Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kajian Ahad Pagi PCM Menganti Ajak Jamaah Mengaplikasikan Salat dalam Kehidupan Sehari-hari

Iklan Landscape Smamda
Kajian Ahad Pagi PCM Menganti Ajak Jamaah Mengaplikasikan Salat dalam Kehidupan Sehari-hari
Kajian Ahad Pagi PCM Menganti. Foto: Muhammad Zuhair Ujab/PWMU.CO.
pwmu.co -

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti, Kabupaten Gresik kembali menghadirkan ruang pencerahan melalui Kajian Ahad Pagi bertema “Isra Mi’raj: Mengaplikasikan Ibadah Salat dalam Kehidupan Sehari-hari”, pada Ahad (11/1/2026).

Kegiatan ini berlangsung khidmat di halaman Masjid Al Ishlah, yang terletak di kompleks SD Muhammadiyah Menganti.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, ustaz Toha Mahsun, M.Pd., tampil sebagai penceramah utama. Dalam penyampaiannya, ia menguraikan ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual dan reflektif.

Kajian yang dimulai pukul 06.00 WIB dan berakhir pada 07.30 WIB tersebut diikuti ratusan jamaah dari berbagai ranting serta simpatisan Muhammadiyah se-Kecamatan Menganti. Suasana hangat, khidmat, dan semangat keilmuan terasa sejak awal hingga akhir kegiatan.

Dalam pemaparannya, Ustaz Toha membagi kajian ke dalam beberapa subpembahasan penting yang relevan dengan kondisi umat Islam saat ini. Salah satunya adalah tentang makna syukur.

Syukur dimaknai sebagai rasa terima kasih dan pengakuan yang tulus kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dianugerahkan. Syukur tidak cukup diungkapkan melalui lisan semata, tetapi harus diwujudkan dengan hati, perkataan, serta tindakan nyata.

Bentuk nyata dari syukur adalah menggunakan setiap nikmat yang diberikan Allah SWT di jalan yang diridai-Nya, sebagai wujud ibadah dan kesadaran akan kebesaran-Nya.

“Lantas, apa yang seharusnya dilakukan seorang hamba ketika menyadari betapa banyak nikmat Allah SWT yang telah diterimanya?,” tanyanya kepada jamaah.

Ia menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kautsar:

Faṣalli lirabbika wanḥar

Artinya: Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.

Ayat ini mengajarkan bahwa wujud syukur yang pertama adalah salat. Salat merupakan ekspresi syukur secara fisik dan spiritual kepada Allah SWT. Karena itu, salat tidak boleh ditinggalkan. Namun, pada kenyataannya, menumbuhkan dan membangkitkan kesadaran untuk melaksanakan salat bukanlah perkara yang mudah.

“Sebagai contoh, Program Salat Zuhur Berjamaah di SMA Muhammadiyah 1 Gresik menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya salat,” ujarnya.

Membangun kebiasaan salat, menurutnya, membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan konsistensi.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa makna “wanḥar” dalam tafsir juga dipahami sebagai bersedekah atau berkurban sebagai wujud kesalehan sosial. Ketika Allah SWT menganugerahkan tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, dan rezeki yang cukup, maka rasa syukur atas nikmat tersebut diwujudkan dengan berbagi kepada sesama.

Insyaallah, ketika salat diperbaiki, Allah akan memudahkan terbukanya pintu sedekah,” tuturnya.

Allah SWT juga berfirman:

Inna syāni’aka huwal abtar

Artinya: Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bagi Ustaz Toha Mahsun, ayat ini mengajarkan bahwa amal saleh yang kita lakukan baik spiritual maupun sosial akan terus mengalir manfaatnya. Contohnya adalah strategi pembangunan gedung sosial Lazismu, dengan konsep lantai atas sebagai musala dan lantai bawah sebagai kantor layanan sosial. Ini merupakan bentuk kesalehan nyata di lingkungan masyarakat.

“Sering kali manusia melupakan kesalehan sosialnya, padahal sejak awal telah diajarkan untuk menegakkan salat dan memperbanyak zikir. Melalui salat, kerohanian dan kedekatan kita dengan Allah SWT berada pada titik yang sangat tinggi. Kedekatan tersebut tidak seharusnya terputus ketika kita kembali ke kehidupan sosial, melainkan harus terus dibawa dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Allah memiliki Asmaul Husna, di antaranya Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) serta Ar-Rahman dan Ar-Rahim (Maha Pengasih dan Penyayang). Ketika kita dekat dengan Allah, maka nilai-nilai kasih sayang itu harus tercermin dalam hubungan kita dengan lingkungan sekitar. Inilah yang disebut kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

“Dalam kehidupan sehari-hari, hati kita perlu ditata. Hati harus memiliki ruang untuk bersabar ketika dimarahi, ruang untuk memahami ketika disakiti, dan ruang untuk berbagi dengan sesama. Jangan sampai hati kita sempit, dimarahi sedikit langsung marah, dinasihati sedikit langsung kesal,” sambungnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pada momen yang mulia ini, marilah kita mengoreksi kembali kesalehan kita, baik secara spiritual maupun sosial.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7: Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

“Syukur dan kufur tidak dapat disandingkan. Ketika seseorang tidak bersyukur, melihat keberhasilan saudaranya tidak terima dan melihat rezeki temannya justru merasa iri, maka hidupnya akan menjadi sempit dan dipenuhi kegelisahan,” imbuhnya.

Menurutnya, nilai spiritual harus senantiasa disandingkan dengan nilai sosial melalui penataan salat karena dari sanalah kualitas kehidupan bermula.

Ia juga menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengisahkan seorang wanita yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan, serta kisah seorang wanita yang diazab karena mengurung kucing hingga mati kelaparan.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk Allah.

Imam Al-Ghazali mengajarkan, ketika kita melihat orang yang lebih tua, hendaknya kita berdoa:

“Ya Allah, mereka lebih dahulu beribadah dan memiliki amal yang lebih banyak dariku.”

Ketika melihat yang lebih muda:

“Ya Allah, dosanya lebih sedikit dariku.”

“Inilah efek positif dari kesalehan hati, yang melahirkan sikap rendah hati dan penuh kasih sayang,” terangnya.

Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk terus meningkatkan keimanan kepada Allah SWT agar kesalehan spiritual dan kesalehan sosial kita semakin kuat. Dengan demikian, hidup akan menjadi lebih bermakna, bermanfaat, dan diridai oleh Allah SWT. Kajian kemudian ditutup dengan doa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu