
PWMU.CO – Kajian Masjid At-Taqwa Pandan membahas dua kedhaliman disampaikan oleh Mudir Pondok Muhammadiyah Boarding School Al-Hikmah Jajag Gambiran Banyuwangi, Arif Maeshawl Nur Jagad SPd, Rabu (5/6/2024).
Kajian rutin Rabu Malam Kamis yang bertempat di Masjid At-Taqwa Pandan Genteng itu nampak ramai dikunjungi jamaah laki-laki dan perempuan. Sebelumnya mereka melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Kajian dimulai setelah shalat Maghrib.
Mengawali kajiannya Arif Maeshawl Nur Jagad mengajak jamaah untuk bersyukur karena bisa bertemu dalam pengajian ini. Berikutnya dia juga mengajak jamaah untuk berhati-hati terhadap gadget yang semakin marak.
“Jangan sampai bapak dan ibu acuh terhadap hp yang dipegang anak. Di samping positif juga ada mudharatnya. Kita mesti berhati-hati. Ini juga tantangan kita di akhir zaman ini,” ujarnya.
Memasuki inti kajian, ustad yang datang bersama tujuh orang santrinya itu memperkenalkan kitab yang dibawanya. Yaitu kitab Nashaihul Ibad karya Syaikh Imam Nawawi Al Bantani. Kitab ini terdiri 214 perkataan atau nasehat para sahabat dan ulama. Serta 45 hadits Nabi Muhammad SAW.
Dalam kajian ini dia membacakan hadist Qudsi tentang dua kedhaliman dari sahabat Abu Dzar Al Ghifari RA. Sebelum menguraikan lebih lanjut, dia menjelaskan secara singkat sejarah Abu Dzar Al Ghifari. Salah satu sahabat nabi yang termasuk asabiqunal awalun (generasi awal) yang mengajak dakwah nabi secara terang-terangan. Meskipun saat itu menurut nabi belum waktunya dakwah terbuka.
Dalam hadits tersebut dijelaskan ada dua kedhaliman yang dilakukan manusia. Yakni, dhalim kepada Allah dan dhalim kepada anak Adam atau sesama manusia.
Kata dhalim, sambungnya, memiliki arti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan kedhaliman terbesar dalam hidup ini adalah menuhankan selain Allah atau syirik, katanya sambil mengutip ayat al-Quran Surat Luqman 13.
Di antara perbuatan syirik adalah menyembah berhala, menyembah pohon, dan menanam kepala kerbau saat membangun rumah dengan alasan biar selamat.
Nabi Muhammad Saw pernah menggambar satu garis lurus dan dua garis lagi di kanan-kirinya. Garis lurus menyiratkan tauhid. Dan dua garis lainnya merupakan ilustrasi ajakan setan yang mengajak manusia untuk menyimpang dari tauhid. Yang kanan bisa terlalu ekstrim. Kalau bukan golongannya dianggap salah. Dan yang kiri menyelisihi ajaran Islam.
Untuk terhindar dari kedhaliman terbesar itu, maka seseorang dianjurkan untuk selalu beristighfar dan taubat kepada Allah. Nabi memberi teladan dengan 70 sampai seratus kali beristighfar dalam setiap harinya.
Sedangkan untuk menghindari kedhaliman terhadap sesama manusia, maka kuncinya tidak lain dengan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan.
“Lalu, bagaimana jika yang didhalimi sudah meninggal gimana?” tanyanya retoris.
Jika yang pernah dhalimi itu sudah meninggal dunia dan belum sempat meminta maaf, maka carilah ahli warisnya untuk minta maaf dan kembalikan hartanya, jika berbuat dhalim terhadap hartanya.
Mengakhiri ceramahnya Arif Maeshawl Nur Jagad berharap kepada jamaah agar berusaha menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk, sebagaimana di jelaskan dalam al-Quran Surat an-Nisa 69.
“Seperti para nabi, shadiqin, syuhada, dan shalihin,” harapnya. (*)
Penulis Taufiqur Rohman. Editor Ichwan Arif.





0 Tanggapan
Empty Comments