Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiiyah (PCIM) Pakistan turut serta dalam acara Rakornas Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Syariah Hotel Lorin (24-26/10/2025).
Acara dibuka oleh Rektor UMS dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dengan sebuah kata penyemangat konsolidasi dan penanaman ideologi Muhammadiyah di dalam worldview para kader persyarikatan.
Selain itu, pemateri diisi oleh Wakil Menteri Kemendikbud, Fajar. Fajar menyampaikan apresaisi atas kuatnya pendidikan Pondok Shabran sebagai sekolah Kader. Beliau juga menyarankan dinamisasi syiar Perkaderan Muhammadiyah yang perlu untuk menyesuaikan zaman.
Menurutnya, Muhammadiyah akan menghadapi tantangan proses kaderasi sebab Generasi Z tidak lagi begitu tertarik dengan institusi-institusi keagamaan, dan lebih berorientasi pada dampak lingkungan.
Pada hari kedua, materi dilanjutkan dengan capaian program kerja MPKSDI selama setengah periode dan sidang Komisi yang dibagi menjadi 3 sub tema.
- Ruang Ar Raihan Lt 12: Komisi A (Reformasi Sistem Perkaderan Muhammadiyah SPM))
- Ruang Al Mumtazah Lt 12: Komisi B (Coaching Korps Instruktur Nasional Perkaderan)
- Ruang Al Hasanah Lt 1: Komisi C (Revitalisasi Sekolah Kader)
Delegasi Pakistan mengikuti Komisi C dan membahas apakah definisi sekolah kader hanya perlu disematkan pada sekolah-sekolah tertentu atau juga mencakup seluruh sekolah Muhammadiyah.
Selain itu juga membahas bagaimana kurikulum dan kompetensi capaian sekolah kader yang diperlukan, seperti sekolah kader masjid. Bagaimana MPKSDI membuat peta konsep kebutuhan kader di seluruh wilayah Indonesia sehingga tercapainya tujuan Muhammadiyah.
Malam hari kedua, Abdul Mu’ti memberikan pandangan tentang perhatian kader Muhammadiyah terhadap apa yang akan teradi pada Muhammadiyah di tahun 2050.
Denny JA sempat melakukan riset terkait dengan menurunnya jumlah warga Muhammadiyah yang mengaku Muhammadiyah. Sehingga menuntut MPKSDI untuk membuat pelatihan yang tidak monoton, seperti misalnya mengadakan Darul Arqom di Kapal.
Agung Danarto menutup acara dengan mengajak kader Muhammadiyah membuat sebuah konsep terintegrasi minimarket meski harus mempertimbangkan apakah perlu kita berkolaborasi dengan existing market.
Muhammadiyah perlu juga untuk merekontruksi pandangannya terhadap politik. Terutama membuat cara pandang kader Muhammadiyah melihat politik sebagai Fiqih Siayasi daripada Akidah.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments