
PWMU.CO – Kajian hadits di Masjid At-Taqwa Setail, Genteng, Banyuwangi, membahas tentang Rukun Iman, Sabtu (10/5/2025). Kajian ini disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taufiqur Rohman MPdI.
Kegiatan ini berlangsung di Masjid At-Taqwa yang beralamat di Jalan Samiran, Setail, Genteng. Pengajian diikuti oleh jamaah masjid setempat serta warga Muhammadiyah Ranting Setail.
Di awal kajian, Taufiqur Rohman mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah Swt. Atas limpahan karunia-Nya, jamaah masih diberi kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu.
“Semoga dengan pengajian ini dapat menambah keimanan kita kepada Allah,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Taufiqur membacakan hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Umar bin Khattab Ra. Dalam hadits tersebut, diceritakan bahwa suatu ketika Nabi tengah berdiskusi dengan para sahabat. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tidak dikenal, yang ternyata adalah Malaikat Jibril As.
Malaikat Jibril datang untuk bertanya kepada Nabi, “Apa yang dimaksud dengan iman?” Nabi pun menjawab dengan menyebutkan enam hal yang kemudian dikenal sebagai Rukun Iman: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, nabi dan rasul, hari akhir, serta iman kepada qadha dan qadar.
Dalam penjelasannya, Taufiqur menekankan pentingnya memahami makna beriman kepada Allah. Ia mengatakan, iman tidak cukup hanya dengan membenarkan, namun juga harus disertai dengan penerimaan sepenuh hati.
Sebagai contoh, ia menyebut kisah Abu Thalib, paman Nabi. Meskipun membenarkan kebenaran risalah Nabi Muhammad Saw, Abu Thalib tidak mau menerima ajaran Islam.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa seorang muslim wajib meyakini keberadaan Allah, meskipun keberadaan-Nya bersifat ghaib dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Selain itu, seorang muslim harus mengimani keesaan Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, serta mengakui-Nya sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta.
“Di samping itu, seorang muslim wajib beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia,” tegasnya.
Kajian yang berlangsung sekitar 45 menit itu berjalan dengan khidmat, kemudian dilanjutkan dengan shalat Isya berjamaah. (*)
Penulis Ghulam Bana Islama Editor Wildan Nanda Rahmatullah





0 Tanggapan
Empty Comments