Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era modern mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai inovasi terus bermunculan dan semakin memudahkan kehidupan manusia. Bahkan, secara data, generasi saat ini kerap disebut sebagai generasi paling “manja” dalam sejarah—segala kebutuhan dapat dipenuhi hanya dengan satu klik, dan berbagai tujuan dapat dicapai dengan sentuhan jari.
Namun, di balik kemudahan tersebut, tidak sedikit manusia justru merasakan kehampaan jiwa dan batin. Pencarian terhadap kenikmatan semu kerap menjauhkan manusia dari esensi kebahagiaan yang hakiki.
Fenomena tersebut menjadi latar pembahasan dalam Kajian Matahari Bersinar Vol. 4 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Universitas Negeri Malang (UM) yang diselenggarakan di Masjid Imam Bukhari, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang. Kajian ini dihadiri oleh anggota PRM UM serta kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UM, pada Sabtu (7/2/2025).
Kajian tersebut disampaikan oleh Muhammad Atiq Noviudin Pritama, M.Pd., dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga UM, yang membedah tema “Dua Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat”, yaitu muhasabah dan pengendalian diri.
Pentingnya Muhasabah
Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Ovi itu mengawali kajian dengan mengutip QS Al-Hasyr ayat 18, yang menegaskan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Ia menjelaskan bahwa muhasabah mencakup empat aspek utama.
Pertama, muhasabah terhadap hal-hal yang wajib, yakni upaya mengamalkan rukun iman dan rukun Islam secara konsisten, baik dalam tanggung jawab pribadi (fardhu ‘ain) maupun tanggung jawab kolektif (fardhu kifayah).
Kedua, muhasabah terhadap hal-hal yang haram, yang bertujuan untuk meraih rida Allah SWT, membangun ketenangan hati, serta menjadi pelindung dari kerusakan dan azab Allah, baik bagi individu maupun masyarakat.
Ketiga, muhasabah terhadap kealpaan. Menurutnya, manusia diciptakan dengan sifat lemah dan mudah lupa. Ketika ketaatan hanya didasarkan pada hawa nafsu, manusia akan mudah menyimpang dari tujuan hidup yang utama, sehingga menjauh dari kebahagiaan sejati.
Keempat, muhasabah terhadap niat. Niat merupakan penentu nilai amal di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, pembaruan niat perlu dilakukan sebelum, saat, maupun setelah beraktivitas agar setiap amal bernilai ibadah dan mendapat ganjaran yang sempurna.
Pengendalian Diri
Selanjutnya, Ovi menjelaskan QS Al-Hujurat ayat 12 yang berkaitan dengan pentingnya pengendalian diri. Ia menegaskan bahwa terdapat tiga hal utama yang harus dikendalikan oleh manusia, yaitu dosa, harta, dan tujuan hidup.
Dalam konteks ber-Muhammadiyah, ia menekankan tiga prinsip utama, yakni muraqabah (merasa diawasi Allah), muhasabah (introspeksi diri), dan mujahadah (bersungguh-sungguh dalam kebaikan).
Menjawab pertanyaan mengenai standar kebahagiaan, ia menyampaikan bahwa kebahagiaan sejatinya mengikuti persangkaan, niat, dan prinsip hidup masing-masing individu. Tingkatan kebahagiaan setiap orang berbeda-beda, seiring dengan banyaknya keinginan dan ekspektasi dalam menjalani kehidupan.
Ia juga mengingatkan bahwa nikmat Allah Swt. tidak akan pernah mampu dihitung oleh manusia.
“Kalkulator Allah SWT sangat berbeda dengan kalkulator manusia,” ujarnya.
Ia mencontohkan hadis riwayat Imam Bukhari r.a., bahwa niat baik yang belum diwujudkan sudah dicatat sebagai satu pahala, dan ketika diwujudkan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga ratusan pahala. Sebaliknya, niat buruk yang tidak dilakukan karena mengingat Allah justru dicatat sebagai satu kebaikan, sedangkan keburukan yang terlanjur dilakukan hanya dicatat sebagai satu dosa.
Menurutnya, untuk mengatasi kecemasan dan perasaan selalu merasa kurang, terdapat dua fokus utama yang perlu diprioritaskan, yakni kemampuan untuk senantiasa bermuhasabah serta upaya sungguh-sungguh dalam pengendalian diri agar tidak melampaui aturan Allah SWT.
Melalui muhasabah, manusia diajak untuk menyadari hakikat dirinya sebagai hamba, mengingat kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Sementara itu, pengendalian diri melatih manusia agar tidak selalu menuruti hawa nafsu, mampu berpikir rasional, serta mempertimbangkan dampak dari setiap perbuatan. Dengan demikian, manusia dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diridai Allah SWT.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bersumber dari hati. Dan Allah SWT adalah sebaik-baik pencipta, pemilik, serta penguasa hati seluruh hamba-Nya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments