Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo Dr Mulyani M.Hu menyampaikan pesan kuat kepada kader-kader muda Muhammadiyah saat pembinaan kader di Balai Diklat Muhammadiyah Japan, Jumat (10/10/2025).
Dalam paparannya, Dr. Mulyani menekankan empat hal penting yang harus dimiliki kader milenial agar mampu bersaing dan memimpin perubahan di era disrupsi ini:
Kemampuan Literasi
“Literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Literasi itu soal memahami teks dan konteks,” ujarnya.
Kader Muhammadiyah harus peka membaca situasi sosial, memahami arah zaman, dan mampu menulis gagasan yang mencerahkan.
Tak kalah penting, literasi keuangan juga harus dikuasai sehingga pemuda itu tidak hanya menjadi konsumen, tapi harus menjadi produsen, pencipta nilai.
Kemampuan Numerasi
Dr. Mulyani menyampaikan bahwa kemampuan numerasi bukan sekadar kemampuan menghitung angka, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir logis, analitis, dan kritis dalam memahami, serta memecahkan masalah yang berkaitan dengan bilangan dan data.
Seseorang yang memiliki kemampuan numerasi mampu menafsirkan informasi kuantitatif, menarik kesimpulan yang masuk akal, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti, serta penalaran matematis.
Dengan demikian, numerasi tidak hanya berbicara tentang hasil hitungan, tetapi tentang bagaimana seseorang menggunakan logika dan pemahaman matematis untuk menghadapi situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter Tangguh
Karakter yang dimaksud bukan sekadar sopan santun dan tutur kata yang halus, tapi juga mental pantang menyerah.
“Kader sejati itu tahan banting. Ia tidak mudah menyerah hanya karena gagal sekali. Ia bangkit, berjuang, dan terus berproses,” tegasnya.
Wawasan Global
Kader Muhammadiyah tidak boleh berpikir lokal sempit. “Kita harus jadi kader berwawasan global, tapi tetap berpijak pada nilai Islam dan Kemuhammadiyahan,” ujarnya.
Dengan wawasan global, kader mampu berdialog dengan dunia, menguasai teknologi, dan menebar nilai Islam berkemajuan di segala lini.
Lebih lanjut, Dr. Mulyani mengingatkan bahwa kader Muhammadiyah adalah penerus dan penggerak roda organisasi, yang kelak akan menggantikan tongkat estafet kepemimpinan.
“Maka jangan tunggu nanti! Persiapkan dirimu sejak sekarang. Kembangkan kapasitas sesuai passion, dan bangun personal branding sejak kuliah,” tutupnya.
Sebagai penutup, peserta diajak untuk berdiskusi dan merumuskan langkah-langkah strategis selama satu semester ke depan sebagai mahasiswa penerima beasiswa kader.
Diskusi ini diharapkan dapat menjadi wadah refleksi sekaligus perencanaan bersama agar setiap penerima beasiswa tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu menunjukkan komitmen, kontribusi, dan keteladanan sebagai kader unggul yang siap berperan aktif dalam dakwah, pengabdian, dan pembangunan masyarakat.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments