Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jurnalis Harus Terus Menulis dengan Nurani

Iklan Landscape Smamda
Jurnalis Harus Terus Menulis dengan Nurani
Fathurrahim Syuhadi. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Fathurrahim Syuhadi, M.M., M.Pd Wakil Ketua PDM Lamongan dan Ketua Kwarwil HW Jawa Timur
pwmu.co -

Dalam sejarah peradaban manusia, pena sering kali lebih berpengaruh daripada pedang. Melalui tulisan, sebuah bangsa bisa bangkit atau jatuh, tergantung siapa yang memegang kendali narasi.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, peran jurnalis menjadi semakin penting dan sekaligus menantang. Jurnalis bukan hanya penyampai berita, tetapi penjaga nurani publik. Karena itu, jurnalis harus terus menulis dengan nurani, agar kebenaran tetap memiliki suara di tengah kebisingan kepentingan.

Kebebasan pers adalah anugerah sekaligus amanah. Di satu sisi, ia memberi ruang bagi jurnalis untuk menyuarakan fakta tanpa takut dibungkam. Di sisi lain, kebebasan itu menuntut tanggung jawab moral yang besar.

Menulis dengan nurani berarti menjadikan kejujuran dan kemanusiaan sebagai kompas utama dalam setiap pemberitaan. Seorang jurnalis sejati tidak akan menjual kebenaran demi sensasi, tidak akan menukar integritas dengan uang, dan tidak akan mengorbankan keadilan demi kekuasaan.

Menulis dengan nurani bukan hanya persoalan etika profesi, tetapi juga panggilan iman. Dalam Islam, Allah Swt berfirman “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahuinya (QS. Al-Baqarah: 42)

Ayat ini menjadi pedoman moral yang sangat relevan bagi dunia jurnalistik. Seorang jurnalis yang menulis dengan nurani akan selalu berpegang pada kebenaran.

Bahkan ketika tekanan datang dari berbagai arah. Ia sadar bahwa tulisannya bukan hanya akan dibaca manusia, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam konteks sosial-politik, jurnalis yang menulis dengan nurani adalah penjaga akal sehat bangsa. Ketika propaganda, fitnah, dan kepalsuan disebarkan secara sistematis, jurnalis dengan nurani hadir sebagai penerang yang menolak tunduk pada arus.

Mereka menulis bukan untuk menyenangkan penguasa, melainkan untuk menyadarkan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, keberanian menulis dengan hati nurani adalah bentuk jihad intelektual yang sangat berharga.

Namun, menjaga nurani di dunia jurnalistik bukan perkara mudah. Tekanan ekonomi media, intervensi pemilik modal, dan tuntutan rating sering kali menggoda jurnalis untuk melupakan nilai-nilai idealisme.

Banyak media yang akhirnya terjebak dalam logika pasar, memproduksi berita sensasional tanpa memperhatikan dampak sosialnya. Di sinilah integritas jurnalis diuji, apakah ia memilih jalan mudah dengan menulis demi klik dan keuntungan, atau tetap teguh menulis demi kebenaran.

Menulis dengan nurani juga berarti memihak kepada kemanusiaan. Ketika terjadi bencana, konflik, atau ketidakadilan, jurnalis harus hadir bukan sekadar sebagai pelapor peristiwa, tetapi sebagai suara bagi mereka yang tertindas.

Nurani seorang jurnalis harus membuatnya peka terhadap penderitaan manusia. Ia tidak boleh menulis berita dengan dingin, seolah-olah tragedi hanyalah angka statistik. Sebaliknya, ia harus menulis dengan empati, menghadirkan sisi kemanusiaan yang sering hilang dalam pemberitaan modern.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sejarah mencatat banyak jurnalis besar yang menulis dengan nurani dan keberanian. Mereka mungkin tidak kaya, tidak populer, bahkan banyak yang harus dipenjara atau dibungkam.

Namun, tulisan mereka menembus batas waktu dan ruang. Di Indonesia, semangat itu pernah diwujudkan oleh tokoh-tokoh seperti Haji Agus Salim dan Rosihan Anwar—jurnalis yang menjadikan pena sebagai alat perjuangan dan dakwah.

Dalam konteks kekinian, menulis dengan nurani juga berarti melawan banjir informasi palsu (hoaks) dan manipulasi digital. Di era media sosial, siapa pun bisa menjadi penyebar berita, tetapi tidak semua mampu menjadi penjaga kebenaran.

Jurnalis yang berpegang pada nurani harus berani memeriksa fakta, menolak manipulasi, dan mendidik masyarakat agar melek informasi.

Menulis dengan nurani juga memerlukan kepekaan spiritual dan kesadaran moral. Setiap kata yang ditulis membawa dampak bisa menenangkan, bisa mengobarkan, atau bahkan menghancurkan.

Maka, seorang jurnalis harus selalu bertanya pada dirinya sendiri sebelum menulis: Apakah berita ini akan membawa manfaat bagi publik? Apakah tulisanku menambah keadilan atau justru memperkeruh keadaan?

Rasulullah Saw bersabda “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa berbicara, termasuk menulis harus selalu dilandasi dengan niat baik dan tanggung jawab.

Menulis dengan nurani bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral bagi setiap jurnalis. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai kejujuran dan kemanusiaan tidak pernah usang.

Selama masih ada jurnalis yang menulis dengan nurani, maka masih ada harapan bahwa kebenaran akan terus hidup, dan bangsa ini tidak akan kehilangan arah.

Karena pada akhirnya, nurani adalah tinta yang tak pernah kering, ia menulis kebenaran, bahkan ketika dunia mencoba menghapusnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu