Kajian hadis di Masjid At-Taqwa Setail, Genteng, Banyuwangi, pada Sabtu (6/12/2025) mengupas Islam sebagai agama ketulusan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taufiqur Rohman, M.Pd.I., yang hadir sebagai penceramah dalam pengajian tersebut.
Kajian di Masjid At-Taqwa Setail yang berlokasi di Jalan Samiran ini merupakan kegiatan rutin yang secara konsisten diselenggarakan oleh takmir masjid.
Kajian dimulai setelah pelaksanaan salat Magrib berjamaah dan diikuti oleh jamaah setempat, serta warga Muhammadiyah Ranting Setail, baik laki-laki maupun perempuan.
Di awal kajian, ia mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan untuk tetap istikamah mengikuti kegiatan tersebut.
“Yang berat itu istikamah. Semoga dengan pengajian ini kita senantiasa memperoleh hidayah Allah sehingga perjalanan hidup kita menjadi lebih terarah,” ujarnya.
Kemudian, ia membacakan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Ruqaiyyah Tamim bin Aus ad-Dari RA. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ketulusan.
Namun, makna ketulusan dalam hadis tersebut masih bersifat umum. Karena itu, lafal hadis berikutnya hadir sebagai penjelas yang merinci makna ketulusan tersebut, antara lain:
1. Ketulusan untuk Allah. Artinya seorang muslim hendaknya memiliki ketulusan dalam mengakui Allah sebagai Tuhan-nya. Serta tulus dalam beribadah kepada-Nya.
“Tidak boleh ragu, apalagi melakukan kesyirikan kepada Allah,” tandasnya.
2. Ketulusan kepada kitab. Setelah memiliki ketulusan dalam keyakinan dan ibadah, seorang Muslim juga harus menjadikan Al-Qur’an, kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril AS sebagai pedoman dalam meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
3. Ketulusan untuk rasul. Hal ini menegaskan bahwa seorang muslim benar-benar tulus menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan dalam hidupnya. Sebagaimana ditegaskan oleh al-Quran dalam Surat Al-Ahzab 21.
“Sungguh, pada diri Nabi Muhammad terdapat teladan yang baik bagi siapa pun yang mengharap perjumpaan dengan Allah, hari akhir, serta senantiasa mengingat-Nya,” ucapnya.
4. Ketulusan untuk pemimpin kaum muslimin. Pemimpin yang dimaksud adalah ulama dan umara. Keduanya harus ditaati sebagai ulil amri (penguasa) yang mengajak kepada kebenaran dan keadilan dalam kehidupan ini. Namun, apabila penguasa menyeru kepada kemaksiatan atau keluar dari kebenaran, maka tidak wajib ditaati.
5. Ketulusan untuk umat secara umum. Seorang muslim tidak boleh bersikap antipati terhadap kondisi umat dan masyarakat, apalagi ketika menyaksikan kemungkaran di hadapannya. Hendaknya ia memiliki ketulusan dan kepedulian untuk turut mengubah keburukan tersebut. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments