soal. Ada perkataan guru pengawas yang sepintas terdengar biasa-biasa saja, namun sesungguhnya sangat dalam maknanya. Apa pernyataan itu? Yaitu: “yang sudah selesai boleh pulang/keluar” dan atau “selesai tidak selesai, dikumpulkan“.

Pernyataan yang sarat makna itu, jika dikaitkan dengan kehidupan. Maka sesungguhnya jika sudah selesai pada urusan dunia, maka pasti akan kembali kepada Sang Maha Pencipta sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Secara substansial, sejatinya kedua perkataan ini juga mengandung makna “tugas, hasil dan waktu kehidupan”.

Tugas manusia

Sebagai pribadi yang beriman, tentu kita tidak boleh melupakan tugas dan kewajiban beribadah kepada Allah. Bukankah sesuai dengan firman Allah, kita wajib untuk beribadah?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengandung makna bahwa semua makhluk Allah — termasuk jin dan manusia — harus mengabdikan diri kepada Allah dengan jalan taat untuk beribadah kepadaNya. Mengutip dari tafsir Al-Misbah karya Prof Dr Muhammad Quraish Shihab, QS Az-Zariyat ayat 56 menggunakan bentuk pertama “Aku” karena memang penegasannya adalah beribadah kepada Allah Swt. Ibadah dalam makna ayat ini bukan hanya ritual saja, tetapi juga mencakup bidang lain dalam kehidupan. Manusia yang mengabaikan atau bahkan enggan beribadah kepada Allah akan merasakan hidup yang hampa dan tanpa tujuan jelas.

Pahala dan dosa

Ketika sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba, seorang  manusia yang menghiasi perbuatannya dengan amal shaleh dan senantiasa beribadah kepada Allah akan menerima balasan yang berupa pahala. Allah berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Sekecil apapun amal kebaikan manusia akan ada balasan dari Allah, meskipun orang lain menganggap kebaikan itu tidak seberapa atau tidak ada artinya. Tapi dihadapan Allah, amalan tersebut tetap memiliki nilai kebaikan. Sebaliknya, jika manusia itu mengerjakan keburukan sekecil apapun, juga akan mendapatkan balasan pula dari Allah.

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 8)

Dalam Tafsir Al-Misbah jilid 15 dijelaskan bahwa kata ‘zarrah‘ yang digunakan pada ayat ini untuk menggambarkan sesuatu yang terkecil dan atau paling kecil, seperti atom atau debu. Melalui ayat ini Allah menunjukkan keadilanNya pada seluruh manusia. Bahwa orang yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun itu akan menerima ganjaran, dan orang yang mengerjakan keburukan sekecil apapun akan menerima hukuman.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jadikan, ayat ini memotivasi kita agar senantiasa mengerjakan kebaikan meskipun sedikit. Juga sebagai peringatan agar tidak meremehkan keburukan walaupun hanya sedikit.

Batas kehidupan

Angka usia terus bertambah, tapi umur akan terus berkurang. Dan tentunya tidak ada seorang pun yang tahu kapan kematian diri itu tiba. Pastinya, setiap yang bernyawa pada saatnya akan merasakan kematian.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 57)

Kematian merupakan salah satu rahasia yang menjadi milik Allah. Semua perkara ghaib hanya Allah Yang Maha Tahu. Hikmah Allah dari menyembunyikan waktu kematian, agar manusia untuk senantiasa dalam kondisi berjaga dalam menghadapi hari akhirat.

Waktu terus berjalan dan memberi kesempatan kita untuk tetap berbuat baik. Inilah kesempatan kita untuk selalul memohon ampunan kepada Allah sebelum ajal tiba menjemput. Waktu bisa menjadi nikmat besar jika kita menggunakannya dengan baik dan untuk kebaikan. Allah berfirman dalam surat al-Ashr:

وَالْعَصْرِ- إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ- إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran.” (QS Al-’Ashr 1-3).

Dalam QS Al-Ashr, Allah bersumpah atas nama waktu yang menjadi keistimewaan untuk memelihara dan menggunakan waktu itu kecuali untuk kebaikan.

Hidup yang sedang kita jalani adalah ladang untuk memanen kebaikan yang kelak akan kita petik hasilnya di akhirat. Maka dari itu mari kita gunakan kesempatan waktu dan hidup ini dengan sebaik-baiknya sebelum kematian itu tiba. (*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu