
PWMU.CO – Kajian Masjid At-Taqwa Pandan membahas pentingnya keikhlasan dalam beramal, Rabu (25/4/2025). Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sempu, Moh Firman MPdI, saat mengisi pengajian di Masjid At-Taqwa Jalan Raya Pandan, Genteng, Banyuwangi. Pengajian ini diikuti oleh jamaah masjid setempat dan warga Muhammadiyah Ranting Kembiritan.
Di awal ceramahnya, Ketua PCM Sempu itu mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT.
“Marilah kita bersama-sama mengucapkan alhamdulillah. Karena sampai detik ini, Allah masih mencurahkan rahmat-Nya kepada kita,” ujarnya.
Menurutnya, di samping nikmat sehat dan umur panjang, yang tidak kalah penting adalah nikmat iman dan Islam, sehingga dapat merasa ringan untuk melangkahkan kaki dari rumah ke masjid guna melaksanakan salat dan taklim ini.
Pada kajian kali ini, diusung tema amalan manusia seperti debu yang berterbangan. Ustadz asal Sempu itu menyampaikan bahwa amal saleh manusia bisa menjadi sebab seseorang masuk surga ketika amal tersebut dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa manusia tidak masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Hal inilah yang menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan dalam beramal saleh.
“Thalabul ilmi (menuntut ilmu) dan salat berjamaah akan menjadi jaminan masuk surga, apabila kedua amalan tersebut mendapat rahmat Allah,” ulasnya.
Amalan Manusia
Selanjutnya, Moh Firman membacakan ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Furqan ayat 23 yang menjelaskan amalan manusia seperti debu yang berterbangan.
Manusia beramal, tetapi merasa takjub dan bangga diri. Amalan yang seperti itu akan seperti debu berterbangan tanpa bekas. Oleh karena itu, beramal harus ikhlas dan tidak didasari dengan rasa takjub serta berbangga diri.
Sementara itu, dampak amalan yang didasari oleh takjub tidak mampu mengantarkan pelakunya ke surga. Takjub merupakan penyakit berbahaya karena kurangnya rasa ikhlas ketika melaksanakan ibadah, merusak amal, dan membawa pelakunya pada kesombongan.
Ada beragam jenis perilaku takjub atau ujub, antara lain ujub terhadap amal ibadah, ujub terhadap ilmu pengetahuan, dan ujub terhadap keturunan atau status keluarga.
Oleh karena itu, Moh Firman mengajak jamaah untuk mengikhlaskan diri dalam beribadah. Ikhlas adalah racun ujub dan dapat membasmi ujub. Seorang muslim perlu menata niat amal ibadahnya terlebih dahulu agar tidak salah niat, melainkan ikhlas.
“Perlu tafakur dan muhasabah terhadap amalannya jika ada unsur riya. Segera istigfar serta tobat kepada Allah,” ajaknya.
Selain itu, meremehkan dosa kecil juga dapat menjadikan amalan manusia seperti debu yang berterbangan. Karena jika dibiarkan, akan bertumpuk menjadi besar. Seperti menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya, menyakiti orang lain, dan menyia-nyiakan makanan.
Pelaksanaan pengajian berlangsung khidmat dan diakhiri dengan membaca hamdalah. Kemudian dilanjutkan dengan salat Isya berjamaah. Setelah itu, jamaah beramah-tamah sambil menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh takmir masjid.
Penulis Taufiqur Rohman Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments